jpnn.com - JAKARTA – Kementerian Pertanian terus berupaya menguatkan pengelolaan data Statistik Pertanian Hortikultura (SPH).
Hal itu pun dibahas melalui kegiatan Mentan Sapa Penyuluh Petani (MSPP) Volume 4, Jumat (6/2), yang disiarkan melalui kanal YouTube @pusluhtanri dan Zoom Meeting, serta diikuti penyuluh dan petani dari berbagai daerah.
BACA JUGA: BPPSDMPÂ Kementan Buka Pendaftaran Young Ambassador Agriculture 2025
Data SPH menjadi fondasi utama dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program pembangunan hortikultura nasional.
Kegiatan interaktif ini menghadirkan Widhiyanti Nugraheni, Statistisi Ahli Madya Sekretariat Direktorat Jenderal Hortikultura, sebagai narasumber utama, didampingi Edi Puspito, Penyuluh Pertanian Ahli Madya.
BACA JUGA: Bagaimana Cara Daftar Brigade Swasembada Pangan? Ini Penjelasan Kepala BPPSDMP Kementan
Diskusi dipandu moderator Feby Suci Ramadhany yang menjembatani dialog antara pusat dan daerah.
Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam mempercepat swasembada pangan melalui pendayagunaan penyuluh, sebagaimana diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2025 tentang Pendayagunaan Penyuluh Pertanian untuk Percepatan Swasembada Pangan.
BACA JUGA: Pendapatan Petani Meningkat 95% Lewat Program PHLN BPPSDMP
Dalam arahannya, Mentan Amran menekankan bahwa akurasi data lapangan menjadi kunci keberhasilan program pembangunan pertanian. Integritas dan kecepatan kerja penyuluh dinilai sangat menentukan ketepatan kebijakan yang diambil pemerintah.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mendorong penguatan tata kelola data sebagai bagian dari profesionalisme aparatur.
Dia menegaskan peran penyuluh sangat vital sehingga seluruh jajaran perlu bergerak dalam satu irama dan satu komando. Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2025 juga menjadi dasar pengalihan status penyuluh menjadi pegawai pusat guna memperkuat koordinasi tersebut.
Dalam paparannya, Widhiyanti Nugraheni menjelaskan bahwa Statistik Pertanian Hortikultura (SPH) merupakan statistik sektoral yang mencakup proses pengumpulan, pengolahan, hingga penyajian data hortikultura. Data SPH menjadi dasar perhitungan indikator makro strategis, termasuk Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian, sehingga kualitas data sangat menentukan arah kebijakan.
“Statistik Pertanian Hortikultura atau SPH menjadi dasar pengambilan kebijakan hortikultura karena data yang kami kumpulkan digunakan untuk menghitung indikator makro, termasuk PDB sektor pertanian. Penyuluh berperan langsung dalam pengumpulan data SPH melalui metode CAWI sesuai periode pelaporan, dengan proses yang dilakukan secara berjenjang dari tingkat kecamatan hingga persetujuan di tingkat kabupaten,” ujar Widhiyanti Nugraheni.
Dia menambahkan bahwa koordinasi aktif dengan dinas pertanian daerah perlu terus diperkuat untuk menjaga akurasi dan validitas data, terutama di wilayah dengan keterbatasan jumlah penyuluh.
Pengisian data SPH juga terintegrasi dengan Indikator Kinerja Individu (IKI) sebagai bagian dari penguatan profesionalisme penyuluh.
Sementara itu, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian I Gusti Made Kuswandana berharap kegiatan ini semakin memperkuat pemahaman penyuluh akan pentingnya akurasi data. Menurutnya, pengembangan kompetensi dan pengelolaan karier menjadi bagian penting dalam membentuk aparatur yang profesional, berintegritas, dan berdaya saing.
Menutup kegiatan, Edi Puspito menyampaikan bahwa transformasi digital dalam pendataan merupakan tantangan yang harus dihadapi bersama. Ia menegaskan kemauan untuk terus belajar menjadi kunci agar penyuluh mampu beradaptasi dan menjaga integritas data dalam mendukung swasembada pangan yang berkelanjutan. (*/jpnn)
Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5495646/original/003234800_1770385029-thom.jpeg)