Ini cerita tentang remaja yang pernah nge-whip alias menghirup gas N₂O untuk nge-fly. Tentu saja, risiko kesehatan dan bahaya kecanduan mengintai.
***
Malam semakin larut. Pada jam saat kebanyakan orang beristirahat dan tidur itu, di sebuah ruangan karaoke di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, Jenifer justru baru mulai berpesta. Gadis 24 tahun itu bersenang-senang bersama teman-teman satu circle-nya.
Di tengah alunan musik, kawan-kawan Jenifer tak hanya memesan minuman beralkohol, tapi juga tabung-tabung berisi 2 kilogram berisi gas nitros oksida atau dinitrogen monoksida (N₂O) yang populer disebut gas tertawa.
Sebetulnya tempat karaoke dan bar itu tidak membolehkan pengunjung untuk memesan makanan-minuman atau produk pangan lain dari luar. Namun karena Jenifer dkk. mengenal pengelola bar, mereka merasa bebas-bebas saja memesan dari luar.
Jenifer yang semula hanya ingin menikmati minuman beralkohol, terbujuk teman-temannya untuk ikut memesan tabung N₂O. Gara-garanya, ia merasa tak diacuhkan di tongkrongan saat teman-temannya asyik tertawa setelah mengisap tabung merah muda berisi N₂O itu.
“Please lu cobain sekali. Kalau emang lu enggak suka, enggak apa-apa,” ujar Jenifer menirukan desakan temannya. Kepada kumparan, ia meminta namanya disamarkan.
Itulah momen perkenalan Jenifer dengan gas tertawa yang kini viral dan bikin geger.
Bagi Jenifer yang saat itu masih awam, cara mengonsumsi gas N₂O dalam tabung pink tersebut terasa asing, layaknya mengisap rokok elektrik atau vape.
Awalnya ia tak langsung bisa karena tak menghirup semua gas. Setelah mengerti caranya, Jenifer merasa nge-fly atau “melayang” usai nge-whip sekitar 5 detik. Sensasi itu datang instan dengan durasi singkat.
Maka, agar sensasi euforia itu tak hilang, Jenifer dan teman-temannya terus-menerus mengisap N₂O secara bergiliran. Di lingkaran pertemanan Jenifer, biasanya satu tabung pink dihabiskan dalam kurun waktu empat jam oleh tiga orang.
Dulu Ngebalon, Kini Nge-whipFenomena nge-whip tidaklah baru di pergaulan malam Jakarta. Setahu Jenifer, tren ini sudah ada sejak ia duduk di bangku kuliah tahun 2019 atau 2020.
Kala itu, sebelum merek tabung Whip-Pink kerap dipesan untuk nge-whip, para pelancong malam menyebut aktivitas tersebut dengan istilah “ngebalon”. Mereka menggunakan tabung silver polos tanpa merek, dan memindahkan gas N₂O di tabung itu ke dalam balon sebelum dihirup.
Kini, akses untuk mendapatkan gas N₂O semakin mudah dan terang-terangan. Menurut Jenifer, tabung gas paling besar dengan berat bersih 2 kg dan bermerek Whip-Pink seharga lebih dari Rp 1 juta bisa dipesan melalui WhatsApp kapan saja—24/7 (24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu)
Layanan pesannya sangat profesional, lengkap dengan invoice berlogo. Barang pun diantar kurir instan dalam waktu kurang dari satu jam saja. Cara pesannya dengan mengisi formulir yang di dalamnya meminta pemesan mencantumkan nama toko kuenya (berhubung tabung N₂O secara teknis—dan legal—digunakan untuk industri kuliner).
Tabung N₂O sedianya diproduksi sebagai bahan tambahan pangan atau alat dapur seperti blender dan mikser. Fungsi aslinya untuk dihubungkan ke sifon krim guna menghasilkan semprotan krim kocok (whipped cream). Gas N₂O di dalam tabung berguna untuk mengikat lemak dalam krim cair sehingga ketika disemprotkan akan mengembang menjadi krim kocok yang teksturnya lebih kental/kaku namun lembut.
