Dua Petualang Berjalan Kaki Selama 518 Hari, Melintasi 16 Negara dari Prancis ke Shanghai

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Dua petualang asal Prancis tiba di Shanghai pada Jumat (7/2/2026), menuntaskan perjalanan epik yang dimulai dari kampung halaman mereka dan berlangsung hampir satu setengah tahun. Mereka melintasi 16 negara dan hampir seluruh perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki.

Dalam keadaan lelah namun penuh kebahagiaan, Loïc Voisot dan Benjamin Humblot berpelukan di tepi Sungai Huangpu, dengan latar belakang cakrawala Shanghai yang gemerlap—ikon pusat keuangan Tiongkok.

Voisot yang berusia 26 tahun dan Humblot 27 tahun berangkat pada September 2024 dari kota Annecy, di tenggara Prancis. Didorong oleh kerinduan akan “sebuah petualangan besar”, mereka ingin menuju Tiongkok, namun memilih tidak menggunakan pesawat demi menghindari dampak lingkungan dari industri penerbangan.

Dengan wajah yang dipahat angin dan cuaca, Voisot mengatakan kepada AFP: “Kami benar-benar sulit percaya bahwa ini nyata—bahwa kami menyelesaikan semuanya hanya dengan berjalan kaki. Kami telah lama memimpikan Shanghai, dan akhirnya sekarang kami berdiri di sini.”

Ia menambahkan: “Pertama-tama, kami merasa sangat bangga, terutama karena berani mewujudkan hal ini… Awalnya kami juga tidak yakin bisa berhasil, tapi kami mengatakan pada diri sendiri untuk setidaknya mencoba.”

Keduanya menempuh perjalanan selama 518 hari, menempuh jarak sekitar 12.850 kilometer. Setiap 5 hingga 7 hari mereka beristirahat sekali. Demi keselamatan dan urusan logistik, mereka sempat sebentar naik bus saat memasuki Rusia, namun di luar itu mereka berjalan kaki sekitar 45 kilometer per hari.

Di titik awal 10 kilometer terakhir, sekitar 50 orang berkumpul untuk menyambut mereka, termasuk warga setempat yang sejak musim gugur mengikuti perjalanan mereka di Tiongkok melalui media sosial. Seiring rombongan bergerak maju, jumlah orang terus bertambah—media, warga Prancis yang tinggal di Shanghai, serta masyarakat lainnya ikut bergabung.

Saat kedua petualang itu mengumumkan bahwa perjalanan berjalan kaki mereka telah resmi berakhir, sorak-sorai meriah pun pecah di lokasi.

“Tanggung jawab terhadap bumi”

Kedua pria ini telah saling mengenal sejak usia 10 tahun, dan bersama-sama menempuh pendidikan dari sekolah menengah hingga universitas. Suatu malam setelah pulang kerja di Paris, mereka mengobrol santai dan saling bertanya, “Jika kamu bisa melakukan apa saja yang kamu inginkan, apa yang akan kamu lakukan?”

Humblot berkata: “Ketika kami membicarakan petualangan, (Tiongkok) langsung terlintas di benak kami, lalu muncullah ide yang agak gila ini: pergi ke sana dengan berjalan kaki.”

Voisot, yang sehari-hari bekerja sebagai konsultan iklim, mengatakan: “Kami sangat memahami perubahan iklim dan tanggung jawab yang harus dipikul manusia… ada beberapa tindakan yang bisa kami lakukan secara pribadi.”

“Kami berusaha sebisa mungkin tidak naik pesawat—dan dalam hal ini, kami melakukannya dengan cukup baik!”

Biaya perjalanan ini sebagian berasal dari penggalangan dana publik dan sponsor perusahaan. Sepanjang perjalanan, jumlah pengikut mereka terus bertambah.

Seorang perempuan Tiongkok bermarga Gao, berusia 28 tahun, mengatakan bahwa ia ikut bergabung dalam etape terakhir perjalanan dan meminta tanda tangan mereka.

“Saya rasa mereka sangat mengagumkan—bukan hanya punya ide ini, tapi benar-benar mewujudkannya.”

Seorang perempuan bermarga Luo mengatakan bahwa ia mengenal pasangan petualang Prancis ini melalui platform media sosial Xiaohongshu.

Perempuan berusia 57 tahun itu berkata: “Saya sangat tersentuh, karena saya juga suka berjalan kaki. Bisa berjalan dari Prancis sampai ke sini benar-benar luar biasa.”

Ia menambahkan bahwa demi menyambut mereka, ia berjalan kaki dua jam dari rumahnya.

“Terus berjalan”

Seperti yang bisa dibayangkan, pasangan petualang ini juga menghadapi berbagai tantangan di sepanjang perjalanan.

Voisot mengatakan: “Musim dingin sangat berat, dan kami juga harus menyeberangi gurun di Uzbekistan.”
Ia merasa bangga karena dirinya “selalu memiliki tekad untuk terus melangkah”.

Humblot mengatakan bahwa secara umum mereka cukup baik soal makanan di sepanjang perjalanan, tetapi ada satu hal yang sangat mereka rindukan—keju Prancis.

Voisot tertawa sambil berkata: “Kedengarannya klise, tapi keju itu memang luar biasa enak.”

Keduanya mengaku belum sepenuhnya mencerna betapa besarnya pencapaian ini, dan mulai berpikir bahwa mereka “mungkin akan melanjutkan petualangan”.

Humblot berkata: “Kami sudah berjalan sampai ke laut ini, lalu muncul pikiran—mengapa tidak naik kapal dan terus ke timur, menuju Amerika Serikat?”

Dalam skenario itu, mereka bisa berjalan kaki melintasi Amerika Utara, lalu menyeberangi samudra kembali ke Prancis, dan akhirnya berjalan pulang ke Annecy, “menyelesaikan satu putaran penuh”.

Namun sebelum itu, masih ada rencana yang lebih mendesak dan juga lebih sederhana.

Ketika ditanya apa yang paling ingin ia lakukan setelah perjalanan berakhir, Voisot menjawab singkat: “Tidur nyenyak!” (Hui)

Dialihbahasakan dari CNA / Editor Lu Yongxin


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
60 Persen SPPG di Jakarta Sudah Beroperasi, Pemprov DKI dan BGN Teken MoU MBG
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Presiden Prabowo Kumpulkan Pimpinan TNI-Polri, Komisi I DPR: Momentum Evaluasi
• 1 jam laluokezone.com
thumb
OK OCE Wujudkan Wirausaha Lestari di Bali Ocean Days 2026
• 22 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Viral Disangka Gendong Mayat, Pria di Tambora Ternyata Bawa Biawak 2 Meter
• 8 jam lalusuara.com
thumb
Ini Pesan Prabowo ke Thomas Djiwandono yang Dilantik jadi Deputi Gubernur BI
• 30 menit laluviva.co.id
Berhasil disimpan.