Perebutan Kekuasaan di Zhongnanhai Meningkat, Pakar Peringatkan Taiwan Tetap Harus Waspada

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

Setelah Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) PKT Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan KMP Liu Zhenli diselidiki dan tersingkir, sistem komando militer Tiongkok mengalami kekosongan kekuasaan yang jarang terjadi. Banyak posisi kunci perlu segera diisi, yang secara langsung mempengaruhi kemampuan koordinasi operasional Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). 

Meski Zhongnanhai tengah melakukan penataan ulang personel militer, para pakar memperingatkan bahwa pemimpin PKT Xi Jinping kemungkinan tidak akan mengurangi ambisinya untuk menyerang Taiwan. Tidak hanya Taiwan, Amerika Serikat dan Jepang juga tidak boleh menganggap masa restrukturisasi ini sebagai “periode aman”.

EtIndonesia. Setelah Zhang Youxia dan Liu Zhenli diselidiki, media militer PKT baru-baru ini menerbitkan artikel komentar yang mengecam keduanya sebagai “penghalang” dan “batu sandungan”, serta menyerukan penguatan penuh pelatihan dan kesiapan tempur.

Seorang sumber internal militer bermarga Shen mengungkapkan kepada Epoch Times bahwa konflik antara Zhang Youxia dan Xi Jinping bukanlah peristiwa mendadak, melainkan hasil akumulasi ketegangan jangka panjang. Inti perselisihan berfokus pada isu Taiwan. 

Zhang Youxia dan sebagian besar perwira senior menentang penggunaan kekuatan untuk menyerang Taiwan, karena menilai langkah tersebut akan menimbulkan korban besar serta kerugian signifikan pada perlengkapan militer, bahkan berpotensi “menghabiskan” satu cabang angkatan. Namun, Xi Jinping disebut bertekad untuk melancarkan serangan terhadap Taiwan.

Editor senior urusan internasional Tang Hao menyatakan bahwa Xi Jinping ingin melancarkan operasi militer sebelum 2027 untuk merebut Taiwan demi mengukuhkan posisi historisnya dan mengamankan masa jabatan berikutnya. Sebaliknya, Zhang Youxia menilai waktu yang lebih realistis adalah setelah 2035, karena ia paling memahami kemampuan tempur riil pasukan.

Dalam beberapa tahun terakhir, gelombang pembersihan besar di tubuh militer telah menjatuhkan banyak jenderal berpangkat tinggi—sebagian di antaranya justru dipromosikan langsung oleh Xi Jinping.

Pengamat politik Lan Shu mengatakan bahwa pejabat tinggi di partai, pemerintahan, dan militer umumnya naik ke puncak kekuasaan selama 40–50 tahun pertumbuhan ekonomi pasar Tiongkok, sehingga banyak dari mereka memiliki resistensi terhadap pendekatan Xi Jinping.

Sejak Kongres Nasional PKT ke-20, jumlah jenderal aktif yang secara resmi diumumkan “jatuh” telah mencapai 15 orang, sementara sekitar 20 jenderal lainnya “menghilang” dari publik. Saat ini, puluhan posisi penting di militer Tiongkok kosong, menciptakan apa yang disebut sebagai “kekosongan kepemimpinan”.

Ahli hukum yang bermukim di Australia, Yuan Hongbing, menyatakan bahwa dari Stalin, Mao Zedong hingga Xi Jinping, terdapat pola politik yang serupa untuk mengendalikan militer secara personal. Mao mengandalkan sistem intelijennya, sementara Xi mengembangkan sistem intelijen PKT ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam kondisi ini, setiap posisi militer yang berpotensi mengancam “kaisar Partai Komunis” menjadi sasaran penertiban, terutama mulai dari tingkat anggota CMC.

Belakangan ini, tidak hanya posisi Komandan Garnisun Beijing yang kosong hampir setahun akhirnya terisi, tetapi juga terjadi pergantian pimpinan di Garnisun Shanghai, serta di wilayah militer provinsi Anhui, Shanxi, Shaanxi, Hainan, Jilin, dan Sichuan. Menurut media resmi PKT, perombakan personel ini terjadi sebelum Zhang Youxia dan Liu Zhenli dijatuhkan.

Direktur Institut Strategi dan Sumber Daya, Institute for National Defense and Security Research (INDSR) Taiwan, Su Tzu-yun, menyatakan bahwa selain penunjukan Chen Yuan di Garnisun Beijing, pergantian juga terjadi di Garnisun Shanghai, Pasukan Polisi Bersenjata, dan sejumlah komando militer tingkat provinsi. Hal ini menunjukkan bahwa Xi Jinping sedang menyusun strategi besar.

Para pakar menilai, meskipun konflik internal PKT dan pembersihan elite militer telah menimbulkan guncangan serius, ambisi pemimpin PKT untuk menyerang Taiwan tidak surut. Xi Jinping justru tengah menyusun ulang kekuatan dan loyalisnya. Oleh karena itu, tidak hanya Taiwan, tetapi juga Amerika Serikat dan Jepang tidak boleh menganggap periode restrukturisasi Beijing ini sebagai “masa aman”, melainkan harus dipandang sebagai “masa persiapan”. (Hui)

Laporan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Tang Rui, dan reporter lepas Luo Ya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Rapat Besar Moderasi Beragama 2026: Kemenag, TNI, Polri, dan 20 K/L Bahas Program dan Arah Kebijakan
• 19 jam lalumedcom.id
thumb
Amien Rais Sebut Jokowi Tak Punya Watak Kenegarawanan
• 8 jam lalugenpi.co
thumb
Gorengan Isu Kapolri Membangkang Presiden adalah Opini Jahat, GPA: Polri Sedang Diserang
• 1 jam laludisway.id
thumb
Daftar 7 Keluarga Terkaya Pengendali Keuangan Dunia
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Hujan Salju Hentikan Operasional Bandara Jeju, 11 Ribu Penumpang Telantar
• 18 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.