JAKARTA, KOMPAS.TV – Di bawah sorotan media, diplomat adalah seorang yang bertugas mewakili negara untuk berkomunikasi dan bernegosiasi dengan negara lain. Mereka menjalin hubungan antar negara, menyelesaikan perselisihan, dan mempertahankan kepentingan nasional.
Namun di balik tugas-tugas resmi itu, ada sisi lain diplomat yang sunyi dan luput dari lampu sorot. Di balik resepsi diplomatik yang digelar dengan elegan, di balik penandatanganan kesepakatan antar negara yang berhasil, ada perjuangan batin dan ada pengorbanan keluarga yang tidak terlihat, namun menjadi bagian penting dari perjalanan diplomasi.
Pada Sabtu (7/2/2026) di Kementerian Luar Negeri, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) Febrian A. Ruddyard meluncurkan buku bertajuk “The Reluctant Diplomat, An Indonesian Story of Duty, Family, and The Unseen Journey.”
Buku ini merupakan memoar kontemplatif yang menarasikan perjalannya selama lebih dari 30 tahun mengabdi sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri.
Namun buku ini berbeda dengan buku-buku bertema diplomasi lainnya. Jika buku-buku memoar diplomasi biasanya menceritakan tentang politik praktis, hubungan luar negeri, dan kesepakatan di atas meja perundingan, buku ini menawarkan lebih dari itu.
Baca Juga: Afrika Selatan Usir Diplomat Senior Israel, Ketegangan Diplomatik Berpotensi Picu Reaksi AS
Buku ini menyentuh sisi paling pribadi dari seorang diplomat, yaitu tentang pergolakan batin dan pengorbanan keluarga. Perjalanan jiwa yang kerap dialami oleh semua diplomat tergambar dengan jelas dalam setiap lembar dalam buku ini.
Febrian awalnya memilih profesi diplomat dengan penuh keraguan, karena dihadapkan pada pilihan bekerja di sebuah bank ternama di Tanah Air, ataukah menjadi diplomat di Kementerian Luar Negeri?
Di tengah kegamangan itu, seorang gadis bernama Donna Widya telah lebih dulu melihat sosok diplomat di dalam diri Febrian. Donna pun menyarankan Febrian untuk memilih profesi sebagai diplomat, yang akhirnya menjadi profesi yang digelutinya selama lebih dari tiga dekade.
Karena itulah, buku ini diberi judul “The Reluctant Diplomat”, untuk menggambarkan bagaimana profesi diplomat yang kerap diawali dengan keraguan. Namun pada akhirnya profesi ini dijalankan dengan penuh ketulusan, dedikasi, dan bahkan pengorbanan yang tak terlihat.
Pergolakan batin juga kerap dihadapi seorang diplomat. Misalkan ketika dunia melihat keberhasilan sebuah negosiasi, selalu ada cerita di balik layar yang seringkali penuh pengorbanan. Sebagai contoh yang digambarkan buku ini, bagaimana seorang diplomat bersuara lantang di meja perundingan, tetapi pikirannya berkelana jauh ke tanah air, di mana ayah sang diplomat sedang sakit keras.
Selain itu, diplomat kerap menghadapi perang batin ketika ada banyak momen keluarga yang harus terlewat: mulai dari perayaan ulang tahun, perayaan wisuda, hingga pemakaman keluarga yang harus direlakan dari jauh. Karena tugas yang mengharuskannya menetap di luar negeri tidak bisa menunggu dan harus diselesaikan.
Baca Juga: Merayakan 70 Tahun Hubungan Diplomatik, Polandia-Indonesia Tingkatkan Kerja Sama Pariwisata
Kontribusi Keluarga Dalam Diplomasi IndonesiaPenulis : Tussie Ayu Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- peluncuran buku
- the reluctant diplomat
- febrian ruddyard
- diplomasi
- diplomat




