Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mulai pekan ini tidak lagi menyajikan data terkait dengan aliran modal asing setiap pekannya. Bank sentral hanya akan melaporkan perkembangan kepemilikan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Untuk diketahui, setiap pekannya BI merilis laporan perkembangan nilai tukar rupiah, imbal hasil SBN serta surta utang pemerintah AS atau US Treasury (UST), sekaligus aliran modal asing.
Data aliran modal asing yang setiap pekan disajikan oleh BI biasanya mencakup aliran modal asing masuk atau keluar ke pasar SBN, saham maupun SRBI. Data mengenai credit default swap (CDS) juga ditampilkan.
Pada pekan ini, atau data terbaru pada Jumat (6/2/2026), BI menyebut pembaruan itu guna meningkatkan akuntabilitas dan reliabilitas data.
"Sebagai upaya meningkatkan akuntabilitas dan reliabilitas data, perkembangan aliran modal asing untuk saham dan SBN masing-masing dapat diakses melalui website Bursa Efek Indonesia dan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko – Kementerian Keuangan Indonesia," terang Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso melalui siaran pers di situs resmi BI, dikutip Minggu (8/2/2026).
Namun demikian, Ramdan menyampaikan bahwa kepemilikan SRBI masih bisa diakses melalui website bank sentral.
Baca Juga
- Pertaruhan Aliran Modal Asing Jika Saham Indonesia 'Turun Kasta' di MSCI
- Meneropong Prospek Aliran Modal Asing Usai Rebalancing Indeks MSCI
- Efek Samping Reshuffle Sri Mulyani Picu Aliran Modal Asing Keluar Pasar Saham RI
Adapun mengenai perkembangan nilai tukar, mata uang Garuda bergerak melemah ke level (bid) Rp16.850 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (6/2/2026) pagi. Sebelumnya, rupiah berada di level Rp16.825 per dolar AS, Kamis (5/2/2026).
Di sisi lain, imbal hasil atau yield SBN 10 tahun yang diterbitkan pemerintah naik Jumat lalu ke 6,37% dari 6,30% pada hari sebelumnya.
"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," terang Ramdan.
Adapun Bisnis telah meminta konfirmasi lebih lanjut atas perkembangan terbaru dari penyajian data BI itu kepada Ramdan melalui pesan singkat. Namun, belum ada respons yang diberikan sampai dengan berita ini ditayangkan.
Pada pekan sebelumnya, BI masih menyajikan data dimaksud. Pada pekan keempat Januari 2026, BI melaporkan terjadi capital outflow sebesar Rp12,55 triliun dari pasar keuangan Indonesia. Dari angka tersebut, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp12,4 triliun di pasar saham dan Rp2,77 triliun di pasar SBN, sedangkan beli neto Rp2,61 triliun di SRBI.
Selama 2026 atau year to date (YtD) sampai dengan 29 Januari 2026, nonresiden tercatat beli neto Rp4,84 triliun di pasar saham dan Rp6,18 triliun di SRBI, serta jual neto Rp10 miliar di pasar SBN.
Di sisi lain, premi credit default swap (CDS) 5 tahun per 29 Januari 2026 sebesar 75,31 basis poin (bps) atau naik dibandingkan pekan sebelumnya yakni 23 Januari 2026 73,05 bps. Premi CDS merujuk pada persepsi investor terhadap potensi gagal bayar utang pemerintah.



