Grid.ID - Aktris senior Yessy Gusman dikenal lewat deretan film ikonik seperti Puspa Indah Taman Hati, Gita Cinta dari SMA, Romi dan Juli, serta banyak judul populer lainnya. Namanya hingga kini tetap melekat sebagai salah satu ikon perfilman Indonesia.
Kini, Yessy menjalani keseharian sebagai dosen dan aktif di organisasi doktor PAUD. Peran tersebut membuatnya lebih banyak berkutat di dunia pendidikan dan kegiatan sosial.
Meski fokus pada aktivitas tersebut, Yessy tidak sepenuhnya meninggalkan dunia seni peran. Di tengah kesibukannya, ia masih menyempatkan diri terlibat dalam proyek film dan teater.
“Karena sekarang saya ini kan sebagai dosen juga, dan saya juga di organisasi dokter PAUD, sudah cukup sibuk. Tapi kemarin saya baru selesai syuting film, jadi hampir bersamaan dengan teater ini, berjudul Menang untuk Kalah,” ujarnya saat berada di kawasan Cikini, Jakarta Pusat pada Jumat (6/2/2026).
Film itu menjadi pengalaman yang cukup berkesan bagi Yessy. Ia merasa cerita yang diangkat memiliki nilai penting untuk disampaikan kepada masyarakat.
“Yaitu kenapa saya mau? Karena itu mengangkat isu sosial, yaitu judol dengan pinjol, yang sudah banyak sekali korbannya di antara kita, di keluarga kita, yang saya rasa ini adalah sesuatu yang bagus untuk diangkat,” katanya.
Selain berkarya di dunia seni, wanita berusia 63 tahun ini juga aktif berinteraksi dengan generasi muda. Hal ini sejalan dengan profesinya sebagai pendidik di berbagai jenjang usia.
”Kebetulan karena saya sebagai pendidik dan guru PAUD, Pendidikan Anak Usia Dini umur 0 sampai 8 tahun. Jadi biasa bergaul dengan anak-anak kecil, guru-guru PAUD. Kalau kita bergaul dengan mereka, kita berbicara bahasa mereka,” ungkapnya.
Kebiasaan tersebut membuatnya mudah beradaptasi dalam berkomunikasi. Ia juga tidak mengalami kesulitan saat berinteraksi dengan anak muda karena dirinya memiliki mahasiswa yang semakin lama semakin muda.
“Saya juga dosen, di mana mahasiswa saya makin lama makin muda, karena semester pertama kedua kan. Saya nya bertambah usianya sedangkan mahasiswanya tuh baru terus,” katanya.
“Sehingga ada kejadian lucu, dulu mereka suka bilang ‘Bu Yessy dapat salam dari ibu saya, ibu saya dulu suka nonton filmnya’. Terus saya cuti nih mengajar, 5 tahun kemudian saya masuk, ‘Bu Yessy dapat salam’, ‘Dari siapa? Dari ibu kamu?’, ‘Bukan, dari nenek saya’. Jadi saya, ‘Wah, saya udah naik pangkat ya’. Gitu,” lanjutnya.
Meski demikian, ia mengaku menikmati kedekatannya dengan para mahasiswa yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri. Hubungan tersebut terjalin hangat dan membuatnya merasa nyaman menjalani perannya sebagai pendidik.
“Jadi udah biasalah sama mahasiswa itu saya anggap sebagai anak-anak saya juga, mereka kadang juga ke rumah, saya masakin. Jadi hubungan kita boleh dibilang saya menikmati sih,” pungkasnya. (*)
Artikel Asli


