Iran Tegaskan Hak Pengayaan Uranium Jadi Kunci Negosiasi Nuklir dengan AS

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Iran menegaskan pengakuan atas haknya memperkaya uranium menjadi syarat utama agar perundingan nuklir dengan Amerika Serikat (AS) bisa berhasil.

Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi, Minggu (8/2), menyusul putaran awal pembicaraan tidak langsung antara kedua negara di Oman.

Aragchi menyebut sikap “nol pengayaan” atau zero enrichment sama sekali tidak dapat diterima oleh Teheran.

“Zero enrichment tidak akan pernah bisa kami terima. Karena itu, pembahasan harus diarahkan pada penerimaan pengayaan di dalam Iran, sembari membangun kepercayaan bahwa pengayaan tersebut hanya untuk tujuan damai dan akan tetap demikian,” kata Aragchi.

Perundingan tak langsung antara diplomat Iran dan AS digelar di Oman pada Jumat (6/2) lalu, di tengah peningkatan kehadiran militer AS di sekitar Iran serta peringatan Teheran yang akan merespons keras jika diserang.

Kedua negara sebelumnya telah menjalani lima putaran pembicaraan nuklir sepanjang tahun lalu, namun menemui jalan buntu, terutama terkait isu pengayaan uranium di wilayah Iran.

Dalam laporan Reuters, ketegangan makin meningkat setelah AS pada Juni 2025 lalu menyerang fasilitas nuklir Iran, menyusul kampanye pengeboman Israel selama 12 hari. Sejak itu, Iran menyatakan telah menghentikan aktivitas pengayaan.

AS memandang pengayaan uranium sebagai jalur potensial menuju senjata nuklir. Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai.

Seorang diplomat kawasan yang mendapat pengarahan dari Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran terbuka membahas tingkat dan kemurnian pengayaan uranium, selama tetap diizinkan melakukan pengayaan di dalam negeri serta memperoleh keringanan sanksi dan penurunan eskalasi militer.

Aragchi menegaskan, sikap Iran bukan semata persoalan teknis.

“Penegasan Iran atas pengayaan bukan hanya soal teknis atau ekonomi. Ini berakar pada keinginan untuk merdeka dan bermartabat. Tidak ada satu pun yang berhak memberi tahu bangsa Iran apa yang boleh atau tidak boleh mereka miliki,” ujarnya, dilansir AFP.

Ia juga menegaskan bahwa program rudal Iran—yang ingin dimasukkan AS ke dalam agenda perundingan—tidak pernah menjadi bagian dari pembahasan.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut perundingan dengan AS sebagai “langkah maju” dan menegaskan Iran ingin hak-haknya di bawah Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dihormati.

Aragchi menambahkan, waktu dan lokasi putaran perundingan berikutnya masih akan ditentukan melalui konsultasi dengan Oman, dan belum tentu kembali digelar di Muscat.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Megawati Terbang ke Riyadh: Bakal Terima Doktor HC ke-11 hingga Ibadah Umrah
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Megawati Menuju Riyadh, Bakal Terima Gelar Doktor Kehormatan ke-11
• 1 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Prakiraan Cuaca Hari Ini Minggu 8 Februari 2026: BMKG Waspadai Hujan Lebat di Jawa hingga Nusa Tenggara
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Persebaya Tampil Garang di Kandang Bali United, Bajul Ijo Menang Telak 3-1
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Cetak Emas Digital Sedang Sulit? Simak Tips Investasi Ini
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.