HPN 2026, Ketua Dewan Pers: Profesionalisme Jaga Kepercayaan Publik

tvrinews.com
4 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Ridho Dwi Putranto

TVRINews, Serang

Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menilai pers nasional tengah menghadapi tekanan besar akibat dominasi media sosial, digitalisasi, dan kecerdasan buatan (AI) yang mengubah lanskap produksi serta konsumsi informasi.

Dalam situasi tersebut, ia menekankan pentingnya menjaga profesionalisme, objektivitas, dan etika jurnalistik guna mempertahankan kepercayaan publik.

Hal itu disampaikannya Komaruddin dalam sambutan pada acara puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di kota Serang, Banten, Senin, 9 Februari 2026.

Komaruddin mengenang peran pers di masa lalu sebagai medium pendidikan publik sekaligus penjaga idealisme bangsa. Pada masa itu, surat kabar menjadi rujukan utama masyarakat dalam memperoleh informasi yang rasional, objektif, dan bertanggung jawab.

“Dulu orang bangun pagi menunggu surat kabar. Pers menjadi gatekeeper informasi masyarakat dan tumbuh bersama perjuangan bangsa,” ujarnya.

Namun, seiring perkembangan teknologi, peran tersebut perlahan terdesak oleh arus informasi berbasis logika bisnis yang didorong platform digital, media sosial, dan AI.

Masyarakat kini lebih banyak mengakses informasi melalui telepon genggam dengan konten yang cenderung emosional dan sensasional, mengikuti selera audiens.

Menurutnya, kondisi itu turut memengaruhi arus belanja iklan. Pengiklan lebih memilih platform dengan audiens besar di media sosial, sehingga pendapatan media pers konvensional menurun drastis.

“Di mana pemirsa banyak, iklan akan lari ke sana. Buying audience. Akibatnya, media pers mengalami penurunan dari sisi bisnis. Hampir tidak ada perusahaan pers yang tidak melakukan pengurangan karyawan,” katanya.

Atas kondisi tersebut, Komaruddin berharap adanya peran pemerintah untuk menciptakan keadilan distribusi iklan, sehingga keberlangsungan media pers tetap terjaga di tengah dominasi platform digital global.

Meski menghadapi tantangan, ia melihat semangat insan pers untuk tetap menjaga integritas, profesionalisme, dan etika jurnalistik. Ia menyebut tingkat kepercayaan publik terhadap pers masih relatif tinggi.

Namun, kepercayaan itu, lanjutnya, hanya dapat dipertahankan jika pers konsisten menjalankan prinsip profesionalisme dan objektivitas, termasuk menerapkan verifikasi informasi dan keberimbangan pemberitaan (cover both sides).

“Trust hanya lahir dari profesionalisme. Profesionalisme didukung objektivitas. Check and recheck. Itu yang membedakan pers dengan media sosial,” ujarnya.

Komaruddin juga mengungkapkan, Dewan Pers setiap hari menerima sedikitnya 10 pengaduan terkait pemberitaan, baik dari media sosial maupun produk jurnalistik. Banyak pengaduan dipicu lemahnya penerapan profesionalisme dan etika.

Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga etika sebagai prasyarat utama agar pers tetap dipercaya publik.

“Kita membutuhkan informasi yang jernih sebagaimana kita membutuhkan udara bersih, makanan, dan air yang layak. Informasi adalah konsumsi harian masyarakat. Karena itu, trust, integritas, profesionalisme, objektivitas, dan etika harus dijaga bersama,” kata Komaruddin.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jalan Rusak Jakarta Makan Korban Jiwa, Keluarga Bicara Kronologi Kejadian
• 6 menit lalutvonenews.com
thumb
Survei Indikator Politik: 79,9 Persen Publik Puas Kinerja Presiden Prabowo
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Surplus 2025 Capai USD41,05 Miliar, Mendag Ungkap Bekal Hadapi Tantangan Perdagangan di 2026
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Bukan Sekadar Hidangan, Ini Makna di Balik Makanan Khas Imlek
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bursa Saham Asia Menguat Senin Pagi, Nikkei Melonjak hingga 4,2%
• 7 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.