Selain Kecerdasan Intelektual, juga ada Kecerdasan Emosional yang wajib dimiliki karyawan. Hal ini penting agar seorang karyawan tidak hanya dapat menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga dapat menjaga dinamika sosial di kantor.
Melansir Very Well Mind, Intelligence Quotient (IQ) bisa dipahami sebagai tingkat ukur kemampuan mental umum seseorang yang diperoleh dari hasil tes terstandar. Skor IQ ditentukan dengan membandingkan kemampuan pemrosesan visual, penalaran, dan memori individu yang dimiliki seseorang dengan rata-rata kelompok usianya.
Sementara itu, Emotional Intelligence (EQ) merujuk pada kemampuan untuk mengenali, mengevaluasi, mengontrol, dan mengekspresikan emosi baik pada diri sendiri maupun orang lain. Karena bersifat lebih subjektif, EQ bisa diukur lewat tes psikometri, wawancara, atau penilaian kinerja.
Secara sederhana, IQ adalah “apa yang Anda ketahui dan nilai logisnya” sementara EQ adalah “bagaimana Anda mengelola diri dan berinteraksi dengan orang lain”.
Kenapa Kecerdasan Emosional Jadi Penentu Karier Saat IniIQ pernah dianggap sebagai kriteria tunggal untuk mengukur kecerdasan seseorang. Namun, kini World Economic Forum (WEF) menempatkan Kecerdasan Emosional sebagai bagian penting yang dibutuhkan untuk bertahan dalam dunia kerja.
Hal itu karena di ruang kerja, terutama di era kerja hybrid yang membutuhkan kolaborasi, kemampuan untuk memahami situasi lingkungan kerja sama pentingnya dengan sekadar memiliki kemampuan teknis kerja.
Dengan begitu, karyawan yang mampu menyelesaikan teknis pekerjaan sekaligus mampu memahami situasi tempat kerja akan lebih dibutuhkan sebuah perusahaan. Umumnya, sosok tersebut pun akan lebih dipercaya untuk memimpin sehingga jenjang karirnya cenderung lebih baik.
Melansir HBR, pemimpin yang memiliki EQ tinggi mampu menciptakan lingkungan psikologis yang aman, yang secara langsung meningkatkan produktivitas dan inovasi tim.
7 Bentuk Kecerdasan Emosional Karyawan ModernAda berbagai bentuk Kecerdasan Emosional yang harus dimiliki oleh seorang karyawan, terutama di ekosistem kerja terbaru ini. Beberapa bentuk Kecerdasan Emosional tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mampu Mengelola Emosi di Bawah TekananMelansir Psychology Today, seorang karyawan dengan EQ tinggi tidak akan “meledak” saat menghadapi deadline menumpuk. Mereka akan cenderung tetap tenang meski mendapat tekanan kerja yang besar. Hal ini bukan berarti seorang karyawan bersikap tidak acuh atau menjadi “robot”, melainkan mampu mengenali gejala stres dan mengantisipasinya.
Seseorang dengan EQ rendah umumnya akan terlalu cepat bereaksi ketika mendapat masalah, seperti marah, melemparkan kesalahan kepada pihak lain, atau sedih. Sementara karyawan dengan EQ tinggi akan mengambil jeda terlebih dahulu ketika mendapatkan masalah. Selanjutnya, berpikir jernih untuk mengambil langkah solutif.
2. Peka terhadap Situasi TimRasa empati atau kepekaan terhadap lingkungan kerja merupakan salah satu bentuk Kecerdasan Emosional yang harus dimiliki oleh karyawan. Melansir Forbes, seseorang dengan EQ tinggi akan mampu melihat apakah rekan kerja dapat menerima beban tambahan atau justru sedang membutuhkan dukungan pekerjaan.
3. Komunikasi Dewasa & ProfesionalKomunikasi dalam dunia kerja memang bisa dijadikan sebagai acuan dalam menilai kecerdasan seseorang. Alih-alih bersikap pasif-agresif atau meledak-ledak, individu yang cerdas secara emosional bakal mampu menyampaikan kritik dengan cara yang konstruktif dan menerima masukan tanpa defensif.
4. Tidak Mudah TersinggungKecerdasan Emosional membuat seseorang memiliki self-awareness yang kuat, sehingga dapat membedakan antara ego dan profesionalisme. Hal itu membuat seseorang lebih mudah menerima kritik terhadap pekerjaan dan tidak menjadikannya sebagai ancaman harga diri.
5. Adaptif terhadap PerubahanKarena peka terhadap situasi, seorang karyawan dengan EQ tinggi juga akan lebih mudah menerima perubahan. Hal ini penting mengingat dunia kerja mengalami perubahan yang sangat cepat.
Hal ini bukan berarti seorang karyawan tidak memiliki pendirian, melainkan fleksibel dan terbuka pada cara kerja baru apabila cara lama sudah tidak relevan. Dengan begitu, perubahan jumlah tim kerja dan peralatan kerja tidak akan membuat stres.
6. Mampu Mengelola KonflikSeseorang dengan tingkat EQ rendah umumnya akan menghindari masalah atau mencari siapa pihak yang bisa disalahkan. Sementara seseorang dengan EQ tinggi akan fokus pada solusi, dengan mengusahakan win-win solution terlebih dahulu.
7. Punya Motivasi InternalMeskipun seseorang bekerja untuk mencari penghasilan, tetapi karyawan dengan Kecerdasan Emosional yang baik umumnya memiliki alasan lain. Mereka bekerja bukan hanya demi gaji, tapi karena ada nilai personal yang ingin dicapai. Motivasi ini membuat mereka tetap bertanggung jawab meski sedang tidak diawasi oleh atasan.
Baca Juga: Kenapa Menabung Tidak akan Membuat Kita Kaya?
Dampak EQ Tinggi bagi Karier dan Lingkungan KerjaSetidaknya ada tiga keuntungan utama yang bakal diperoleh seseorang dengan Kecerdasan Emosional atau EQ yang tinggi. Pertama, sosoknya akan disukai di kantor karena paham cara berkomunikasi. Kedua, tanggung jawab yang dapat diselesaikan dengan baik memungkinkan gaji lebih besar. Dan, ketiga, EQ tinggi membuat seseorang lebih sehat mental karena mengurangi risiko burnout dan stres berkepanjangan.





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5496237/original/053627800_1770515530-Prabowo_Haji.jpeg)