Pembayaran digital kini menghapus batasan negara, memudahkan anak muda untuk mengakses pasar global hanya dengan sekali klik. Generasi muda bukan sekadar pengguna, melainkan juga menjadi digital first consumers yang memegang kunci kontribusi signifikan terhadap masa depan ekonomi Indonesia.
Menanggapi fenomena ini, Visa berkomitmen mendukung pertumbuhan ekonomi digital melalui berbagai inisiatif yang menyasar pasar anak muda. Selain itu, perusahaan teknologi pembayaran digital global tersebut juga fokus pada penguatan kolaborasi dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD), serta pengembangan sistem pembayaran yang aman, mudah, dan diterima secara luas baik di dalam maupun luar negeri bagi konsumen dan mitra di Indonesia.
”Visa melihat bahwa pembayaran digital merupakan infrastruktur penting bagi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Oleh karena itu, pada 2026, fokus kami pada penguatan ekosistem secara menyeluruh. Mulai dari perluasan akses dan kolaborasi hingga penguatan kepercayaan agar peningkatan aktivitas transaksi dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas dan berkelanjutan,” kata Vira Widiyasari, Country Manager Visa Indonesia, dalam acara Bringing The World Closer: Taking Indonesia Further, di Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Berdasarkan survei Gen Z Decoded 2025, perilaku belanja generasi muda telah bertransformasi drastis. Mereka tidak lagi hanya mencari barang berdasarkan fungsi, tetapi sangat mengedepankan pengalaman (experience) yang tanpa hambatan (seamless) dan aman. Dari survei kepada anak muda berusia 14-27 tahun disebutkan sebanyak 70 persen gen Z menggunakan pembayaran digital untuk gaming, musik, olahraga, dan fashion. Selain itu, sebanyak 46 persen gen Z merasa transaksi digital adalah cara mereka mendukung dan terhubung dengan komunitas artis atau tim e-sport favorit mereka.
Sebagai bagian dari strategi mendekatkan pembayaran digital dengan gaya hidup masyarakat, Visa memperkuat dukungan terhadap segmen konsumen generasi baru. Vira mengatakan, fokus ini diarahkan pada komunitas olahraga, game, musik, K-pop, fashion, ataupun komunitas gaya hidup.
”Melihat tren yang berkembang, Visa terus berinvestasi untuk membuat produk dan pelayanan yang relevan dengan kebutuhan anak muda. Kami membuat sesuatu yang dinamakan passion pillars, artinya apa sih yang menjadi passion gen Z?” ucap Vira.
Melalui pendekatan tersebut, Visa berupaya menghadirkan solusi pembayaran yang relevan dengan cara generasi muda beraktivitas dan bertransaksi di era digital. ”Kami mengubah momen-momen passion tersebut menjadi kebiasaan pembayaran digital,” ujarnya.
Investasi ini diwujudkan melalui keterlibatan Visa dalam berbagai ajang berskala nasional ataupun global yang diselenggarakan di Indonesia, antara lain menjadi Official Payment Partner di Mobile Legend: Bang Bang (MLBB) M7 World Championship di Jakarta. Ada juga kemitraan untuk acara MAMA Award di Seoul, Korea Selatan, dan konser Blackpink di Jakarta.
”Gen Z sangat loyal terhadap platform yang menawarkan kemudahan transaksi tanpa hambatan. Untuk fasilitas lainnya, kami juga mengundang nasabah muda untuk hadir di MAMA Award, merasakan langsung sensasi bertemu idola di backstage,” kata Vira.
Selain menggaet pasar generasi muda, Visa juga memperluas akses layanannya melalui kemitraan dengan BPD untuk meningkatkan daya saing layanan pembayaran bank daerah melalui adopsi kapabilitas jaringan global Visa. Pendekatan ini memungkinkan bank daerah menghadirkan layanan pembayaran dengan standar internasional sehingga nasabah di daerah dapat melakukan transaksi nasional ataupun lintas negara secara aman dan efisien.
Salah satu bank yang sudah bekerja sama dengan Visa adalah Bank Jakarta. Kerja sama kedua pihak ditandai dengan peluncuran kartu debit Visa pada 5 Januari 2026. Selanjutnya, Visa juga akan bekerja sama dengan Bank Sumsel Babel serta menjajaki peluang dengan bank-bank daerah lainnya.
”Tujuan kami adalah memastikan seluruh transaksi, baik di kota besar maupun daerah, berjalan aman, lancar, dan terhubung ke jaringan global, sehingga setiap orang di Indonesia dapat berpartisipasi penuh dalam ekonomi digital yang semakin tanpa batas,” ujar Vira.
Dedi Setiawan, analis dari Otoritas Jasa Keuangan, mengingatkan pentingnya peningkatan literasi dan inklusi keuangan pada generasi muda. Hal itu disampaikan Dedi dalam tulisan berjudul ”Generasi Muda Melek Teknologi dan Bijak Berinvestasi” di Harian Kompas, Sabtu (29/11/2025).
Dedi menuliskan alasan pentingnya gen Z mendapat literasi keuangan. Salah satunya, generasi muda rentan terkena risiko kejahatan digital. Gen Z yang akrab dengan kemajuan teknologi juga diperhadapkan dengan risiko kejahatan digital, termasuk penyalahgunaan data pribadi yang diakibatkan oleh oversharing yang dilakukan di media sosial. Peningkatan kesadaran akan pentingnya menjaga kerahasiaan data pribadi perlu ditingkatkan.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 yang dilakukan OJK bekerja sama dengan BPS menunjukkan, tingkat literasi keuangan segmen pelajar/mahasiswa mencapai 61,76 persen dengan tingkat inklusi 84,42 persen. Indeks literasi dan inklusi keuangan segmen pelajar/mahasiswa berada di bawah indeks nasional. Pelajar dan mahasiswa menjadi salah satu segmen prioritas literasi dan inklusi keuangan.
Untuk itulah, Dedi menyarankan akses informasi produk dan layanan jasa keuangan dari sumber yang valid. Banjir informasi bagai dua sisi koin bagi generasi muda. Generasi muda yang mampu memilah informasi akan mampu memaksimalkan manfaat agar investasi yang dilakukan berhasil. Generasi muda yang tidak mampu memilah informasi berisiko menjadi bingung dan berakhir merugikan dirinya sendiri.
Dengan demikian, generasi muda hendaknya mengakses informasi produk dan layanan dari sumber yang valid. Di antaranya adalah media sosial kementerian/lembaga, media sosial lembaga jasa keuangan, dan sumber lain yang terverifikasi. Generasi muda juga hendaknya bijak untuk mengolah data dan informasi yang ramai di media sosial.
Head of Risk Visa Indonesia Nitia juga menyampaikan hal senada. Menurut dia, Visa telah membantu para mitra untuk menjaga kartu lebih aman. ”Kami juga mengadakan risk forum, dengan mengumpulkan partner dan klien untuk berdiskusi bagaimana mencegah fraud serta memperbarui sistem keamanan,” kata Nitia.
Akhir tahun 2025, Visa Indonesia Industry Risk Forum 2025 diselenggarakan sebagai upaya untuk menjaga integritas dan keamanan sistem pembayaran digital. Forum ini tidak hanya berfungsi sebagai platform kolaboratif lintas pemangku kepentingan, tetapi juga sebagai ruang strategis untuk bertukar wawasan, pengalaman, dan pendekatan dalam menghadapi dinamika ancaman digital yang terus berkembang.


