FAJAR, MAKASSAR — Persija Jakarta mulai kehilangan pijakan dalam perburuan gelar BRI Super League 2025/2026. Kekalahan 0-2 dari Arema FC di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (8/2) malam, menjadi sinyal bahwa jalur menuju juara tak lagi semulus beberapa pekan sebelumnya.
Dua gol Gabriel Silva pada menit ke-82 dan 90+11 membungkam Macan Kemayoran di kandang sendiri. Hasil itu membuat Persija tertahan di peringkat ketiga dengan 41 poin—terpaut lima angka dari Borneo FC dan enam poin dari pemuncak klasemen Persib Bandung.
Di saat pesaingnya menang, Persija justru tersandung.
Dan ancaman belum selesai.
Jadwal Berat Menanti
Pada pekan ke-21 dan seterusnya, Persija akan menghadapi Dewa United dan PSM Makassar. Dua laga yang bukan sekadar formalitas kalender, tetapi berpotensi menjadi titik belok musim.
Dewa United dikenal agresif dalam penguasaan bola dan berani bermain terbuka. Sementara PSM, meski masih tertahan di papan tengah, datang dengan misi berbeda: bangkit atau tenggelam.
Justru dalam situasi tertekan seperti itu, Pasukan Ramang bisa menjadi lawan paling berbahaya.
PSM: Bangkit di Waktu yang Tepat?
PSM memang baru saja memutus tren buruk tujuh laga tanpa kemenangan lewat kemenangan 2-1 atas PSBS Biak. Namun laga itu juga menunjukkan bahwa stabilitas mereka belum sepenuhnya pulih.
Pelatih Tomas Trucha bahkan mengakui timnya beruntung.
“Setelah kita mencetak gol kedua, kita seperti berhenti bermain. Seharusnya kita pegang bola lebih lama,” ujarnya.
“Kita beruntung. Mereka punya dua peluang yang seharusnya bisa jadi gol kedua.”
Artinya, kemenangan belum identik dengan kematangan permainan.
Namun ada satu faktor yang membuat PSM kini berbeda dibanding beberapa pekan lalu: komposisi skuad yang lengkap.
All-In di Putaran Kedua
Sebelas pemain asing kini resmi terdaftar. Kuota penuh. Tidak ada ruang tambahan.
Di antara mereka, Dusan Lagator menjadi sorotan utama. Dengan valuasi Rp7,82 miliar, ia menjadi pemain termahal PSM dan simbol keseriusan manajemen memperbaiki keseimbangan tim.
Lagator bukan tipe pemain flamboyan. Ia bekerja dalam sunyi: membaca ruang, menutup celah, menjaga ritme. Dalam laga melawan tim seperti Persija—yang mengandalkan agresivitas lini tengah—peran gelandang jangkar seperti dirinya bisa sangat menentukan.
Jika ia mampu mengontrol tempo dan memutus transisi cepat Persija, PSM bisa merusak struktur permainan Macan Kemayoran.
Di lini depan, Sheriddin Boboev memberi opsi berbeda. Mobilitas dan tekanan konstan yang ia tawarkan bisa menguji lini belakang Persija yang baru saja kebobolan dua gol di kandang sendiri.
Tekanan Berbalik Arah
Secara klasemen, Persija masih unggul jauh dari PSM. Namun tekanan psikologis justru kini berada di pihak Macan Kemayoran.
Mereka tak boleh kehilangan poin lagi jika ingin tetap berada dalam jalur juara. Sementara PSM datang dengan beban berbeda: memperbaiki posisi dan menjauh dari zona merah.
Dalam situasi seperti itu, tim yang “tidak punya apa-apa untuk kehilangan” sering kali lebih berbahaya.
Jika Persija kembali gagal meraih poin penuh—terutama saat menghadapi PSM pada 20 Februari—jarak dengan Persib dan Borneo bisa semakin melebar. Dan di liga yang ketat seperti musim ini, selisih enam atau tujuh poin bisa terasa seperti jurang.
Ancaman yang Tak Terlihat
PSM mungkin belum stabil. Mereka belum sepenuhnya meyakinkan. Tetapi momentum kecil sering kali menjadi pemicu perubahan besar.
Di Makassar, sepak bola bukan sekadar taktik. Ia tentang siri’ na pacce—harga diri dan solidaritas. Pasukan Ramang tidak sedang membangun kenyamanan. Mereka sedang membangun ulang fondasi.
Dan bagi Persija, ancaman tidak hanya datang dari papan atas seperti Persib atau Borneo.
Ia bisa datang dari tim yang sedang bangkit—yang menemukan kembali keyakinannya di saat yang paling dibutuhkan.
Jika Arema sudah memberi pukulan pertama,
PSM berpeluang menjadi ujian berikutnya.
Dan dalam persaingan juara yang makin tipis marginnya, satu kekalahan lagi bisa membuat Persija benar-benar menjauh dari podium tertinggi.





