Di bawah sanksi minyak Amerika Serikat, rezim diktator Kuba kini berada dalam tekanan berat dari dalam dan luar negeri. Di satu sisi, pemerintah meluncurkan rencana untuk “bertahan hidup dan menyelamatkan diri”, sementara di sisi lain juga menunjukkan niat untuk bernegosiasi dengan Washington.
EtIndonesia. Di bawah tekanan AS, Kuba pada Jumat (6 Februari) mengumumkan sebuah rencana untuk menjamin pasokan bahan bakar bagi sektor-sektor penting, termasuk pertanian, penyediaan air, layanan kesehatan, pertahanan, dan lembaga-lembaga terkait lainnya.
“Kita harus mengalokasikan kembali tenaga kerja agar mereka terus berkontribusi bagi kegiatan ekonomi dan sosial negara, terutama dalam layanan dasar masyarakat, produksi pangan, pekerjaan pertanian, dan bidang lain yang mendukung pembangunan ekonomi dan sosial nasional,” ujar Menteri Tenaga Kerja dan Jaminan Sosial Kuba, Jesús Otamendi Campos.
Namun, masyarakat tidak puas dengan kebijakan pemerintah. Sejak Jumat, pilihan transportasi di ibu kota Kuba, Havana, menjadi sangat terbatas, dan banyak bus terpaksa berhenti beroperasi. Sebagian besar warga menghadapi pemadaman listrik serta kekurangan pangan dan obat-obatan.
Warga Kuba, Emilio Padrón, mengatakan: “Pengorbanan? Benarkah masih harus ada pengorbanan lagi? Apa lagi yang bisa dikorbankan? Tidak ada lagi yang tersisa untuk dikorbankan.”
Setelah diktator Venezuela Nicolás Maduro ditangkap, Trump menyatakan bahwa Kuba merupakan ancaman bagi keamanan nasional Amerika Serikat.
Pemerintahan Trump menerapkan pendekatan yang menggabungkan bantuan kemanusiaan dan sanksi. Pada Kamis (5 Februari), AS mengumumkan bantuan sebesar 6 juta dolar AS untuk Kuba guna membantu pemulihan wilayah yang terdampak badai tahun lalu.
Juru bicara Gedung Putih pada Kamis mengungkapkan bahwa “rezim Kuba berada di ambang kehancuran” dan sedang menghadapi kemungkinan “runtuhnya kekuasaan”, serta bahwa kedua pihak saat ini sedang melakukan perundingan.
Juru bicara Gedung Putih, Leavitt, mengatakan: “Mereka seharusnya berhati-hati dalam menyikapi pernyataan Presiden Amerika Serikat. Namun saya kembali menegaskan, presiden selalu bersedia melakukan dialog diplomatik. Faktanya, hal ini memang sedang dibahas dengan pemerintah Kuba.”
Pada saat yang sama, perundingan antara Amerika Serikat dan Iran juga terus berlanjut. Delegasi AS dan Iran mengadakan pembicaraan pada Jumat di ibu kota Oman, Muscat. Trump menyatakan pada hari yang sama bahwa sejauh ini perkembangannya “sangat baik”.
Presiden AS Donald Trump mengatakan: “Saya rasa hari ini kami telah mencapai kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran. Kami akan bertemu lagi awal minggu depan. Mereka ingin mencapai sebuah kesepakatan, dan itulah yang seharusnya mereka inginkan.”
Trump memperingatkan bahwa jika Iran gagal mencapai kesepakatan dalam perundingan nuklir, konsekuensinya akan sangat serius.
Laporan gabungan oleh wartawan New Tang Dynasty Television, An Qi dan Tian Yuan.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5496152/original/002483700_1770480343-20260205AA_Indonesia_vs_Jepang-49.jpg)
