Bisnis.com, PALEMBANG — Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) mengkhawatirkan tingkat kemiskinan yang dinilai masih rentan untuk kembali ke level dua digit.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Sumsel hingga September 2025 sebesar 9,85%.
Realisasi itu turun sebesar 0,30% poin terhadap periode Maret 2025 atau berhasil bergeser ke level satu digit. Bahkan, angka itu juga menjadi yang terendah sejak tahun 2014.
Gubernur Sumsel Herman Deru mengungkapkan capaian tingkat kemiskinan di satu digit telah ditarget sejak lama.
“Ini menjadi cita-cita lama, untuk menjadikan Sumsel kemiskinannya satu digit,” katanya di Griya Agung, Kamis (5/2/2026).
Kendati begitu, dia mengakui, tingkat kemiskinan di angka 9,85% masih sangat rentan untuk kembali merangkak naik mencapai 10% atau bahkan lebih. Oleh karena itu, dia menekankan agar angka tersebut tidak membuat terlena, baik dari provinsi maupun seluruh kabupaten kota.
Baca Juga
- Ekonomi Sumsel 2025 Tumbuh 5,35%, Gubernur: Pertumbuhan Merata, Tidak Hanya Satu Sektor Saja
- TKD 2026 Sumsel Turun jadi Rp24,3 Triliun, Cek Rincian Kabupaten/Kota
“Sebab ini angka rentan, meleset dikit kita bisa kembali ke dua digit. Jadi jangan sampai lengah,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto mengatakan jumlah penduduk miskin pada periode tersebut sebesar 898,24 ribu orang atau turun 21,4 ribu orang terhadap Maret 2025.
Dia menerangkan bahwa selama Maret hingga September 2025 garis kemiskinan Sumsel naik sebesar 4,70% atau menjadi Rp609.044 per kapita per bulan.
“Dari garis kemiskinan itu, jika dikonversi dalam satu keluarga dimana rata-rata terdapat 4,89 orang, tercatat garis kemiskinan secara keluarga sebesar Rp2.978.225 per rumah tangga miskin,” jelasnya.
Adapun, beberapa komoditas yang memengaruhi kemiskinan di Sumsel, antara lain beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras dan mie instan. Sedangkan yang bukan makanan yaitu pengeluaran perumahan, bensin, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.




