Sosok Gang of Four Penguasa Ekonomi RI sebelum Sembilan Naga

cnbcindonesia.com
12 jam lalu
Cover Berita
Foto: Liem Sioe Liong atau dikenal dengan nama Indonesia Sudono Salim, adalah seorang pengusaha Indonesia. (Dok. Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Istilah "9 naga" kini kerap digunakan untuk menggambarkan sembilan pengusaha yang disebut-sebut memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian Indonesia. Namun jauh sebelum istilah itu populer, pada era Orde Baru dikenal kelompok pengusaha yang dijuluki "Gang of Four" atau "Empat Sekawan", yang kala itu dianggap memegang kendali penting dalam roda ekonomi nasional.

Sebutan "Gang of Four" berawal dari pertemuan empat tokoh bisnis, yakni Sudono Salim, Sudwikatmono, Ibrahim Risjad, dan Djuhar Sutanto, sekitar tahun 1968. Sebelumnya, mereka tidak saling mengenal dan menjalani aktivitas masing-masing. Salim dan Djuhar menekuni dunia perdagangan, sementara Sudwikatmono, yang akrab disapa Dwi, serta Risjad bekerja sebagai pegawai di perusahaan. Pertemuan keempatnya terjadi secara tidak direncanakan.


Baca: Raja Gula Dunia dari RI, Bisnis Runtuh dalam Semalam

Pertemuan Salim & Sudwikatmono

Cerita bermula dari pertemuan Salim dan Sudwikatmono. Sejak tahun 1960, Salim sudah dikenal sebagai pengusaha ulung. Bisnisnya bergerak di sektor manufaktur dan ekspor-impor. Sekali waktu di tahun 1963, Salim yang memang dekat dengan Soeharto, dipanggil ke kediaman Jenderal itu di Menteng. Kebetulan, Dwi sedang piket menjaga rumah Soeharto yang kebetulan masih sepupunya.

Dwi, sebagaimana dipaparkan Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong's Salim Group (2014), melihat Salim berbincang dengan saudaranya itu selama satu jam. Saat hendak pulang, Salim tiba-tiba meminta Dwi datang ke kantornya di Jl. Asemka esok hari.

"Keesokan harinya, saya bertemu dengan Om Liem. Dia meminta saya untuk bergabung dalam bisnisnya karena Pak Harto telah mengusulkan nama saya. Saya ditawari gaji bulanan Rp1 juta dan saham di perusahaan," tutur Dwi kepada Richard Borsuk dan Nancy Chng.

Baca: Masuk Lingkaran Istana, Calon Wamen Ini Ternyata Mata-Mata Israel

Dwi terkejut. Dia jelas bak tertimpa durian runtuh karena tidak pernah mendapat uang sebanyak itu. Sebelumnya, ia hanya pegawai biasa dengan gaji Rp400 rupiah. Jelas, dia menerimanya. Belakangan, Pak Harto memaparkan kalau alasan penunjukan itu karena Salim belum jadi orang Indonesia. Akibatnya, dia susah mendapat pinjaman. Maka, untuk mengatasi ini Soeharto menunjuk Dwi sebagai jaminan.

Dwi tak bisa menolak. Alhasil, dia menerima permintaan dan masuk ke dalam perusahaan milik yayasan Soeharto, PT. Hanurata, dalam bentuk saham 10%. Sejak saat itu, hubungan Salim-Dwi semakin erat.

Tercipta 'Gang of Four'

Pada tahun 1966, ada perusahaan bernama Kongsi Bintang Lima yang dekat dengan militer. Karena bersentuhan dengan militer, maka sudah pasti Soeharto terlibat. Singkat cerita, Bintang Lima mengalami pecah kongsi. Seorang taipan bernama Djuhar Sutanto yang memiliki peran penting di perusahaan diperkenalkan ke Salim oleh Soeharto. Keduanya cocok dan memiliki pandangan sama dalam bisnis.

Dua tahun kemudian, Salim dan Dwi bertemu dengan Djuhar. Kemudian, Djuhar dan Liem mengambil alih CV Waringin dan mengubahnya menjadi Perseroan Terbatas. Saat itu, kedua taipan itu belum jadi warga negara Indonesia. Jadi, untuk urusan administrasi, keduanya menggunakan nama Sudwikatmono dan pegawai Waringin, bernama Ibrahim Risjad. Dari sinilah awal mula 'Gang of Four' terbentuk. Kegiatan utama Waringin adalah perdagangan kopi dan produk primer serta memproduksi karet remah di Sumatra

Ketika Liem dan Djuhar sudah menjadi WNI dan Soeharto resmi jadi presiden, bisnisnya semakin tancap gas. Mulanya mereka berbisnis tepung melalui PT. Bogasari. Lalu, keempatnya kemudian tergabung dalam Salim Group dan menduduki jabatan penting. Mereka terlibat dalam pendirian Indocement, Indomilk, Indofood, Indomobil, dan Indomaret. Sektor-sektor bisnis di perusahaan ini kemudian menguasai pasar Indonesia. Karena dibekingi Soeharto, bisnisnya pun semakin jaya. Masing-masing dari mereka pun kemudian mendirikan gurita bisnisnya tersendiri, tanpa melupakan bisnis intinya di Salim Group.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Prabowo Percepat Transisi Energi, Angkutan LNG Dorong Ekspansi

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Michael Carrick Langsung Dihantam 2 Kabar Buruk usai Manchester United Menang Empat Kali Beruntun di Liga Inggris
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Istighfar, Wangsit, dan Otak yang Terlupakan
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Longsor Terjang Watukumpul Pemalang, 1 Orang Tewas Tertimbun
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Media X Space Menempati Ruang Publik Untuk Desain dan Seni Asia
• 4 jam lalumediaapakabar.com
thumb
AS Tuduh China Gelar Uji Coba Nuklir Rahasia
• 16 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.