Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (9/2/2026) pagi seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Optimisme muncul setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati kelanjutan dialog, yang menurunkan tensi geopolitik kawasan strategis energi tersebut.
Berdasarkan Refinitiv per pukul 09.25 WIB, harga minyak Brent turun ke level US$67,45 per barel, melemah dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di US$68,05. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi ke US$63,02 per barel, dari US$63,55 pada perdagangan akhir pekan lalu.
Pelemahan ini memperpanjang tren koreksi harga yang sudah terlihat sejak akhir Januari. Brent tercatat sempat berada di atas US$70 per barel pada 29-30 Januari 2026, sebelum bergerak turun bertahap seiring meredanya risiko konflik di kawasan Timur Tengah. WTI juga mengikuti pola serupa, turun dari kisaran US$65 per barel ke area US$63 saat ini.
Sentimen utama datang dari berkurangnya kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik antara AS dan Iran.
Dengan komunikasi yang kembali dibuka, pelaku pasar menilai risiko gangguan distribusi minyak khususnya di jalur strategis Selat Hormuz sementara ini dapat ditekan. Jalur ini selama ini menjadi perhatian karena menampung arus ekspor minyak dalam porsi besar perdagangan global.
Meski demikian, pasar masih bersikap hati-hati. Ketegangan geopolitik dinilai belum sepenuhnya hilang, mengingat dinamika politik kawasan Timur Tengah yang masih rentan berubah cepat. Di saat yang sama, isu pembatasan ekspor minyak Rusia dan penyesuaian kebijakan perdagangan energi global terus menjadi variabel tambahan yang membayangi pergerakan harga.
Dari sisi pasokan, peningkatan aktivitas pengeboran di Amerika Serikat juga ikut menahan laju harga. Kenaikan jumlah rig energi memberi sinyal bahwa produksi berpotensi bertambah, memperkuat persepsi pasar bahwa pasokan global masih relatif terjaga dalam jangka pendek.
CNBC Indonesia
(emb/emb)



