Masih banyak ibu hamil yang memilih mengurangi aktivitas fisik karena takut membahayakan janin. Padahal, anggapan bahwa olahraga saat hamil itu berbahaya adalah mitos alias keliru.
Dokter Spesialis Obgyn, dr. Riyana Kadarsari, Sp.OG, menegaskan bahwa olahraga bukan hanya boleh dilakukan oleh ibu hamil, tetapi justru sangat dianjurkan.
“Olahraga itu tidak haram, wajib malah buat ibu hamil,” ujarnya dalam acara Edukasi Prenatal & Postnatal Spa Treatment di Jakarta Pusat, Kamis (5/2).
Alasannya yaitu karena kehamilan akan berujung pada proses fisik yang sangat berat, yaitu persalinan dan menyusui. Melahirkan membutuhkan tenaga, daya tahan, dan kemampuan tubuh untuk bergerak aktif. Jika selama hamil ibu terlalu pasif, tubuh akan kesulitan menghadapi tantangan tersebut.
Ia juga mengingatkan, proses persalinan yang nyaman sangat bergantung pada kemampuan ibu untuk bergerak. Bahkan di kamar bersalin, ibu dianjurkan untuk mengubah posisi agar proses lahir lebih optimal. Namun, jika sejak hamil ibu terbiasa mager dan jarang bergerak, kemampuan tubuh untuk beradaptasi saat persalinan pun menjadi terbatas.
“Nah, hamilnya aja mager (malas gerak). Kira-kira bisa nggak ubah posisi pas melahirkan? Boro-boro. Karena berat gitu, baru nanti olahraga,” kata dr. Riyana.
Kesalahan lainnya adalah anggapan bahwa olahraga cukup dilakukan menjelang persalinan. Menurut dr. Riyana, pemikiran ini sangat keliru. Di akhir kehamilan, berat badan ibu bisa naik hingga 15–20 kilogram. Jika baru mulai berolahraga saat tubuh sudah seberat itu, aktivitas ringan pun akan terasa sangat melelahkan.
“Baru jalan 100 meter aja pengin makan bakso. Ya enggak? karena udah berat banget,” sambungnya.
Selain itu, masih banyak juga ibu yang takut berolahraga di trimester pertama karena khawatir keguguran. Padahal, dr. Riyana menegaskan keguguran umumnya tidak berkaitan dengan aktivitas fisik.
“Padahal olahraga dan keguguran tidak ada kaitan sama aktivitas fisik. Di trimester pertama, ibu takut banget bergerak. Nah, keguguran itu, apalagi di hamil trimester muda, dua bulan pertama ya, itu lebih ke seleksi embrio. Kalau embrionya jelek, dengan sendirinya tubuh akan berdarah kontraksi. Jadi bukan karena aktivitas fisik,” pungkasnya.





