Pantau - Pemerintah Kota Bandung akan menghadirkan psikolog ke sekolah-sekolah sebagai upaya deteksi dini dan penanganan gangguan kesehatan mental pada pelajar, menyusul temuan bahwa sekitar 10 ribu siswa mengalami gangguan mental sepanjang tahun 2025.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan bahwa langkah ini menjadi alarm penting bagi pemerintah untuk memperkuat pencegahan dan intervensi sejak dini.
"Kita sedang gelisah. Anak-anak kita sedang menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya," ungkapnya.
Tekanan Sosial Era Digital Jadi Faktor Risiko BaruFarhan menjelaskan bahwa gangguan mental tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan bisa bermula dari stres berkepanjangan yang berkembang menjadi depresi, bahkan dalam kondisi ekstrem bisa memunculkan keinginan untuk mengakhiri hidup.
Ia juga menyoroti tekanan sosial di era digital sebagai salah satu faktor pemicu yang signifikan.
"Sekarang satu kesalahan bisa ditertawakan satu dunia. Tekanan psikologisnya jauh lebih berat. Ini berbahaya kalau kita anggap sepele," ia menegaskan.
Sebagai bentuk tindak lanjut, Pemkot Bandung akan melibatkan guru Bimbingan Konseling (BK), psikolog, dan psikolog klinis dalam program pendampingan langsung di sekolah.
Mereka akan melakukan asesmen dan memberi dukungan psikologis kepada siswa secara rutin.
Farhan menegaskan bahwa program ini bukan upaya memberi label negatif kepada siswa, melainkan bentuk perlindungan.
"Bukan berarti anak kita dianggap bermasalah. Justru ini bentuk kepedulian. Apa yang dialami anak-anak di luar rumah sering kali di luar jangkauan orang tua," ujarnya.
Data Dinas Kesehatan Kota Bandung mencatat bahwa sepanjang tahun 2025, sekitar 10.000 pelajar tingkat SD hingga SMA mengalami gangguan kesehatan mental.


