Jumlah pengungsi akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, masih sangat tinggi. Data terbaru mencatat angka pengungsi kini mendekati 12 ribu jiwa yang masih bertahan di posko-posko pengungsian dengan fasilitas terbatas.
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie Jaya mempercepat proses pembangunan Hunian Sementara (Huntara). Langkah ini dikebut mengingat bulan suci Ramadan akan segera tiba, sehingga warga diharapkan tidak lagi harus menjalankan ibadah puasa di dalam tenda darurat.
Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah menyusun skema penanganan melalui dua jalur utama. Pertama, usulan pembangunan fisik sebanyak 1.275 unit Huntara. Kedua, penyaluran Bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) bagi 1.346 kepala keluarga (KK) yang tidak menempati Huntara.
"Insyaallah mudah-mudahan tidak ada halangan, tidak ada permasalahan yang terus signifikan pada pengungsi dan pada masyarakat," ujar Sibral Malasyi.
Target Rampung Sebelum Puasa
Saat ini, pembangunan fisik Huntara terus dipercepat. Sebagian unit dilaporkan telah selesai dibangun berkat kerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta dukungan dari sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Pemerintah menargetkan seluruh pengungsi dapat dipindahkan ke Huntara sebelum bulan Ramadan, dengan syarat pembangunan fisik telah rampung 100 persen.
Percepatan ini menjadi krusial karena para pengungsi mulai mengeluhkan kondisi kesehatan dan kenyamanan akibat terlalu lama tinggal di tenda darurat yang serba terbatas. Relokasi ke tempat yang lebih layak menjadi prioritas utama pemerintah daerah saat ini demi memulihkan kehidupan warga pascabencana.



