Jalan yang Sunyi Pernah Ditempuh Bersama Siapa?

erabaru.net
1 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada tahun itu, akhirnya dia memutuskan untuk melarikan diri dari suaminya yang kecanduan judi. Dia mengemas barang-barang dari rumah lama di wilayah utara, lalu membawa tiga orang anaknya menempuh perjalanan panjang ke selatan, demi menghindari kejaran sang suami dan para penagih utang.

Sejak saat itu, setiap hari pukul tiga setengah pagi dia sudah bangun. Dia mengayuh sepeda tua yang dipinjam dari tetangga menuju pasar, membeli bahan-bahan masakan untuk hari itu. Setibanya di rumah, dia meracik dan menggulungnya dengan teliti menjadi sushi yang rapi dan menggugah selera. Saat anak-anak dan orang muda bergegas ke sekolah dan tempat kerja, dia membuka lapak di depan halte bus untuk menjajakan dagangannya.

Selesai menjual sarapan, dia pulang ke rumah. Dua anaknya sudah berangkat ke sekolah.

Dia lalu mengeluarkan potongan kain, memotong dan menjahitnya sesuai pesanan pabrik. Setelah beberapa jam berlalu, menjelang siang, dia harus kembali membawa batch kedua sushi yang disimpan di lemari es, menuju sebuah kawasan ramai—di bawah terik matahari atau hujan deras—sambil menghindari razia aparat dan terus berjualan.

Usai menjual makan siang, dia pulang lagi ke rumah untuk menjahit pakaian hingga sekitar pukul empat sore. DIa menyiapkan makan malam sederhana untuk anak-anak dan meletakkannya di meja. Setelah menelan makanan seadanya untuk mengganjal perut, dia kembali mengayuh sepeda menuju sebuah perusahaan yang cukup jauh. Di sana dia mencatat kehadiran dan berubah peran menjadi petugas kebersihan, bergegas membersihkan lantai demi lantai gedung.

Pukul sepuluh malam dia tiba di rumah. Anak-anak seharusnya sudah beristirahat.

Dengan sisa tenaga yang hampir habis, dia masih harus mempertahankan perannya sebagai seorang ibu—memanggil anak-anak dengan lembut agar masuk ke kamar tidur, sambil menelan kembali air mata yang hampir tumpah karena lelah, letih, kecewa, dan duka yang menyesakkan.

Hari demi hari dia bertahan seperti itu. Bertahun-tahun kemudian, dia akhirnya berhasil menabung sejumlah uang. Dia pun berhenti menjual sushi yang paling menguras tenaganya dan menolak pekerjaan jahit. Pada siang hari dia bekerja di sebuah toko bunga di dekat rumah, sementara malam harinya tetap menjadi petugas kebersihan.

Satu atau dua tahun berlalu, seorang teman menawarkan untuk menyerahkan pengelolaan toko bunga itu kepadanya. Dia pun berhenti bekerja sebagai petugas kebersihan dan sepenuhnya mencurahkan diri mengelola toko bunganya.

Perlahan tapi pasti, usaha tokonya semakin maju. Reputasinya bahkan melampaui saat toko itu dikelola oleh temannya. Kehidupan pun semakin membaik, dan berkat pengorbanannya, ketiga anaknya tumbuh menjadi pribadi berpendidikan tinggi dan berprestasi.

Ketika orang bertanya bagaimana dia bisa membawa hidupnya mencapai puncak seperti itu, dia selalu menitikkan air mata sambil mengenang segala kesendirian dan penderitaan. Dia merasa tak seorang pun pernah menderita sepertinya, dan semua keberhasilan itu murni hasil jerih payahnya sendiri.

Di balik kebanggaan itu, tersimpan kesedihan yang mendalam—betapa panjang dan sunyinya jalan yang ia lalui, tanpa ada satu pun yang menolongnya.

Pada usia lima puluh tahun, anak-anaknya mengadakan sebuah pesta ulang tahun yang sangat istimewa untuknya.

