Jakarta: Dalam laporan evaluasi investasi 2025 menekankan sinyal dari portofolio lebih dari 40 perusahaan, mengungkap perubahan mendasar dalam ekosistem teknologi regional di Asia Tenggara. Fokus beralih dari konsep Internet plus yang luas menuju skenario penerapan dengan kepastian bisnis yang tinggi.
Laporan tersebut menyimpulkan ekosistem teknologi Asia Tenggara mengalami tren jelas, di mana pertumbuhan terkonsentrasi pada sektor-sektor tersegmentasi yang menyelesaikan masalah struktural.
“Laporan refleksi 2025 ini menunjukkan pertumbuhan teknologi di Asia Tenggara kini bergerak ke arah lebih terfokus dan berkelanjutan. Kami melihat AI tidak lagi sekadar menjadi fitur, tetapi sudah menjadi bagian infrastruktur yang mendorong efisiensi dan relevansi solusi di berbagai sektor,” ujar Marketing Communication Metro Timur Indonusa Bagus Santoso, Minggu, 9 Februari 2026.
Salah satu pengamatan penting adalah perubahan peran kecerdasan buatan (AI) yang terjadi di berbagai industri secara bersamaan. Di sektor finansial teknologi (fintech), model AI digunakan untuk evaluasi risiko anpa catatan kredit tradisional. Pada Software as a Service (SaaS) ritel, kemampuan AI diintegrasikan untuk prediksi inventaris dan analisis pelanggan. Sementara di industri konten, AI meningkatkan efisiensi dalam proses lokalisasi multibahasa.
Baca Juga :
Pemanfaatan AI Harus Mampu Tingkatkan Layanan Masyarakat
Laporan ini menyoroti bahwa keistimewaan pasar Asia Tenggara, khususnya Indonesia, justru semakin menonjol. Karakteristik utama adalah digitalisasi yang mengutamakan perangkat mobile, menciptakan produk-produk unik yang mencerminkan lompatan demografis langsung dari era PC ke internet mobile.
Selain itu, kompleksitas lingkungan pembayaran telah mendorong inovasi fintech yang variatif. Laporan mencatat kesenjangan antara akses rekening bank dan penerimaan pembayaran digital membuka peluang bagi solusi pembayaran tertentu.
Bidang pembuatan konten juga mengalami transformasi signifikan. Pengamatan menunjukkan para kreator beralih dari sekadar mengejar "titik lalu lintas" menjadi mengelola "subjek usaha kecil". Pergeseran ini didorong oleh dua faktor alat AI yang menurunkan hambatan produksi konten profesional, dan alat berbasis platform yang memungkinkan pengelolaan karya, analisis data, serta diversifikasi sumber pendapatan.
Berdasarkan pengamatan 2025, AI diproyeksikan akan semakin mendalam sebagai lapisan infrastruktur. Pemanfaatan kemampuan AI akan semakin mudah diakses, mendorong lebih banyak inovasi dalam mempermudah industri tradisional mengadopsi teknologi ini.
Pada tahun 2026, penilaian ini akan diuji di pasar. Pengamatan praktis dari lembaga investasi ini memberikan referensi penting untuk memahami kompleksitas dan dinamika ekosistem teknologi regional yang terus berkembang.



.jpg)
