GenPI.co - Iran dan Amerika Serikat kembali membuka jalur diplomasi dengan menggelar perundingan terkait nuklir di Oman.
Dilansir AFP, Sabtu (7/2), Iran ingin agar perundingan difokuskan sepenuhnya pada program nuklir, sementara AS mengajukan tuntutan yang lebih luas.
AS mengatakan pembicaraan tidak hanya mencakup program nuklir, tetapi juga program rudal Iran dan dukungannya terhadap kelompok militan di Timur Tengah.
Kedua negara yang telah lama bermusuhan ini sebelumnya mengadakan beberapa putaran dialog nuklir yang dimediasi Oman sepanjang 2025.
Namun, diplomasi sempat terhenti akibat perang Iran-Israel yang memicu serangan AS terhadap sejumlah fasilitas nuklir Iran.
Negara-negara Barat dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan bom nuklir. Tuduhan ini secara konsisten dibantah Iran.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melaporkan bahwa Iran telah memperkaya uranium hingga 60 persen.
Angka itu jauh melampaui batas 3,67 persen yang ditetapkan dalam perjanjian nuklir 2015, kesepakatan yang kini tidak lagi berlaku.
Keberadaan cadangan uranium Iran yang sangat diperkaya, diperkirakan lebih dari 400 kilogram, hingga kini masih belum jelas pasca-pemboman AS tahun lalu.
Cadangan tersebut terakhir kali diperiksa inspektur IAEA pada 10 Juni 2025.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ali Shamkhani mengatakan material tersebut masih tertimbun reruntuhan fasilitas yang dibom.
Menurut dia, pengangkatan belum dilakukan karena alasan keselamatan.
"Iran saat ini tengah berdiskusi dengan IAEA untuk mencari solusi yang aman," katanya.
Shamkhani menyebut Iran tidak memiliki rencana untuk mempersenjatai program nuklir.
Dia mengatakan Teheran bersedia menurunkan tingkat pengayaan dari 60 persen ke sekitar 20 persen, asalkan ada imbalan berupa pencabutan sanksi. (*)
Simak video berikut ini:



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5496237/original/053627800_1770515530-Prabowo_Haji.jpeg)