Hari itu dia bekerja seharian penuh di toko bunga hingga kelelahan. Begitu membuka pintu ruang tamu, sorak-sorai nyaris mengangkat atap rumahnya.

Saat dia menatap lebih saksama, ternyata yang hadir adalah teman-teman lamanya selama dua puluh tahun terakhir. Banyak di antara mereka telah merantau ke berbagai tempat, namun demi ulang tahunnya, mereka rela datang dari jauh.

Kenangan lama pun bermunculan. Tetangga yang pernah memberinya sepeda bekas—karena khawatir dia harus bersepeda setiap hari—selama bertahun-tahun secara rutin memperbaikinya. Dia baru tersadar, sepeda orang lain makin lama makin usang, sedangkan sepedanya justru terasa semakin baru, karena sang tetangga selalu mengganti suku cadang dengan uang pribadinya.

Di sudut ruang tamu, seorang wanita duduk sambil tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dia teringat, dialah tetangga berhati lembut yang dulu, ketika dia terlalu sibuk hingga tak sempat memasak, selalu datang setiap malam dan memaksanya makan di rumahnya, bahkan menyiapkan bekal untuk anak-anaknya.

Dia terkejut memandangi wajah-wajah lain di ruangan itu. Ada yang selama bertahun-tahun menyumbangkan pakaian untuk anak-anaknya. Ada yang memperbaiki peralatan rumah tangga tanpa pernah meminta bayaran. Ada yang mengambil alih pekerjaannya saat dia sakit. Ada pula yang dengan sukarela datang setiap malam membantu anak-anaknya mengerjakan PR.

Orang-orang itu datang dan pergi seiring waktu berlalu. Dia hampir melupakan keberadaan mereka.

Dia menoleh pada tiga anaknya yang berharga dan penuh kasih, terharu hingga tak mampu berkata apa-apa. Kesuksesannya ternyata tidak pernah diraih sendirian. Perjuangannya tidaklah sepi. Begitu banyak orang telah berbagi beban dengannya, dan akhirnya hati yang lama tertekan pun menjadi lega.

Rasa syukur dalam hidup perlu kita ingat dengan sengaja, satu per satu.

Begitu banyak orang yang pernah mengulurkan tangan—memberi secuil harapan di sana sini—ibarat pasir di tepi pantai: pernah hadir, lalu menghilang tanpa jejak.

Ketika kita menghitung satu per satu anugerah yang diberikan Tuhan, barulah kita sadar bahwa kekuatan untuk terus bangkit berasal dari dukungan banyak orang.

Hati yang penuh syukur mampu menenangkan kesepian, menembus penderitaan hidup yang tampak tak tergoyahkan, menarik kita keluar dari kesulitan, dan mendorong kita untuk terus melampaui diri sendiri.

Renungan

Manusia adalah makhluk yang mudah lupa. Dalam kesibukan hidup, kita kerap melupakan perhatian dan kepedulian orang lain—entah itu hanya kata penyemangat, atau bahkan ujian yang terasa menyulitkan. Namun ketika menoleh ke belakang, kenangan itu sering kali justru menghadirkan rasa haru dan syukur.

Sentuhan kehidupan kadang perlu direnungkan dengan saksama agar terasa kembali. Hidup menjadi indah karena kehadiran sesama. Meski saya hanyalah satu dari sekian banyak orang di lautan dunia maya, dan mungkin hanya singgah sekejap dalam hidup Anda, semoga berbagi singkat ini bisa meninggalkan satu momen indah di hati Anda.(jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Profil Igor Thiago, Mesin Gol Brasil Bermimpi Main di Piala Dunia 2026
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
Muhaimin Tegaskan Tiga Peran Utama Pers di Era Digital
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Truk Ugal-ugalan Sebabkan Kecelakaan di Nigeria, 30 Orang Tewas
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
MA soal OTT Hakim Depok: Terima Kasih KPK, Menyakitkan tapi Bantu Bersih-bersih
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Menkomdigi Harap Perpres Penggunaan AI Segera Terbit, Singgung Disinformasi
• 19 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.