Jakarta, ERANASIONAL.COM – Nasi merupakan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia dan sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang merasa belum makan jika belum menyantap nasi, terutama setelah menjalani aktivitas yang padat sejak pagi hingga malam. Tak heran jika nasi hampir selalu hadir dalam setiap waktu makan, baik sarapan, makan siang, maupun makan malam. Namun di balik kebiasaan tersebut, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa bukan hanya jumlah nasi yang perlu diperhatikan, melainkan juga jenis makanan yang dikonsumsi bersamaan dengannya.
Pola makan masyarakat modern kerap menggabungkan nasi dengan berbagai lauk yang praktis dan mudah didapat. Sayangnya, tidak semua kombinasi tersebut baik untuk kesehatan jika dikonsumsi terlalu sering dan dalam jangka panjang. Sejumlah sumber kesehatan dan pakar gizi menyebutkan bahwa ada beberapa jenis makanan yang sebaiknya tidak dijadikan pendamping nasi secara rutin karena dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, mulai dari gangguan metabolisme hingga penyakit kronis.
Salah satu makanan yang paling sering dikonsumsi bersamaan dengan nasi adalah mi instan. Makanan instan ini dikenal praktis, murah, dan memiliki cita rasa yang digemari berbagai kalangan. Namun, mi instan pada dasarnya sudah mengandung karbohidrat tinggi karena terbuat dari tepung terigu olahan. Ketika mi instan dikonsumsi bersama nasi putih, tubuh akan menerima asupan karbohidrat dalam jumlah berlebihan dalam satu waktu.
Ahli gizi Dr. Samuel Oetoro, seperti dikutip dari Kompas.com, pernah menjelaskan bahwa baik nasi maupun mi instan sama-sama merupakan sumber karbohidrat. Jika dikombinasikan, lonjakan kadar gula darah dalam tubuh bisa terjadi lebih cepat. Kondisi ini tentu tidak baik, terutama bagi orang yang memiliki risiko diabetes atau gangguan metabolisme lainnya. Selain itu, mi instan cenderung rendah serat, vitamin, dan mineral, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi tubuh secara seimbang.
Kebiasaan mengonsumsi nasi dengan mi instan juga membuat tubuh lebih banyak menerima kalori kosong. Artinya, tubuh memang terasa kenyang, tetapi kekurangan zat gizi penting seperti protein berkualitas, lemak sehat, serta berbagai mikronutrien yang dibutuhkan untuk menjaga fungsi organ. Dalam jangka panjang, pola makan seperti ini dapat meningkatkan risiko obesitas, resistensi insulin, hingga gangguan kesehatan lain yang berkaitan dengan pola makan tidak seimbang.
Selain mi instan, gorengan juga menjadi lauk favorit yang hampir selalu tersedia sebagai teman makan nasi. Mulai dari bakwan, tahu goreng, tempe goreng, hingga ayam goreng tepung, semua mudah ditemukan dan memiliki rasa yang menggugah selera. Namun, di balik kelezatannya, gorengan menyimpan sejumlah risiko kesehatan jika dikonsumsi terlalu sering bersama nasi.
Gorengan umumnya mengandung lemak jenuh yang cukup tinggi. Lemak jenis ini dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat atau LDL dalam darah jika dikonsumsi berlebihan. Peningkatan kolesterol jahat dalam jangka panjang diketahui berkaitan erat dengan risiko penyakit jantung dan penyumbatan pembuluh darah. Selain itu, proses penggorengan sering kali menggunakan minyak yang dipakai berulang kali, yang dapat menghasilkan senyawa berbahaya bagi tubuh.
Tak hanya itu, banyak jenis gorengan yang dilapisi tepung terigu. Hal ini berarti, ketika seseorang makan nasi dengan gorengan, tubuh kembali menerima tambahan karbohidrat. Kombinasi karbohidrat dari nasi dan tepung, ditambah lemak dari minyak goreng, dapat memicu lonjakan gula darah dan meningkatkan risiko diabetes jika menjadi kebiasaan sehari-hari. Para ahli gizi umumnya menyarankan untuk membatasi konsumsi gorengan dan menggantinya dengan lauk yang diolah dengan cara direbus, dikukus, atau dipanggang.
Makanan lain yang juga perlu diwaspadai saat dikonsumsi bersama nasi adalah daging merah, seperti daging sapi atau kambing. Daging merah memang mengandung protein dan zat besi yang dibutuhkan tubuh, namun konsumsi berlebihan, terutama jika dipadukan dengan nasi putih dalam porsi besar, dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan.
Nasi putih dikenal memiliki indeks glikemik yang relatif tinggi, sehingga dapat memengaruhi kadar gula darah. Jika dikombinasikan dengan daging merah yang tinggi lemak jenuh, risiko gangguan metabolisme seperti diabetes dapat meningkat. Selain itu, sejumlah penelitian menunjukkan adanya kaitan antara konsumsi daging merah dan daging olahan dengan risiko penyakit tertentu.
Salah satu studi yang kerap dirujuk, seperti dikutip dari We Be Fit, dilakukan di Inggris dengan melibatkan lebih dari 32 ribu perempuan selama 17 tahun. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa partisipan yang sering mengonsumsi daging merah dan daging olahan memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker usus dibandingkan mereka yang lebih banyak mengonsumsi daging ayam atau makanan laut. Temuan ini memperkuat anjuran agar konsumsi daging merah dibatasi dan tidak dikombinasikan secara berlebihan dengan sumber karbohidrat sederhana seperti nasi putih.
Para ahli gizi menyarankan agar masyarakat mulai lebih bijak dalam memilih lauk pendamping nasi. Mengurangi porsi nasi, membatasi konsumsi makanan tinggi lemak dan karbohidrat olahan, serta memperbanyak asupan sayuran berserat tinggi dapat membantu menyeimbangkan pola makan. Dengan begitu, kebutuhan gizi tubuh tetap terpenuhi tanpa harus mengorbankan kesehatan dalam jangka panjang.


