PT Kereta Api Indonesia atau KAI mencatat ada sebanyak 908 unit KRL yang beroperasi di wilayah Jabodetabek saat ini telah berusia antara 34 hingga 41 tahun. Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengungkapkan mayoritas armada berusia tua tersebut berasal dari pengadaan kereta bekas yang diimpor dari Jepang.
"KRL Jabodetabek pada saat ini, itu ada yang berumur 34 sampai 41 tahun, itu dulunya kita impor dari kereta bekas dari JR East, ada sebanyak 780 unit. Dan kemudian ada kita impor kereta bekas juga dari Tokyo Metro, itu sebanyak 128 unit," ujar Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XI DPR, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (9/2).
Untuk sarana yang relatif baru, KAI telah mengoperasikan kereta produksi dari China Railway Rolling Stock Corporation (CRRC) Sifang dan dalam negeri buatan PT Industri Kereta Api atau INKA.
"Sedangkan yang telah kita operasikan dari kereta baru itu adalah dari CRRC Sifang, itu ada 132 unit atau 11 trainset, dan INKA sebanyak 48 unit atau 4 trainset," ungkap Bobby.
Bobby menilai komposisi armada tersebut mencerminkan dua kondisi proyeksi layanan di masa depan, yakni apabila tidak dilakukan pengadaan sarana baru dan apabila pengadaan tetap dilanjutkan.
“Kalau tanpa pengadaan sarana maka di tahun 2030 itu akan terjadi lonjakan (kepadatan penumpang) sampai 630 persen, sedangkan kalau dengan pengadaan sarana baru itu ada 156 persen," kata Bobby.
Saat ini, tingkat kepadatan penumpang pada jam sibuk sudah tergolong tinggi. Dalam satu gerbong, jumlah penumpang bisa mencapai 300 orang.
"Perlu digarisbawahi pada saat ini, satu gerbong pada peak hour itu penumpangnya sekitar 300 orang, pak. Jadi kalau kita lihat ukuran gerbong itu adalah sekitar 3x20 meter, 60 meter persegi, kalau dibagi dengan 300 berarti 1 meter persegi itu ditempati oleh 5 orang pada saat ini," tutur Bobby.
KRL Buatan INKA Ditarget Beroperasi Sebelum Juli 2026Dalam kesempatan yang sama, Bobby juga menargetkan sebanyak 11 rangkaian KRL Jabodetabek buatan INKA dapat mulai beroperasi sebelum Juli 2026. Rangkaian tersebut merupakan bagian dari total 16 trainset yang dipesan.
Bobby mengatakan hingga saat ini empat trainset telah diterima dan sudah beroperasi. Sementara satu trainset lainnya telah tiba dan diterima oleh PT KAI Commuter, tetapi masih belum dapat digunakan karena masih menjalani tahap pengujian.
"Train set 1, 2, 3, dan 4 ini telah beroperasi, sedangkan 1 di Desember kemarin dalam masa uji. Kita harapkan dari 16 train set ini sisa dari 11 train set yang lainnya itu akan bisa kami operasikan sebelum bulan Juli tahun 2026 ini," ujar Bobby.
Bobby mengungkapkan kebutuhan pengadaan sarana perkeretaapian mencapai Rp 9,18 triliun. Pendanaan tersebut berasal dari beberapa sumber, termasuk Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp 5,3 triliun.
Selain itu, pembiayaan juga ditopang oleh kas internal PT KAI Commuter mencapai Rp 190 miliar, serta fasilitas kredit berjangka waktu 15 tahun senilai Rp 3,69 triliun.



