Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Sekjen Mendikdasmen), Suharti, mengungkap dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk Yohanes Bastian Roja (10) telah dikirim. Yohanes ialah siswa kelas IV SD di Ngada, NTT, yang meninggal dunia usai bunuh diri diduga karena himpitan ekonomi hingga tidak bisa membeli buku dan pena.
Suharti menerangkan rekening PIP Yohanes telah diaktivasi sejak September 2025. Lalu dana PIP telah terkirim pada November 2025. Namun, menurut Suharti, belum diambil oleh korban.
"Jadi dari bulan September sudah diaktivasi, bulan November anggarannya sudah ditransfer, tetapi oleh penerima anggaran itu belum, dananya belum ditarik," ucap Suharti setelah acara Konsolidasi Nasional Kemendikdasmen 2026 pada Senin (9/2).
Mengenai masalah administrasi yang membuat siswa belum mengambil dana PIP, Suharti berujar akan menindaklanjutinya dengan pemangku kepentingan yang berkaitan.
"Nanti kita, tentu saja kita tindak lanjuti lebih lanjut dengan stakeholder lain termasuk dengan bank," pungkas Suharti.
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi X, Lalu Hadrian, menyoroti masalah PIP yang menimpa mendiang siswa di Ngada, NTT itu. Menurutnya penyaluran dana PIP belum maksimal.
"Sebenarnya kalau kita baca kronologis dari peristiwa yang ada di NTT, itu sebenarnya kan PIP-nya udah masuk, tetapi penyalurannya belum maksimal," ucap Lalu di DPR, Kamis (5/2).
Di sisi lain, Raymundus Bena selaku Bupati Ngada menyatakan bahwa Yohanes tak dapat mencairkan dana PIP-nya sebab alamat administrasi ibunya berada di Kabupaten Nagekeo, tidak sesuai dengan domisilinya yang berada di Kabupaten Ngada.
Menurut Raymundus, hal itu membuat proses pencairan dana PIP menjadi tertunda karena ibu korban diminta untuk kembali mengatasi persoalan administrasinya.





