JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta terus menggencarkan pembangunan merata di seluruh penjuru Ibu Kota dalam berbagai cara, mulai dari pendirian ruang terbuka hijau (RTH), penataan pemukiman kumuh, hingga perbaikan jalan.
Namun sayangnya, belum semua jalan di wilayah Jakarta tersentuh perbaikan, salah satunya di pemukiman padat penduduk Tanah Merah, RW 07, Koja, Jakarta Utara.
Adapun RW 07 terdiri dari 24 RT, di mana hampir setiap jalannya masih belum pernah tersentuh perbaikan sejak puluhan tahun lamanya.
Rata-rata jalan di wilayah ini belum beraspal, hanya peluran semen ala kadarnya yang merupakan hasil swadaya masyarakat.
Baca juga: Siswa di Depok Diminta Pakai Masker Usai Sesak Napas akibat Debu Tanah Merah
"Diaspal sekalipun belum ada. Bahkan, di depan rumah warga yang dicor itu merupakan patungan atau swadaya," tutur salah satu warga, Renald (33), saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (6/2/2026).
Peluran semen tersebut pun sudah banyak yang rusak, sehingga menyebabkan jalan berlubang, bergelombang, berpasir, dan sangat licin.
Bahkan, beberapa titik jalan juga masih banyak yang belum dipelur semen, sehingga hanya diuruk dengan tanah merah dan bebatuan. Ketika dilalui dengan kendaraan bermotor, perut akan terasa teraduk-aduk, saking rusaknya jalan di lokasi tersebut.
Kondisi jalan akan semakin parah ketika hujan tiba karena lubang-lubang tersebut akan tergenang air. Sementara, pasir dan tanah yang tercampur air akan menyerupai lumpur yang licin, sehingga sulit untuk dilalui.
Ketika musim kemarau pun kondisi jalan juga tak sepenuhnya baik, karena cenderung dipenuhi debu imbas dari pasir dan tanah. Debu tersebut akan semakin beterbangan ketika kendaraan, baik itu motor atau mobil melintas di sekitar pemukiman ini.
Dulu lebih rusakMeski masih rusak, Renald mengatakan kondisi jalan di Tanah Merah sudah jauh lebih baik dibandingkan dulu.
"Ya, di-enjoy-in aja, soalnya sudah biasa. Ini jalan lebih bagus sekarang, dulu kalau ujan sepeda aja enggak bisa masuk sini, apalagi motor," ungkap dia.
Sebab dulu, jalan di depan rumahnya tersebut hanya merupakan tanah merah yang licin dan becek. Saking beceknya, ketika musim hujan, Renald tak bisa memakai sepatu dari rumah ketika hendak berangkat ke sekolah, karena takut kotor.
Baca juga: Tiga Siswa SD di Depok Alami ISPA akibat Debu Tanah Merah
Ia terpaksa bertelanjang kaki menyusuri jalan rusak di sepanjang RW 07 tersebut, sambil menenteng sepatunya. Renald baru bisa memakai sepatu ketika sudah sampai di jalan yang lebih bagus atau tidak becek seperti di depan rumahnya.
Diperbaiki mandiriSeiring berjalannya waktu, warga pun tak sanggup lagi bertahan dengan akses jalan yang belum beraspal, licin, dan dipenuhi tanah merah. Akhirnya, mereka berinisiatif untuk menguruk jalan tanah merah tersebut dengan menggunakan puing-puing bekas.
"Saya tinggal di sini sudah 20 tahun. Dulu di sini tanah merah. (Saat ini) kami swadaya. Pertama diuruk pakai puing-puing, baru kita cor," kata warga lain, Edy (54).




