FAJAR, SURABAYA — Jumlah legiun asing Pasukan Ramang kini genap sebelas. Sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan penanda arah musim.
Kedatangan Dusan Lagator langsung mendongkrak nilai pasar skuad. Gelandang bertahan asal Montenegro itu kini menjadi pemain dengan valuasi tertinggi di tubuh PSM—Rp7,82 miliar. Total nilai skuad mendekati Rp98,21 miliar. Nyaris menyentuh angka simbolik: seratus miliar rupiah.
Namun sepak bola tak pernah selesai di angka.
Sheriddin Boboev lebih dulu hadir dalam narasi publik. Ia terbang dari Dushanbe pukul 02.00 waktu setempat. Unggahan Instagram dari dalam pesawat menjadi penanda visual bahwa perjalanan menuju Makassar bukan lagi rumor. Tetapi kedatangan fisik hanyalah separuh cerita. Separuh lainnya adalah administrasi—International Transfer Certificate, pengesahan federasi, serta bayang-bayang sanksi FIFA yang sempat membelenggu klub.
Nama Boboev akhirnya resmi tercantum. Nomor 21 melekat di punggungnya.
Lagator datang lebih sunyi. Tanpa sambutan visual yang ramai. Namun ketika nomor 94 terdaftar di sistem liga, segala spekulasi berhenti. Ia resmi menjadi bagian dari Juku Eja—dan sekaligus menggeser Yuran Fernandes sebagai pemain dengan nilai pasar tertinggi.
Keseimbangan yang Dicari Tomas
Lagator bukan sekadar tambahan. Ia adalah kebutuhan.
Tomas Trucha berulang kali menyebut kata keseimbangan dalam beberapa pekan terakhir. PSM musim ini terombang-ambing di papan tengah. Lini belakang mudah goyah, sementara lini depan tumpul di 20 meter terakhir.
Sejak kepergian Lucas Dias, daya gedor PSM terasa timpang. Umpan terakhir kerap terhenti. Crossing tak menemukan sasaran. Penyelesaian akhir menjadi persoalan berulang.
Tujuh laga tanpa kemenangan—dua imbang dan lima kalah—mendorong PSM ke peringkat 13. Jarak ke zona degradasi hanya tujuh poin. Ambisi lima besar yang sempat digaungkan kini terdengar seperti gema jauh.
Trucha membutuhkan pemain bertahan berkaki kanan yang fleksibel—mampu bermain di dua sisi sekaligus menjadi gelandang jangkar. Profil itu melekat pada Lagator.
Di sisi lain, Boboev disiapkan sebagai penyerang serbaguna. Ia bisa menjadi ujung tombak, bergerak dari sayap, bahkan turun sebagai second striker. Pada usia 26 tahun, ia telah mencatat 26 caps bersama tim nasional Tajikistan. Musim lalu bersama Ravshan Kulob, ia mencetak tujuh gol dari 19 laga. Dengan tinggi 182 sentimeter, ia bukan target man statis. Ia menekan, bergerak, dan mencari ruang.
Administrasi Selesai, Pertaruhan Dimulai
Masuknya dua pemain ini menjadi mungkin setelah PSM resmi bebas dari sanksi FIFA pada 2 Februari 2026 pukul 23.55 Wita. Sebelumnya, ancaman larangan transfer tiga periode sempat kembali membayangi, diduga terkait persoalan tunggakan gaji.
Kini, sebelas pemain asing resmi terdaftar: Savio Roberto, Alex Tanque, Jacques Medina, Gledson Paixao, Aloisio Soares, Victor Luiz, Yuran Fernandes, Daisuke Sakai, Luka Cumic, Dusan Lagator, dan Sheriddin Boboev.
Kuota penuh. Bursa selesai. Tidak ada ruang tambahan.
Namun angka Rp100 miliar tak otomatis menghapus krisis.
Sleman sebagai Titik Balik?
Kemenangan 2-1 atas PSBS Biak menjadi jeda napas setelah tujuh laga tanpa kemenangan. Gol Rizky Eka Pratama pada menit ke-43 mengubah psikologi pertandingan. Gledson Paixao menggandakan keunggulan di menit ke-54 lewat skema efektif dan pragmatis—cerminan pendekatan baru Tomas.
Gol balasan Ruyery pada menit ke-80 sempat menghidupkan tensi. Tetapi kali ini PSM tidak goyah.
Absennya Ananda Raehan dan Savio Roberto memaksa Tomas meramu ulang komposisi tim. Lagator, Luka Cumic, dan Boboev mulai diperkenalkan sebagai energi baru.
Belum sepenuhnya dominan, tetapi kehadiran mereka memberi opsi yang sebelumnya tak dimiliki PSM. Lagator menghadirkan ketenangan membaca arah bola. Cumic memberi variasi dari sisi lapangan. Boboev menambah intensitas tekanan di lini depan.
Secara psikologis, kemenangan di Sleman menjadi fondasi penting. Ia memutus rantai kegagalan dan mengembalikan sedikit kepercayaan diri ruang ganti.
Nilai skuad boleh mendekati Rp100 miliar.
Sebelas pemain asing telah lengkap.
Administrasi selesai.
Tetapi musim belum selesai.
Lagator diharapkan menjadi jangkar. Boboev diharapkan menjadi jawaban atas kebuntuan.
Di Makassar, sepak bola bukan sekadar taktik. Ia menyentuh siri’ na pacce—harga diri dan solidaritas.
Dan dalam musim yang limbung seperti ini, satu kemenangan bisa menjadi awal dari cerita yang sama sekali berbeda.



