Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menerima hujatan usai mengunggah video rasis yang menampilkan mantan Presiden AS Barack Obama dan istrinya, Michelle Obama. Mantan Wakil Presiden AS Kamala Harris tak menerima penjelasan Gedung Putih soal unggahan video dugaan rasis tersebut.
Harris mengecam Gedung Putih yang berupaya menutup-nutupi kesalahan tersebut yang belakangan oleh Gedung Putih disebut ada pada kesalahan seorang anggota staf. Harris menilai pernyataan tersebut membuat publik tidak percaya.
"Tidak ada yang percaya upaya menutup-nutupi ini dari Gedung Putih, terutama karena mereka awalnya membela unggahan tersebut. Kita semua tahu betul siapa Donald Trump dan apa yang dia yakini," kata Harris, mantan rival Trump dalam pemilihan presiden AS 2024, dilansir AFP, Minggu (8/2/2026).
Diketahui, video yang diunggah ke akun Truth Social milik Trump itu menampilkan promosi teori konspirasi tentang kekalahan Trump dari mantan Presiden Joe Biden dalam Pilpres 2020. Namun, mendekati akhir video berdurasi satu menit itu, wajah Obama dan Michelle ditampilkan pada tubuh monyet selama sekitar satu detik.
Video tersebut, yang diunggah pada Kamis (5/2) malam di tengah banyaknya unggahan lain di akun Truth Social milik Trump, kembali mengulang tuduhan palsu bahwa perusahaan penghitung suara Dominion Voting Systems membantu "mencuri pemilu" dari Trump.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada awalnya meremehkan kritik yang muncul dengan mengatakan bahwa gambar-gambar itu "berasal dari video meme internet yang menggambarkan Presiden Trump sebagai Raja Hutan dan Demokrat sebagai karakter dari *The Lion King*".
"Tolong hentikan kemarahan palsu ini dan laporkan sesuatu yang benar-benar penting bagi publik Amerika hari ini," kata Leavitt dalam pernyataannya kepada AFP.
Namun, hampir tepat 12 jam setelah unggahan itu muncul di akun Trump, muncul pengakuan yang tidak biasa dari pemerintahan yang biasanya menolak mengakui kesalahan sekecil apa pun.
"Seorang staf Gedung Putih telah secara keliru membuat unggahan tersebut. Unggahan tersebut telah dihapus," ucap seorang pejabat Gedung Putih yang tidak disebutkan namanya kepada AFP.
(yld/gbr)





