Komaruddin Hidayat Ketua Dewan Pers periode 2025–2028 menegaskan pentingnya keadilan royalti bagi insan pers di tengah masifnya pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) oleh platform digital global.
Menurutnya, perkembangan AI tidak boleh mengorbankan hak cipta dan keberlanjutan ekonomi industri media.
Dalam wawancara bersama Radio Suara Surabaya yang bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 pada Senin (9/2/2026), Komaruddin menyoroti praktik penggunaan konten jurnalistik oleh mesin AI tanpa izin maupun kompensasi yang adil kepada produsen berita.
Menurutnya, hal ini menciptakan ketidakadilan ekonomi yang semakin menekan industri media mainstream.
“Kita sedang bernegosiasi agar karya jurnalistik itu dihargai. Jangan seenaknya diambil, ‘dirampok’ oleh AI, kemudian disebarkan tanpa royalti pada pengarangnya,” ujar Komaruddin.
Ia menambahkan bahwa pemerintah perlu hadir untuk menciptakan ekosistem digital yang adil. Baginya, AI ibarat sebuah “mal besar” di mana mesin pencari bisa mengambil data apa saja, namun sering kali mengabaikan hak intelektual para jurnalis dan penulis yang memproduksi konten tersebut.
Di tengah penurunan pendapatan iklan yang bermigrasi ke media sosial, Komaruddin juga menyebut bahwa industri pers saat ini sedang berada dalam masa keprihatinan.
Banyak perusahaan pers terpaksa melakukan langkah efisiensi, termasuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), karena ekosistem bisnis yang tidak lagi menguntungkan pihak produsen konten asli.
Lebih lanjut, Ketua Dewan Pers juga mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI untuk memperkuat kedaulatan data nasional. Ia menilai, ketergantungan pada platform global yang menguasai data dan informasi merupakan ancaman bagi kedaulatan sebuah negara.
“Pemerintah hendaknya menciptakan kedaulatan digital. Jika informasi dan data dipegang pihak lain tanpa regulasi yang adil, ini bahaya. Pers yang sehat adalah jembatan kritik antara pemerintah dan masyarakat yang harus dilindungi keberlangsungannya,” terangnya.
Menutup wawancara, Komaruddin mengajak seluruh insan pers untuk tetap optimis dan inovatif. Ia percaya bahwa di balik disrupsi teknologi, akan selalu muncul peluang baru bagi mereka yang tetap menjaga integritas dan kepercayaan publik. (saf/iss)


