GenPI.co - Populasi Pesut Mahakam (pesut etam) mamalia air tawar endemik Sungai Mahakam, kini tinggal sekitar 66 ekor di alam liar.
Angka ini menempatkan pesut dalam fase sangat kritis dan di ambang kepunahan.
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyusun langkah darurat guna menyelamatkan populasi Pesut Mahakam.
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Rasio Ridho Sani mengatakan pemerintah menyiapkan sejumlah langkah penyelamatan darurat agar Pesut Mahakam tidak punah.
"Pemerintah harus bergerak serius. Kondisi pesut kita sangat memprihatinkan karena populasinya kini hanya tinggal sekitar 66 ekor," ujar Rasio, dikutip Senin (9/2).
Rasio menjelaskan langkahnya adalah KLH menetapkan 2 desa di Kutai Kartanegara sebagai Desa Konservasi Pesut Mahakam.
Dia menyebut penurunan populasi pesut dipicu oleh kerusakan habitat yang masif akibat tumpang tindihnya aktivitas manusia dan industri.
Ancaman utamanya meliputi, alih fungsi lahan dan pembukaan lahan di area hulu, hingga aktivitas pertambangan batu bara yang berdampak pada kualitas air.
Hal ini terutama ponton batu bara yang diduga mengganggu navigasi dan habitat kritis pesut.
“Kami harus mengantisipasi berbagai ancaman ini secara komprehensif, baik yang bersumber dari kegiatan korporasi maupun aktivitas masyarakat di sepanjang aliran Sungai Mahakam,” beber dia.
Di sisi lain, KLH menegaskan penyelamatan pesut memerlukan kolaborasi lintas sektor bersama KKP, pemerintah daerah, dan otoritas transportasi.
Langkah ini bertujuan memastikan aktivitas ekonomi di sungai tetap berjalan tanpa mengorbankan ekosistem pesut.
"Kami akan mengambil langkah hukum yang tegas, tetapi di sisi lain tetap mendorong kerja sama agar kegiatan ekonomi tidak mengganggu habitat kritis pesut," jelas Rasio.(ant)
Video populer saat ini:





