Pantau - Duta Besar Rusia untuk Belgia, Denis Gonchar, menuduh bahwa warga Eropa tengah dipersiapkan secara psikologis untuk menghadapi konflik bersenjata dengan Rusia, di tengah percepatan proses militerisasi yang terjadi di benua itu.
Dalam pernyataan kepada kantor berita RIA Novosti, Gonchar menyebut bahwa ekonomi Eropa kini mulai diarahkan menjadi ekonomi perang, dan penduduknya tengah dipersiapkan untuk menghadapi konfrontasi militer yang hampir tak terelakkan dengan Moskow.
Ia menyebut bahwa proses ini dipicu oleh pernyataan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, dalam konferensi pers bersama Kanselir Jerman Friedrich Merz pada 11 Desember 2025.
Dalam konferensi tersebut, Rutte menyerukan negara-negara Eropa untuk meningkatkan anggaran pertahanan dan mengadopsi pola pikir militer agar siap "melawan Rusia".
Rutte juga menyatakan bahwa NATO merupakan “target berikutnya” dari Rusia, sebuah klaim yang langsung dikritik oleh Moskow.
Kremlin Waspadai Provokasi NATO, Kontak dengan Prancis Tetap TerbukaGonchar menyebut langkah-langkah NATO sebagai “tindakan nekat” yang dapat menimbulkan “banyak konsekuensi tak terduga” bagi Rusia.
Ia memperingatkan bahwa langkah itu meningkatkan ketegangan dan dapat membahayakan stabilitas keamanan di kawasan Eropa.
Di sisi lain, Kremlin pada Rabu, 4 Februari 2026, mengonfirmasi bahwa Moskow dan Paris tengah menjalin kontak di tingkat kerja, setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan kesiapan untuk kembali berdialog dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov membenarkan bahwa komunikasi teknis sedang berlangsung, namun belum ada perkembangan signifikan yang bisa diumumkan.
Macron menekankan bahwa seluruh langkah ini dilakukan secara transparan dan dalam koordinasi penuh dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy serta mitra utama Prancis di Eropa.
Ia menilai penting bagi Eropa untuk “membangun kembali saluran komunikasi mereka sendiri” dengan Rusia, meskipun mengakui bahwa perjanjian perdamaian masih jauh dari jangkauan dalam waktu dekat.