“Waktu itu aku beli jam 1 [dini hari]. Jam 2 pagi tuh mereka masih open WA; masih ready, gercep gitu balesin WA. [Padahal] bakery mana yang buka 24 jam [sampai lewat tengah malam]?” kata Jenifer melontarkan pertanyaan retorik.
Beberapa kafe dan resto di Jakarta yang menyajikan produk kue dan pastri, termasuk yang berada di dalam hotel bintang lima, memang buka 24 jam atau hingga dini hari, mengikuti ritme kehidupan “orang malam”.
Belakangan, tren penggunaan gas tertawa kembali menyeruak ke permukaan usai meninggalnya selebgram Lula Lahfah. Musababnya, polisi menemukan tabung Whip-Pink di apartemen Lula, tepatnya di kamar asisten rumah tangganya.
Menurut Kasat Reskrim Polres Metro Jaksel AKBP Mohamad Iskandarsyah, sekitar dua minggu sebelum Lula meninggal, tabung itu dibawa asisten Lula ke kamarnya dari lobi apartemen. Tabung itu dititipkan Lula ke asistennya karena ia sedang di rumah sakit. Sang asisten kepada polisi mengatakan baru pertama kali melihat tabung tersebut.
Spekulasi liar pun bermunculan di media sosial. Kepolisian kemudian menutup kasus kematian Lula karena tidak menemukan tanda-tanda kekerasan. Tidak ada bukti atau kesimpulan bahwa Lula pernah menghirup gas dalam tabung pink itu karena keluarganya menolak autopsi.
Bahaya Nge-whip: Hipoksia, Otak-Saraf-Paru RusakMenurut Jenifer, meski sensasi nge-fly saat nge-whip dianggap sebagian orang menyenangkan, nyatanya tubuhnya bereaksi buruk. Ia merasakan efek samping yang menyiksa: mulut amat kering dan badan tak nyaman alias hangover parah saat bangun tidur keesokan harinya.
Bagi Jenifer, sakit kepala tajam akibat gas N₂O rasanya jauh lebih intens ketimbang efek mabuk alkohol yang cenderung lambat. Pengalaman pribadi tak mengenakkan ini membuatnya tidak kecanduan nge-whip.
Rasa tak nyaman yang Jenifer alami itu bukan tanpa alasan. Pakar kesehatan menyatakan, nge-whip bisa mematikan sel-sel otak secara perlahan. Ujung-ujungnya adalah: risiko kerusakan tubuh secara permanen.
Guru Besar Farmasi UGM Prof. Zullies Ikawati menjelaskan, N₂O sejatinya ialah senyawa kimia yang berbeda dari unsur oksigen dan nitrogen yang biasa kita hirup di atmosfer.
Dalam dunia medis, gas N₂O digunakan sebagai analgesik atau obat pereda nyeri ringan, misalnya pada operasi gigi. Penggunaannya tidak langsung dihirup, tapi dicampur oksigen murni melalui alat khusus untuk menjaga kadar oksigen pasien.
Ketika N₂O disalahgunakan dengan cara dihirup langsung dalam konsentrasi tinggi, ia bekerja cepat memengaruhi sistem saraf pusat di otak. Prof. Zullies memaparkan, gas ini memblokir reseptor NMDA (N-metil-D-aspartat) yang bertanggung jawab mengirim sinyal persepsi nyeri dan pemeliharaan kesadaran. Ketika reseptor ini dihambat, tubuh akan merasakan efek kebas (analgesia) dan penurunan kesadaran yang menciptakan sensasi melayang (fly).
“Gejala awal bahaya menghirup N₂O itu biasanya pusing, limbung, pandangan kabur, kesemutan, kebas. Lalu koordinasi bicara mulai terganggu, dan lama-lama bisa hilang kesadaran, tergantung dosis [yang dikonsumsi],” kata Prof. Zullies kepada kumparan.
