Ujian Berat Prabowo: PKB dan PAN 'Tes Ombak' Tanpa Gibran, Siapkah Lepas dari Bayang-Bayang Jokowi?

suara.com
5 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Dukungan PKB-PAN tanpa Gibran dinilai sebagai strategi tes ombak kesiapan Prabowo.
  • Prabowo diprediksi lebih memilih berkoalisi dengan Megawati dibanding bayang-bayang politik Jokowi.
  • Deklarasi dukungan dini bertujuan mengamankan posisi menteri partai dari ancaman reshuffle.

Suara.com - Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir, menilai dukungan Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB dan Partai Amanat Nasional (PAN) kepada Prabowo Subianto untuk dua periode sebagai upaya 'cek ombak'. Pasalnya, dukungan tersebut tidak menyertakan nama Gibran Rakabuming Raka sebagai calon pendamping.

Zuly melihat situasi ini sengaja diciptakan untuk mengukur kesiapan dan arah politik Prabowo ke depan, termasuk menguji apakah sang presiden bersedia maju kembali tanpa didampingi putra sulung Joko Widodo tersebut.

"Ini sedang mengetes ombak. Bagaimana kira-kira kesiapan Pak Prabowo apabila mendapatkan dukungan dari partai lain di luar Gerindra, seperti PAN dan PKB," kata Zuly saat dihubungi, Senin (9/2/2026).

Menurut Zuly, manuver ini menempatkan Prabowo pada posisi dilematis. Dengan adanya dukungan dari minimal dua partai yang secara tersirat mengesampingkan Gibran, dinamika pemilihan calon wakil presiden menjadi isu krusial yang tengah dimainkan.

"Ini situasi awal, dan kita tahu politik bisa berubah setiap menit. Dukungan saat ini belum tentu bertahan besok, tergantung bagaimana kandidat yang diusung merespons," imbuhnya.

Sinyal Pisah Kongsi dengan Kekuatan Lama

Zuly membaca tidak disertakannya nama Gibran dalam paket dukungan sebagai indikasi potensi pecah kongsi antara Prabowo dengan Joko Widodo. Ia memprediksi Prabowo mulai memperhitungkan untuk melepaskan diri dari bayang-bayang pengaruh pendahulunya, mengingat kekuatan politik mantan presiden cenderung meredup seiring waktu.

"Ini jangan-jangan Prabowo akan melakukan say goodbye pada koneksi atau oligarki Jokowi. Jika itu terjadi, dinamika politik akan sangat ramai," ungkap Zuly.

Kalkulasi tersebut, menurut Zuly, dapat mendorong Prabowo untuk lebih memilih mendekat kepada kekuatan partai dengan basis parlemen kuat seperti PDI Perjuangan dibandingkan mempertahankan aliansi dengan loyalis Jokowi. Membangun poros bersama Megawati Soekarnoputri dinilai lebih masuk akal secara politik saat ini.

Baca Juga: Tembus 79,9 persen, Kenapa Kepuasan Kinerja Prabowo Lebih Tinggi dari Presiden Sebelumnya?

Motif Mengamankan Kursi Kabinet

Di luar strategi elektoral, Zuly menyoroti aspek pragmatisme di balik deklarasi dini ini. Ia menilai dukungan PKB dan PAN tak lepas dari upaya menjaga stabilitas posisi kader mereka di dalam kabinet saat ini agar aman dari ancaman perombakan (reshuffle).

"Bagaimanapun, kader mereka di kabinet sudah banyak. Agar tidak di-reshuffle, maka mereka memberikan dukungan sejak awal," paparnya.

Sifat dukungan ini dinilai Zuly sangat transaksional dan berjangka pendek, di mana partai politik cenderung menerapkan prinsip take and give secara instan tanpa mempertimbangkan visi politik jangka panjang.

"Teori politik yang mengatakan 'when you give, get value' benar-benar terjadi. Politik kita belakangan ini kurang mendukung iklim perpolitikan yang berkelanjutan (sustain)," pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menteri LH Beri Catatan Kritis tentang Pengelolaan Sampah di Surabaya
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Peminat IUP Unpad 2026 Melonjak, Buruan Daftar Kuota Terbatas
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
Ledakan Maut di Pabrik Bioteknologi Makan Korban, 8 Tewas
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Fakta-Fakta Kasus Pelajar Siram Air Keras ke Pelajar di Cempaka Putih: Pelaku Potong Jalur Korban hingga Kondisi Korban Memprihatinkan
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Ketum GPA: Isu Kapolri Membangkang Presiden Prabowo Adalah Rekayasa Opini, Polri Sedang Diserang
• 4 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.