Laju IHSG sejalan dengan LQ45 yang meleah 0,20 persen dengan berada pada level 813. Kemudian indeks unggulan saham syariah JII yang naik 0,34 persen pada level 533.
Saham-saham unggulan meliputi BBCA, BBTN, BBNI, BMRI jatuh pada pembukaan perdagangan hari ini. Sementara itu saham seperti ANTM, MDKA, MBMA alami kenaikan.
Baca juga: Tekanan Wall Street Bikin IHSG Dibuka Anjlok
Di dalam negeri IHSG pada akhir pekan lalu tertekan cukup dalam, turun 2,08% ke level 7.935,26. Indeks LQ45 dan IDX30 masing-masing melemah 1,66% dan 1,47%.
Tekanan terbesar datang dari sektor-sektor siklikal dan berbasis komoditas. IDX Cyclical anjlok 5,11%, IDX Industrial turun 4,51%, serta IDX Energy dan IDX Basic Materials masing-masing melemah lebih dari 3%. Sebaliknya, sektor transportasi menjadi satu-satunya yang mencatatkan penguatan, naik 0,53%, sementara sektor kesehatan relatif stabil.
Dari pasar obligasi, imbal hasil SUN tenor 10 tahun naik ke 6,42%, sejalan dengan kenaikan yield US Treasury di seluruh tenor. Yield US Treasury 10 tahun tercatat naik ke 4,21%, menandakan pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga global.
Nilai tukar rupiah kembali melemah. Rupiah di pasar spot berada di level Rp16.877 per dolar AS, sementara kurs referensi JISDOR tercatat di Rp16.887 per dolar AS. Di sisi lain, indeks dolar AS turun 0,32% ke level 97,63, memberi sedikit ruang bagi mata uang utama lainnya, termasuk euro yang menguat ke 1,1815 dolar AS.
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih menjelaskan sentimen yang mempengaruhi pergerakan IHSG adalah aksi Moody’s mempertahankan rating obligasi RI di Baa2 namun menurunkan outlook jadi negatif dari sebelumnya stabil. Hal ini membuat kondisi IHSG menjadi yang terlemah di ASEAN -8,23% ytd (6/2/2026). Laju Saham Global Pasar saham global bergerak bervariasi pada akhir pekan lalu. Wall Street mencatat reli tajam dengan indeks Dow Jones Industrial Average menembus level psikologis 50.000 untuk pertama kalinya, sementara pasar saham Asia, termasuk Indonesia, justru berada di bawah tekanan signifikan.
Di Amerika Serikat, saham-saham teknologi memimpin penguatan setelah beberapa hari sebelumnya mengalami aksi jual besar-besaran. Rebound ini juga didukung oleh pemulihan harga bitcoin yang sempat anjlok lebih dari 50% dari puncaknya.
Indeks Dow Jones melonjak 1.206,95 poin atau 2,47% ke level 50.116. Nasdaq Composite naik 2,18% ke 23.031, sementara S&P 500 menguat 1,97% ke 6.932. Volatilitas pasar mereda, tercermin dari indeks VIX yang anjlok 18,42% ke level 17,76.
Di Eropa, bursa saham juga bergerak positif meski dengan penguatan yang lebih moderat. FTSE 100 Inggris naik 0,59%, DAX Jerman menguat 0,94%, dan CAC 40 Prancis bertambah 0,43%.
Namun, pergerakan pasar Asia menunjukkan arah yang tidak seragam. Nikkei Jepang masih mencatatkan kenaikan 0,81%, sementara Hang Seng Hong Kong terkoreksi 1,21% dan Shanghai Composite melemah 0,25% Pasar Komoditas Di pasar komoditas, harga emas mencuri perhatian dengan lonjakan tajam. Emas spot naik 4,15% ke US$4.964 per troy ounce, sementara emas berjangka Comex menguat 3,20%. Kenaikan ini mencerminkan kembali meningkatnya minat aset lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar.
Harga minyak mentah juga bergerak naik. WTI menguat ke US$63,55 per barel, sedangkan Brent naik ke US$68,05 per barel. Sementara itu, harga perak melonjak lebih dari 6%, disusul tembaga yang naik hampir 3%.
Secara keseluruhan, reli kuat di Wall Street belum sepenuhnya menular ke pasar domestik. Investor di Indonesia masih dihadapkan pada tekanan sektor riil, pergerakan yield global, serta pelemahan rupiah yang menahan sentimen risiko dalam jangka pendek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)