Nge-fly juga punya efek mematikan, yakni hipoksia—kekurangan oksigen dalam jaringan tubuh yang bisa mengakibatkan kerusakan pada sistem jantung, pembuluh darah, dan pernapasan.
Dokter Spesialis Paru Prof. Erlina Burhan menjelaskan, hipoksia terjadi ketika gas N₂O masuk ke paru-paru dalam jumlah banyak sehingga mendesak dan menggantikan posisi oksigen. Dalam kondisi hipoksia, tubuh akan membiru—terlihat pada kuku dan bibir.
“Kalau otak enggak dapat oksigen, lama-lama otaknya rusak. Dan sel otak sangat sensitif kalau kekurangan oksigen,” imbuh Prof. Zullies.
Efek sekunder dari hipoksia bisa berujung pada henti jantung mendadak atau aritmia.
Penggunaan berulang N₂O juga akan mendeaktivasi vitamin B12 dalam tubuh, padahal vitamin ini krusial untuk metabolisme mielin—selubung pelindung saraf yang berperan penting dalam menyampaikan pesan dari otak ke seluruh tubuh.
“Jadi lama-lama kesemutan, kebas—istilahnya neuropati. Lama-lama sarafnya juga mulai terganggu; jadi gangguan keseimbangan,” jelas Prof. Zullies.
Dalam jangka panjang, kerusakan selubung saraf itu bisa menyebabkan kelumpuhan. Yang mengerikan, Prof. Zullies menganalogikan kerusakan ini mirip dengan stroke parah. Artinya, jika saraf terlanjur rusak, kondisinya mungkin tidak bisa kembali normal.
N₂O yang merupakan gas bertekanan tinggi juga berbahaya dihirup langsung karena dapat merusak mulut dan bibir, serta menyebabkan kebocoran paru-paru.
“Parunya jadi kempis, sesak banget, nyeri dada. Kalau paru kempis kan oksigen enggak bisa masuk. Harus segera ke rumah sakit, pasang selang di paru untuk mengeluarkan udara yang terperangkap,” kata Prof. Erlina.
Hati-Hati Kecanduan Nge-whipTidak semua orang seberuntung Jenifer yang bisa berhenti total setelah dua bulan mengonsumsi N₂O. Beberapa temannya justru menjadi ketagihan. Tanpa gas tertawa itu, mereka gelisah atau rongseng, seolah ada yang kurang jika tidak ada tabung pink di atas meja.
Jenifer juga melihat perubahan perilaku dan kognitif pada teman-temannya yang sudah menggunakan N₂O dalam jangka panjang. Mereka menjadi lebih emosional, sensitif, dan yang paling mengkhawatirkan: sulit berpikir jernih.
“Itu kayaknya udah bertahun-tahun [pakai N₂O],” kata Jenifer tentang kondisi temannya.
Secara medis, perilaku kecanduan itu memiliki penjelasan ilmiah. Prof. Erlina menjelaskan, efek nge-fly gas N₂O merangsang pelepasan dopamin di saraf sehingga memunculkan rasa senang. Perasaan itulah yang membuat ketagihan sehingga pengguna ingin mengulanginya terus-menerus.
Prof. Zullies menambahkan, meski kecanduan N₂O sedikit berbeda dengan narkotika jenis morfin, N₂O memicu keinginan mengulang karena durasi euforianya yang singkat.
“Orang jadi kepengin mengulang untuk mengejar sensasi yang sama. … Jadi semacam mengulang dan mengulang lagi. Itulah yang kemudian jadi kebablasan,” ujar Zullies.
Menyadari betapa bahaya gas N₂O, baru-baru ini Jenifer berinisiatif menghubungi teman-teman lamanya yang masih mengonsumsi gas tersebut. Ia mengingatkan mereka untuk berhati-hati dan tidak sering-sering menggunakannya.
Jenifer juga berpesan kepada siapa pun yang belum pernah mengisap N₂O agar jangan pernah mencobanya. Ia menegaskan: Lebih baik tak mencoba sama sekali daripada kesahatan—dan nyawa—jadi taruhan.





