Kolaborasi Riset Berdampak Libatkan Lintas Institusi dan Disiplin Ilmu  

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Kolaborasi riset lintas ilmu dan disiplin dari perguruan tinggi, peneliti, industri, dan pemerintah daerah menjadi prasyarat utama membangun riset berkelanjutan. Untuk itu pemerintah menerapkan skema community science and technology agar riset dan inovasi berdampak nyata bagi pembangunan nasional.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Fauzan Adziman, dalam siaran pers dikutip pada Minggu (8/2//2026), mengatakan pemerintah mengalokasikan dana sekitar Rp 8 triliun untuk memperkuat ekosistem riset nasional. Hal itu dilakukan melalui skema community science and technology.

Pendanaan tersebut merupakan instrumen utama pemerintah dalam mendorong kolaborasi riset serta memperkuat ekosistem riset berbasis komunitas di Indonesia.

“Pendanaan sekitar Rp 8 triliun untuk community science and technology ini untuk memperkuat ekosistem riset nasional sekaligus mendorong kolaborasi lintas perguruan tinggi, lembaga riset, dan pemangku kepentingan lainnya,” ungkap Fauzan.

Baca JugaEkosistem Riset dan Inovasi Nasional: Kebijakan Elitis atau Gerakan Budaya?

Kolaborasi lintas institusi riset dan pemangku kepentingan ini sejalan dengan hasil survei nasional terhadap 5.942 responden sivitas akademika. Dari survei Kemendiktisaintek tahun 2025, tercatat lebih dari 1.700 usulan kolaborasi riset antara perguruan tinggi dan Badan Riset dan Inoveasi Nasional (BRIN).

Dengan demikian, BRIN menjadi mitra riset yang berpotensi paling besar untuk kerja samanya. “Temuan ini menunjukkan tingkat kepercayaan yang kuat dari perguruan tinggi terhadap BRIN sebagai mitra riset strategis,” kata Fauzan menegaskan.

Selain itu Kemendiktisaintek mendorong kolaborasi riset nasional melalui pendekatan berbasis data. Pendanaan menerapkan mekanisme merit-based funding, yakni pendanaan berbasis kinerja dan capaian peneliti. Pendekatan ini diharapkan mendorong keunggulan riset nasional tanpa mengabaikan prinsip pemerataan akses bagi peneliti di berbagai daerah.

“ Riset harus menjadi fondasi utama dalam perumusan kebijakan pembangunan agar inovasi yang dihasilkan memiliki dampak nyata bagi masyarakat,” kata Fauzan.

Penguatan ekosistem riset nasional juga diarahkan melalui pendekatan brain circulation yakni mendorong mobilitas talenta dan kolaborasi internasional agar pertukaran gagasan, pengalaman, serta praktik terbaik bisa berkelanjutan. Kolaborasi global menjadi bagian penting dalam membangun budaya riset yang kuat di lingkungan akademik.

“Kolaborasi internasional penting untuk memperkuat budaya riset melalui interaksi global antarpeneliti,”katanya.

Penguatan kerja sama

Penguatan kolaborasi riset Kemendiktisaintek dan BRIN diwujudkan melalui penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) di Jakarta awal Februari 2026.  Menteri Diktisaintek Brian Yuliarto menegaskan kolaborasi ini merupakan fondasi penting pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul dan peningkatan daya saing nasional menuju Indonesia Emas 2045.

“Saya yakin ini memperkuat langkah kita menghadapi tantangan ke depan, termasuk upaya menjadikan Indonesia sebagai negara maju dengan belajar dari pengalaman negara lain. Kolaborasi adalah kunci, melalui sinergi terstruktur dan berkelanjutan, riset dan inovasi dapat memberikan dampak nyata bagi pembangunan nasional,” ujarnya.

Sementara Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan penguatan kolaborasi sebagai bagian ekosistem riset lebih luas.  Untuk menghasilkan riset berdampak, perlu ada konsistensi jangka panjang serta dukungan riset dasar yang kuat sebagai fondasi inovasi.

Menurut Arif, Indonesia mengembangkan berbagai riset strategis, khususnya dalam mendukung ketahanan energi, pengelolaan lingkungan, dan pengembangan teknologi berkelanjutan, melalui kolaborasi riset internasional.

Kolaborasi BRIN dan Kemendiktisaintek dilakukan antara lain dengan menghadirkan Nobel Laureate Lecture yang menjadi ruang penting untuk mempertemukan sains fundamental dengan kebutuhan pembangunan. Beberapa waktu lalu Nobel Laureate Lecture menghadirkan Profesor Susumu Kitagawa di bidang Metal-Organic Framework (MOF).

Ilmuwan asal Jepang yang juga penerima penghargaan Nobel Kimia Tahun 2025 ini membawa insipirasi tentang MOF yang membuka peluang pemanfaatan teknologi penyimpanan dan pemisahan gas, pengolahan air, hingga aplikasi energi bersih, termasuk pengembangan Compressed Natural Gas Storage (CNG).

“Teknologi ini sejalan dengan upaya nasional mengurangi ketergantungan pada energi impor serta mendorong pemanfaatan sumber energi domestik yang lebih ramah lingkungan,” kata Arif.

Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN Arthur Lelono menambahkan, BRIN mendorong penguatan pendanaan riset berorientasi pada kolaborasi lintas universitas, lembaga riset, dan industri. Hingga kini pendanaan lebih dari Rp 1 triliun telah disalurkan kepada guru dan peneliti, termasuk untuk mendukung hilirisasi riset melalui pusat riset kolaboratif dan skema mobilitas peneliti lintas negara.

Saat berada di Indonesia, Susumu Kitagawa membagikan perspektif global pengembangan riset material maju dan pentingnya membangun ekosistem riset kolaboratif, terbuka, serta berkelanjutan. Paparan itu jadi inspirasi bagi komunitas riset nasional untuk mendorong keunggulan ilmiah berorientasi publikasi sekaligus bermanfaat dan berdampak nyata.

Baca JugaMengapa Indonesia Belum Pernah Memenangi Hadiah Nobel?

Kitagawa menyoroti pentingnya kolaborasi lintas budaya dalam memperkaya perspektif ilmiah dan mempercepat lahirnya inovasi. Pertukaran gagasan antarnegara menjadi faktor penting dalam perkembangan riset material maju.

”Keberagaman perspektif menjadi kekuatan dalam pengembangan ilmu pengetahuan global. Setiap budaya memberikan ide yang sangat unik,” tuturnya menambahkan.

 

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Mahasiswa KKNT Unhas Serahkan Peta Kerawanan Banjir Kelurahan Maloku
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Pendaftaran Internet Murah 100 Mbps Dibuka, Khusus di Luar Jawa
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Canda Pramono Tak Mau Masuk Gorong-gorong: Yang Kerja Pikiran dan Otak
• 9 jam laludetik.com
thumb
Berapa Hari Lagi Puasa 2026? Ini Prediksi Awal Ramadan 1447 H dan Potensi Perbedaannya
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Pasangan Artis Korea Bomi Apink dan Rado Umumkan Tanggal Pernikahan
• 6 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.