Jakarta, CNBC Indonesia — Sejumlah penggemar K-pop di Indonesia melayangkan kritik terbuka kepada Hana Bank terkait dugaan pendanaan proyek tambang nikel yang masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara.
Sebanyak 12 basis penggemar K-pop Indonesia dilaporkan telah mengirimkan surat terbuka ke kantor pusat Hana Bank di Seoul, Korea Selatan, pada 2 Februari 2026. Mereka mendesak bank asal Korea itu menghentikan pembiayaan terhadap proyek tambang nikel berbasis batu bara, yang dinilai bertentangan dengan komitmen iklim Hana Financial Group.
Aksi tersebut dipicu oleh Deklarasi Penghentian Pembiayaan Batu Bara yang diumumkan Hana Financial Group pada 2021. Dalam deklarasi itu, grup keuangan tersebut berjanji tidak lagi mendanai proyek PLTU batu bara, baik di dalam maupun luar Korea Selatan. Namun, para penggemar menilai komitmen tersebut tidak dijalankan secara konsisten.
Hana Bank juga menjadi sorotan karena menggandeng sejumlah bintang K-pop sebagai duta merek. Strategi pemasaran ini dinilai berseberangan dengan praktik pendanaan yang masih mendukung industri berbasis energi fosil berskala besar di Indonesia.
Dalam surat terbuka tersebut, para penggemar menyebut Hana Bank telah menyalurkan pembiayaan kepada perusahaan tambang nikel di Pulau Obi yang mengoperasikan dan membangun PLTU batu bara untuk mendukung kegiatan industrinya. Kapasitas pembangkit disebut mencapai 1,6 gigawatt (GW) dan direncanakan terus bertambah.
Para penggemar menyoroti dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan. Mereka menyebut Pulau Obi mengalami degradasi lingkungan serius, termasuk kesulitan akses air bersih bagi masyarakat, sementara aktivitas industri terus berkembang dengan dukungan pembiayaan internasional.
Selain itu, proyek tambang nikel tersebut diperkirakan menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar. Sejumlah lembaga riset energi menyebut, jika ekspansi industri berjalan sesuai rencana, emisi dapat meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan, sehingga dinilai bertentangan dengan upaya transisi energi dan target iklim global.
Dalam tuntutannya, para penggemar mendesak Hana Bank untuk:
- Menghentikan pembiayaan kepada tambang nikel yang masih bergantung pada PLTU batu bara baru.
- Mengecualikan investasi pada perusahaan yang memperluas bisnis berbasis batu bara.
- Memperkuat kebijakan pendanaan iklim agar selaras dengan komitmen keberlanjutan.
Kritik ini juga diarahkan pada posisi Hana Bank yang memiliki basis nasabah muda di Indonesia melalui layanan perbankan digital dan kolaborasi dengan figur publik populer. Para penggemar menilai reputasi global dan dukungan generasi muda seharusnya diiringi dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial yang nyata.
Para penggerak kampanye menegaskan aksi akan terus berlanjut hingga Hana Bank menghentikan pembiayaan tambang nikel berbasis batu bara dan menetapkan kebijakan investasi yang lebih ketat terhadap proyek PLTU batu bara baru.
(mkh/mkh)


