PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyambut perayaan hari ulang tahun ke-69 dengan menggelar BCA Expoversary 2026, yang sekaligus menegaskan kontribusi sosial perusahaan melalui area Bakti BCA sebagai wujud komitmen pemberdayaan masyarakat dan lingkungan.
“Program ini dijalankan dengan pendekatan corporate shared value yang menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia, komunitas, hingga ekosistem ekonomi yang berkelanjutan,” terang EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, di ICE BSD, Tangerang, Jumat (6/2).
Hera menuturkan, BCA membagi perjalanan Bakti BCA ke dalam tiga tahapan utama, yakni pemberdayaan individu, penguatan komunitas, dan pembentukan ekosistem. Ketiga tahapan tersebut dijalankan melalui lima pilar utama yang meliputi bakti pendidikan, bakti kesehatan, pengembangan komunitas dan desa wisata, bakti lingkungan, serta bakti budaya dan sinergi.
Salah satu pelaku ekonomi kreatif berbasis budaya yang tampil di Desa booth Bakti BCA adalah Diana, penenun wastra asal Sumba Timur. Ia memamerkan berbagai karya tenun yang dikreasikan menjadi pakaian modis, termasuk syal pashmina yang dibuat dengan teknik tradisional dan pewarna alami, di booth Wastra Warna Alam.
“Warna merah ini dari akar mengkudu. Untuk satu syal, harga jualnya sekitar Rp1,5 juta,” ujar Diana di booth Wastra Warna Alam, Jumat (6/2) kepada Katadata.co.id.
Diana mengatakan, butuh ketekunan dan kesabaran dalam proses pembuatan satu lembar kain tenun Sumba. Terdapat 42 tahapan yang harus dilalui, mulai dari pengolahan benang, pewarnaan alami, hingga proses menenun. Seluruh rangkaian tersebut memakan waktu hingga tiga bulan, dengan tahap menenun sekitar satu minggu.Hal itulah yang membuat harga jual per kainnya cukup tinggi.
Untuk memperkuat warna, penenun Sumba memanfaatkan bahan alami seperti akar mengkudu, kemiri dan loba. Menurut Diana, penggunaan pewarna alam bukan hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menghasilkan kain yang tidak mudah luntur.
Melalui Bakti BCA, Diana dan sekitar 50 penenun lainnya mendapatkan pelatihan pewarna alam, manajemen keuangan, hingga pendampingan kelembagaan. Kelompok penenun tersebut kini telah tergabung dalam koperasi berbadan hukum.
“Kami juga dibimbing cara memasarkan kain tenun. Sekarang saya mewakili teman-teman datang ke Jakarta untuk melihat langsung bagaimana konsumen membeli kain tenun,” kata Diana.
Keikutsertaan dalam BCA Expoversary memberi pengalaman baru bagi para penenun untuk memahami preferensi pasar, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri dalam mempromosikan produk berbasis budaya lokal.
Inklusi Disabilitas Lewat Pelatihan MUAProgram Bakti BCA juga menjangkau kelompok disabilitas melalui pilar Bakti Pendidikan. Yohana, seorang teman tuli yang berprofesi sebagai makeup artist (MUA), mengaku telah mengikuti pelatihan MUA Bakti BCA sejak 2024. Kini, Yohana juga mengembangkan keahliannya menjadi seorang nail artist.
“Saya senang bisa ikut BCA Expoversary dan pertama kali ikut nail art di acara ini,” ujar Yohana melalui bahasa isyarat.
Pelatihan ini membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk memperoleh keterampilan profesional dan akses pasar yang lebih luas di sektor jasa kreatif.
Sementara itu, di sektor pariwisata perkotaan, Bakti BCA turut mendukung pengelolaan Desa Wisata Pecinan Glodok, Jakarta. Chris Tenson, pengelola sekaligus pemandu wisata di kawasan tersebut, mengaku senang mendapatkan pendampingan Bakti BCA yang telah berjalan selama tiga tahun.
“Dengan dukungan BCA, kami mendapat pendanaan, koneksi, dan legitimasi. Sekarang kami tidak lagi sekadar komunitas, tapi sudah seperti agensi wisata,” ujar Chris.
Chris menerangkan, Bakti BCA memberikan pelatihan pemandu wisata, termasuk untuk menangani grup besar dan pelatihan media sosial. Dukungan tersebut memungkinkan Desa Wisata Pecinan Glodok untuk memperluas skala operasi dan menyelenggarakan berbagai kegiatan budaya, termasuk perayaan Imlek.
Paket wisata yang ditawarkan meliputi tur sejarah dan kuliner, dengan harga yang disesuaikan berdasarkan bahasa pemandu dan ukuran grup. Dalam satu pekan, aktivitas tur biasanya berlangsung secara rutin sesuai permintaan wisatawan.
Akses Pasar dan Dampak EkonomiSelain pendampingan, BCA menempatkan perluasan akses pasar sebagai strategi utama. UMKM dan desa binaan diberikan ruang untuk memamerkan dan menjual produk mereka di berbagai acara korporat, termasuk BCA Expoversary.
Dari sisi pembiayaan, kredit UMKM menyumbang sekitar 25 persen dari total portofolio kredit BCA, dengan pertumbuhan di kisaran 7 persen. Sejalan dengan komitmen memperluas inklusi keuangan, BCA juga menyediakan insentif pembiayaan bagi UMKM yang dimiliki atau mempekerjakan mayoritas perempuan.
Ke depan, BCA menargetkan UMKM dan desa wisata binaan dapat berdikari secara ekonomi. Setelah dinilai mandiri, pendampingan akan dikurangi secara bertahap agar penerima manfaat mampu mereplikasi praktik baik di komunitas lain.



