Grid.ID – Agenda perayaan Tahun Baru Imlek akan ditutup dengan meriahnya festival Cap Go Meh. Momen yang jatuh tepat pada hari ke-15 setelah Imlek ini menjadi puncak dari rangkaian pesta musim semi bagi masyarakat Tionghoa.
Walaupun ingar-bingar perayaannya terasa sedikit berbeda dibandingkan hari pertama Imlek, Cap Go Meh menyimpan segudang filosofi dan tradisi yang mendalam. Berikut rangkuman fakta menarik seputar Cap Go Meh yang perlu Sobat Grid ketahui:
1. Istilah yang Berbeda di Negara Asalnya
Istilah "Cap Go Meh" ternyata lebih populer di kalangan masyarakat Tionghoa di Indonesia, Malaysia, dan Singapura (dialek Hokkien). Secara harfiah, istilah ini terbentuk dari tiga suku kata, yakni "Cap" yang bermakna sepuluh, "Go" artinya lima, dan "Meh" yang berarti malam. Jadi, ini adalah perayaan malam ke-15.
Namun, jika berkunjung ke Tiongkok, penduduk setempat menyebut festival ini dengan nama Festival Yuanxiao atau Festival Shangyuan. Di sana, malam ini juga kerap disebut sebagai Hari Kasih Sayang versi Tiongkok kuno.
2. Kuliner Simbol Keberuntungan
Tak lengkap rasanya bicara soal perayaan tanpa menyinggung makanan. Di Indonesia, akulturasi budaya melahirkan hidangan ikonik bernama Lontong Cap Go Meh.
Berbeda dengan sajian Imlek yang identik dengan kue keranjang, saat Cap Go Meh, piring kita akan dipenuhi oleh potongan lontong berbentuk bulat panjang yang melambangkan panjang umur.
Lontong ini disajikan dengan kuah santan opor ayam yang gurih, sambal goreng ati ampela, taburan bubuk koya, hingga kerupuk renyah. Warna kuah yang kuning keemasan dipercaya sebagai simbol rezeki dan keberuntungan.
3. Bebas dari Pantangan Imlek
Ada kabar baik bagi kamu yang merasa terkekang dengan aturan ketat saat Imlek.Pada hari ke-15 ini, segala pantangan atau pamali yang berlaku di hari pertama Imlek sudah tidak berlaku lagi.
Masyarakat diperbolehkan untuk melakukan aktivitas yang sebelumnya dilarang, seperti mengenakan pakaian bernuansa hitam-putih, memecahkan barang (secara tidak sengaja), hingga menangis. Ini adalah momen pelepasan untuk bersuka cita sepenuhnya.
4. Warna Warni Busana
Jika Imlek identik dengan warna merah menyala yang mendominasi dekorasi lampion hingga busana barongsai, ternyata ada fakta unik mengenai busana Cap Go Meh. Di Tiongkok, warna merah memang masih menjadi primadona. Namun, hal ini berbeda bagi masyarakat keturunan Tionghoa-Indonesia atau peranakan.
Terkait hal ini, Peneliti Batik Peranakan China, Notty J. Mahdi memberikan penjelasannya.
"Masyarakat peranakan justru tidak menggunakan pakaian merah saat Cap Go Meh. Warna pakaian yang dikenakan masyarakat peranakan saat Cap Go Meh meliputi oranye, merah muda, biru, dan coklat tua," ungkap Notty J. Mahdi.
Jadi, jangan heran jika melihat variasi warna pastel atau warna bumi yang cantik saat perayaan nanti.
Pesta Rakyat di Lapangan Banteng
Kabar gembira juga datang dari Ibu Kota. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mempersiapkan agenda spektakuler untuk menyambut rangkaian perayaan Imlek dan Cap Go Meh tahun 2026 mendatang.Pemrov DKI Jakarta mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin koordinasi matang antara pemerintah pusat dan daerah sejak pekan lalu. Tujuannya satu, yakni menciptakan pesta budaya yang inklusif dan bisa dinikmati seluruh warga.
Lapangan Banteng akan dijadikan lokasi acara puncak. Tempat bersejarah ini akan disulap menjadi pusat keramaian dengan berbagai atraksi budaya.
Tak hanya itu, kawasan legendaris Glodok di Jakarta Barat juga akan tetap menjadi jantung perayaan dengan nuansa Pecinan yang kental. Mulai dari festival lampion yang memukau hingga atraksi barongsai kelas dunia siap menghibur warga Jakarta di titik-titik strategis tersebut.(*)
Artikel Asli

