FAJAR, MAKASSAR – Untuk mengatasi kecemasan berbahasa (language anxiety) dan keterbatasan kosakata dasar, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Inovasi Daerah Gelombang 115 Universitas Hasanuddin, Yusran Hidayat Bahar, menginisiasi program kreatif bertajuk “Pembuatan Kamus Saku Berbasis Zine”. Kegiatan ini berlangsung di MTs DDI Darul Mujahidin, Dusun Tanadidi, Desa Allaere, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros.
Program ini menyasar siswa kelas IX yang tengah bersiap melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Yusran, mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Unhas yang akrab disapa Chan, merancang metode ini setelah menemukan banyak siswa SMP merasa kurang percaya diri menggunakan bahasa Inggris karena minim kosakata. Kondisi tersebut membuat mereka pasif, sementara metode pembelajaran konvensional belum mampu mencairkan ketegangan.
“Masalah utama yang kami temukan adalah krisis kepercayaan diri. Banyak siswa takut menggunakan bahasa Inggris karena merasa kekurangan kosakata. Ketakutan akan kesalahan membuat mereka pasif, sehingga perlu pendekatan baru yang lebih cair,” ujar Chan.
Sebagai solusi, Chan memperkenalkan Zine—majalah mini buatan tangan (DIY) yang murah dan kreatif. Dalam workshop berdurasi 120 menit, siswa diajak melipat selembar kertas HVS menjadi buku delapan halaman tanpa menggunakan stapler.
Metode ini menggeser pembelajaran dari verbal pressure (paksaan bicara) menjadi visual creative. Siswa diberi ruang aman untuk mengekspresikan identitas diri (Myself), lingkungan desa (My Hometown), dan cita-cita (My Future) dalam kalimat bahasa Inggris sederhana yang dipadukan dengan gambar.
“Kami ingin menanamkan pola pikir bahwa bahasa Inggris itu alat komunikasi, bukan sekadar mata pelajaran yang menakutkan. Dengan Zine, siswa menjadi ‘penulis’ cerita mereka sendiri, sehingga tumbuh rasa kepemilikan dan percaya diri,” tambah Chan.
Antusiasme Siswa
Dampak positif langsung dirasakan peserta. Salsa, salah satu siswa kelas IX, mengaku metode ini terasa menyenangkan.
“Seru sekali. Kita belajar kata sifat dalam bahasa Inggris sambil membuat Zine mirip komik. Biasanya belajar bahasa Inggris hanya menulis dan menghafal, tapi kali ini rasanya seperti bermain,” ungkap Salsa.
Hal senada disampaikan Dinar, yang merasa lebih percaya diri memperkenalkan sekolahnya lewat karya sendiri. “Kegiatannya menyenangkan karena kakak-kakak KKN baik. Saya bisa memperkenalkan nama dan sekolah menggunakan bahasa Inggris lewat karya sendiri. Harapannya ke depan ada lebih banyak kegiatan kreatif seperti ini,” ujarnya. (*/)




