Cerita Pekerja Muda Jalani Multi Job: Siang di Kantor, Malam Freelancer

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Siang hari diisi rutinitas kantor, malam berganti layar laptop dan notifikasi klien yang tak berhenti.

Bagi sebagian pekerja muda di kota besar, pola kerja seperti ini bukan lagi pengecualian, melainkan kenyataan sehari-hari.

Mereka menjalani dua hingga tiga pekerjaan sekaligus demi menjaga stabilitas keuangan di tengah biaya hidup yang terus meningkat.

Fenomena multi job kini kian terlihat di kalangan generasi muda perkotaan.

Baca juga: Gaji Tak Seimbang dengan Biaya Hidup, Pekerja Muda Lakoni Banyak Pekerjaan

Alya (24) menjadi salah satu gambaran pekerja muda yang menjalani lebih dari satu pekerjaan.

Saat dihubungi, ia menceritakan kini mengerjakan tiga peran sekaligus, staf administrasi sebagai pekerjaan utama, freelancer pengelola media sosial UMKM, serta penjual template desain digital di marketplace.

“Sekarang ada tiga. Pekerjaan utama sebagai staf administrasi, lalu freelance mengelola media sosial UMKM, dan saya juga jual template desain digital di marketplace,” ujar Alya saat dihubungi Kompas.com, Jumat (6/2/2027).

Menurutnya, alasan utama menjalani multi job adalah faktor finansial.

Gaji utama dinilai cukup untuk kebutuhan bulanan, tetapi belum memberi ruang untuk menabung maupun berinvestasi.

“Dengan tambahan pemasukan, saya merasa lebih aman secara keuangan,” kata dia.

Rasa aman itu pula yang membuatnya melihat multi job sebagai strategi jangka panjang, bukan sekadar pekerjaan sambilan sementara.

Ketidakpastian kondisi kerja mendorongnya memiliki lebih dari satu sumber penghasilan agar tidak terlalu khawatir jika terjadi perubahan di pekerjaan utama.

Namun, konsekuensi terbesar muncul pada waktu istirahat.

Baca juga: Mengapa Banyak Orang Bekerja Tak Kunjung Kaya? Ini Kata Sosiolog

Alya mengaku sering merasa lelah dan sulit benar-benar terlepas dari pekerjaan.

“Waktu istirahat jelas berkurang. Kadang merasa lelah dan sulit benar-benar ‘off’ dari pekerjaan karena selalu ada yang harus dikerjakan. Tapi saya mencoba atur jadwal supaya tidak sampai burnout,” tutur Alya.

Di sisi lain, pekerjaan tambahan justru membuka peluang pengembangan karier.

Ia memperoleh keterampilan digital baru sekaligus pengalaman berinteraksi dengan klien, yang dinilai bisa menjadi modal bila ingin berpindah karier atau membangun usaha sendiri.

Fenomena serupa juga ia lihat di lingkar pertemanan.

“Banyak teman saya melakukan hal serupa, baik karena kebutuhan ekonomi maupun keinginan punya penghasilan tambahan lebih cepat,” ujar Alya.

Lelah yang Terbayar Tujuan Keuangan

Cerita hampir senada datang dari Raisa (25), karyawan sebuah agensi di Sudirman, Jakarta.

Selain bekerja penuh waktu di perusahaan konsultan, ia mengambil proyek freelance desain grafis serta membuka jasa desain undangan digital dan cetak.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Dalam satu waktu memang pegang dua sampai tiga pekerjaan,” kata Raisa.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Seksi 2 Tol Serang-Panimbang Siap Dibuka Fungsional Gratis Saat Mudik Lebaran 2026
• 12 jam laludisway.id
thumb
Inter kokoh di puncak klasemen setelah bantai Sassuolo 5-0
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Denada Langsung Datangi Notaris Setelah Akui Ressa, Siap Wariskan Harta untuk Sang Anak?
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Wali Kota Makassar Tekankan Peran Penting RT/RW dalam Pelayanan dan Kebersihan
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Bukan Cuma Porsi, Kombinasi Nasi dengan Makanan Ini Perlu Diwaspadai
• 8 jam lalueranasional.com
Berhasil disimpan.