Menyusuri Jejak Pembebasan Irian Barat di Museum Monumen Mandala

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR-Dari luar, Monumen Mandala berdiri kokoh di jantung Kota Makassar. Tingginya menjulang, bentuknya tegas, dan bagi sebagian orang, monumen ini hanyalah penanda arah atau latar swafoto. Namun, begitu melangkah masuk ke dalamnya, monumen ini berubah menjadi ruang sunyi yang menyimpan cerita panjang tentang perjuangan yang tak selesai pada 1945.

Di balik dinding beton dan relief-relief perjuangan itu, terdapat Museum Mandala, ruang ingatan tentang pembebasan Irian Barat dan merupakan episode penting yang menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah proses panjang, penuh negosiasi, strategi, dan pengorbanan.

“Banyak yang mengira perjuangan Indonesia selesai setelah proklamasi. Padahal tidak, masih ada wilayah yang harus diperjuangkan, salah satunya Irian Barat,” ujar Muhammad Mahazir Thamri, staf UPT Museum Mandala yang akrab disapa Acil.

Acil mulai bercerita dan seolah mengajak pengunjung kembali ke masa ketika Indonesia masih berhadapan dengan kepentingan kolonial Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan tahun 1949, Belanda memang menyerahkan sebagian besar wilayah Hindia Belanda kepada Indonesia. Namun Papua atau Irian Barat masih ingin mereka pertahankan.

Presiden Soekarno kala itu memilih banyak jalan. Diplomasi internasional ditempuh, suara Indonesia bergema di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Belanda sempat berjanji akan membahas status Irian Barat setahun setelah 1949, tetapi janji itu tak pernah ditepati. “Karena itulah Indonesia tidak hanya mengandalkan diplomasi, tapi juga menyiapkan strategi lain,” kata Acil.

Cerita itu divisualisasikan dalam 12 diorama di lantai dua museum, yang merekam peristiwa penting sejak pertengahan 1950-an hingga puncak perjuangan pembebasan Irian Barat. Diorama-diorama ini menjadi jembatan bagi generasi hari ini untuk memahami sejarah tanpa harus membaca dokumen tebal atau arsip lama.

Makna di Balik Bentuk dan Angka

Tak hanya isinya, bangunan Monumen Mandala sendiri sarat simbol. Secara keseluruhan, monumen ini memiliki tinggi 75 meter, dengan menara setinggi 62 meter, angka yang melambangkan tahun 1962, tahun pembebasan Irian Barat.

Bentuk segitiga sama sisi yang menjadi struktur utama monumen melambangkan Tri Komando Rakyat (Trikora). Dari sudut tertentu, monumen ini tampak miring, ilusi visual yang muncul karena puncaknya berbentuk segi enam, berbeda dari struktur dasarnya.

“Banyak yang foto dari hotel atau media sosial lalu bilang monumennya miring. Padahal itu efek bentuk bangunannya,” jelas Acil.

Di sekeliling monumen, relief api dan bambu runcing menyimbolkan semangat juang rakyat. Api juga hadir di puncak monumen, bukan emas seperti Monas namun tetap menyala sebagai lambang perjuangan yang tidak padam.

Menariknya, bagian bawah monumen justru menyerupai rumah-rumah Belanda. Bentuk ini diadaptasi dari bangunan bekas Markas Komando Mandala, yang dulu digunakan dalam operasi pembebasan Irian Barat. Sejarah bukan hanya diceritakan, tetapi benar-benar “dibangun” ke dalam monumen ini.

Museum yang Bertahan di Tengah Keterbatasan

Di dalam Monumen Mandala terdapat empat lantai museum. Tiga lantai dapat diakses melalui tangga, sementara lantai puncak seharusnya bisa dicapai dengan lift. Namun sejak awal 2000-an, lift tersebut tak lagi berfungsi.

“Masalahnya bukan sekadar rusak, ini soal anggaran, usia bangunan, dan keselamatan. Kalau mau pasang lift baru, harus ada kajian K3 yang sangat ketat,” ungkap Acil.

Lantai tiga museum sendiri saat ini sedang dalam tahap konservasi. Patung-patung yang berada di sana baru selesai dirawat dan belum seluruhnya dipasang kembali. Meski begitu, aktivitas museum tetap berjalan.

Museum Mandala berada di bawah pengelolaan UPT Museum Mandala dan Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat, di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan. UPT ini juga mengelola Museum La Galigo.

Mengapa Makassar?

Pertanyaan klasik yang kerap muncul dari pengunjung adalah mengapa monumen pembebasan Irian Barat justru dibangun di Makassar?

Makassar dipilih karena perannya yang sangat strategis. Kota ini pernah menjadi pusat Markas Komando Mandala, setelah sebelumnya berada di Jakarta. Letaknya yang lebih dekat dengan Papua membuat mobilisasi dan koordinasi jauh lebih efektif.

“Makassar itu pintu gerbang ke Papua dan monumen pembebasan Irian Barat juga tidak hanya ada di sini. Di Jakarta ada di Lapangan Banteng, di Papua dan Maluku juga ada,” ujarnya.

Di antara pengunjung siang itu, Alfi, mahasiswa Unhas, tampak memperhatikan salah satu diorama. Baginya, museum ini memberi pengalaman yang berbeda dari pelajaran sejarah di kelas.

“Biasanya sejarah cuma lewat buku atau slide, dii sini saya bisa lihat alurnya, peristiwanya, jadi lebih kebayang kalau perjuangan itu nyata dan panjang,” ucapnya.

Menurut Alfi, Museum Mandala bukan sekadar tempat menyimpan benda lama, tetapi ruang refleksi untuk generasi mendatang.

Menjaga Ingatan, Menjaga Arti

Di tengah hiruk-pikuk kota dan bergesernya ikon-ikon Makassar, Monumen Mandala mungkin tifak lagi menjadi satu-satunya penanda visual. Namun, museum di dalamnya tetap berdiri sebagai penjaga ingatan.

Ia mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu, melainkan fondasi yang menjelaskan mengapa Indonesia berdiri seperti hari ini. Dan di balik menara setinggi 62 meter itu, cerita tentang Irian Barat terus menunggu untuk didengar dan oleh siapa pun yang mau melangkah masuk dan menyimak.

Oleh: Athaya dan Adam
Mahasiswa Magang Fajar, Unhas
Foto: Wulan


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
10 Ucapan Sambut Ramadhan 2026/1447 H Menyentuh Hati, Cocok untuk Caption Media Sosial
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Sopir Wanita yang Menabrak Bocah WNI Berusia 6 Tahun hingga Meninggal Dunia di Singapura Langsung Ditangkap Aparat
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Pacitan Rawan Gempa, BNPB dan DPR RI Perkuat Kesiapsiagaan
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
Prabowo Mau Bangun Gedung 40 Lantai di Bunadaran HI untuk MUI
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Asintel Danpaspampres: Penganiaya Ojol Bukan Paspampres, tapi Denma Mabes TNI
• 2 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.