Setiap kali mendarat di Bandara Ngurah Rai, ada rasa magis yang tidak pernah berubah di hati para pelancong. Namun saat pulang, isi koper sebenarnya bercerita tentang zaman yang berbeda. Saat ini, oleh-oleh bukan lagi sekadar barang yang di bawa pulang, melainkan juga cermin dari selera, gaya hidup, bahkan effort seseorang.
Dulu, oleh-oleh Bali lebih menekankan soal fungsionalitas dan kuantitas. Namun, keberadaan media sosial dan generasi muda telah membentuk makna baru mengenai oleh-oleh. Oleh-oleh adalah perpanjangan identitas visual—harus cantik, instagramable, dan punya cerita. Yuk, intip evolusi oleh-oleh Bali dari masa ke masa.
Era Pionir: Si Manis yang Legendaris (Pie Susu & Kacang Disco)Jauh sebelum tren media sosial meledak—tepatnya pada era 90-an hingga awal 2000-an—oleh-oleh Bali didominasi oleh pie susu tanpa merek yang khas dengan warna kuning dan kacang disco. Jika baru pulang dari Bali, koper para pelancong pasti penuh dengan oleh-oleh ini.
Fokus utama oleh-oleh di era ini adalah kuantitas dan berbagi: yang penting rasa vla pada pie dan kacang tepung bumbunya enak, harganya ramah di kantong, dan jumlahnya melimpah untuk dibagikan orang satu kampung. Estetika kemasan? itu nomor sekian—yang penting cukup untuk dibagi ke tetangga dan saudara.
Oleh-oleh di era pionir ini berfungsi sebagai "duta silaturahmi" atau simbol bahwa seseorang ingat pada orang rumah, sekaligus bukti jika seseorang benar-benar menginjakkan kaki di Bali. Dalam hal ini, oleh-oleh klasik dianggap bukan sekadar camilan, melainkan juga harta karun yang membawa kebanggaan saat dibagikan.
Era Eksklusivitas: Pia Legong dan Drama AntreanMemasuki dekade 2010-an, tren mulai bergeser ke arah prestise. Pelancong tidak lagi mencari yang “paling banyak”, tetapi yang “paling susah didapat.” Inilah era di mana Pia Legong jadi primadona. Bayangkan, para pelancong lokal maupun asing harus memesan Pia Legong berminggu-minggu sebelumnya atau rela antre di pinggir bypass sejak subuh—jika tidak dapat, rasanya mereka seperti gagal menjadi turis profesional.
Di era ini, oleh-oleh mulai jadi simbol effort. Satu kotak Pia Legong langka seolah mengatakan, “Aku betulan niat mencari oleh-oleh terbaik, bukan cuma asal ambil di rak toko.” Era ini membuat kita sadar, oleh-oleh bisa jadi ajang gengsi dan pemuas diri saat berhasil mendapatkan satu kotak yang langka.
Ledakan Kuliner Kontemporer: Kejayaan Toko Satu AtapSekitar tahun 2015 ke atas, muncul konsep toko satu atap yang membuat belanja oleh-oleh terasa lebih praktis. Krisna atau The Keranjang muncul dengan konsep supermarket modern yang menyuguhi oleh-oleh dalam satu atap dengan berbagai variasi rasa.
Pie susu pun berevolusi dengan merek-merek besar yang memiliki beragam inovasi rasa. Salah satu pie susu terkenal adalah Pie Susu Dhian yang memiliki varian rasa mulai dari cokelat hingga keju. Kemunculan ragam variasi pada oleh-oleh Bali dalam satu atap ini tak jarang membuat pelancong berpikir, “Duh, bingung pilih rasa, semua pengen dicoba!”
Di era ini, kemasan juga mulai dianggap penting. Barang yang dulu hanya dimakan kini bisa difoto dan dipamerkan di feed Instagram. Ya, oleh-oleh di zaman sekarang tidak lagi hanya bicara soal rasa, tetapi juga visual.
Era Estetika Gen Z: The New WaveSaat ini, Generasi Z (Gen Z) memegang kendali atas apa yang dianggap menarik. Media sosial bukan lagi sekadar platform berbagi, melainkan juga penentu standar dalam memilih buah tangan. Oleh-oleh kini harus memenuhi syarat cantik secara visual, mudah difoto, dan memiliki cerita di baliknya.
Beberapa merek lokal menangkap keresahan ini. Mason Chocolates misalnya, tidak sekadar menjual cokelat, tapi juga mengajak pelancong masuk ke dalam pengalaman pembuatan cokelat langsung di pabriknya. Sementara itu, Krakakoa hadir dengan misi sosial yang menyentuh sisi kemanusiaan melalui pemberdayaan petani lokal.
Lalu ada Falala Chocolate yang muncul sebagai jawaban atas gaya hidup modern yang serba praktis, tapi tetap prestisius. Mereka bersuara lewat kemasan minimalis yang elegan dan ramah lingkungan. Di era di mana konsumen semakin kritis, kepastian status halal dan kualitas yang premium menjadi alasan mengapa merek ini sering kali "mejeng" di unggahan media sosial para pelancong.
Menariknya, tren the new wave ini juga menyeret produk bumi Bali lainnya untuk ikut "bersolek". Kopi Kintamani—yang dulu identik dengan karung goni kiloan tanpa merek—kini bertransformasi menjadi specialty coffee dengan desain kemasan yang estetik. Begitu pula dengan Garam Amed yang kini tampil begitu elegan, seolah naik kelas dari sekadar bumbu dapur menjadi barang koleksi.
Pada akhirnya, tren the new wave ini menunjukkan bahwa nilai sebuah oleh-oleh kini telah bergeser. Rasa memang tetap utama, tetapi pengalaman, estetika, dan dampak sosial yang dibawa oleh sebuah merek menjadi pertimbangan serius bagi pelancong. Inilah standar baru dalam berwisata: membawa pulang kenangan yang berkesan, baik di lidah maupun dokumentasi perjalanan.
Mengapa Pergeseran Ini Terjadi?Ada alasan mengapa selera para pelancong terhadap buah tangan mulai bergeser ke arah yang lebih estetik.
Pertama, pengaruh visualisasi di media sosial—seperti Instagram dan TikTok—sangat besar. Keberadaan sosial media membuat para pelancong modern cenderung memilih barang yang memiliki nilai estetik saat difoto.
Kedua, ada kesadaran untuk lebih mengutamakan kualitas di atas kuantitas di mana satu kotak oleh-oleh premium terasa lebih "keren" dibanding lima kantong camilan biasa. Ketiga, muncul keinginan personal untuk memberikan sesuatu yang unik dan berbeda—sesuatu yang tidak terasa seperti pilihan "sejuta umat".
Alhasil, camilan estetik menjadi pilihan paling laris bagi pelancong masa kini. Namun jangan khawatir, meski tren terus bergerak, pie susu dan kacang klasik tetap punya tempat spesial di hati dan koper sebagai pelengkap kenangan dari Pulau Dewata.
Panduan Memilih Oleh-oleh berdasarkan “Vibe”Supaya tidak bingung saat memilih, kita bisa menyesuaikan buah tangan dengan kepribadian orang yang akan menerimanya. Bagi mereka si jiwa klasik, seperti orang tua atau mertua, pilihan paling aman tetap jatuh pada camilan legendaris seperti pie susu atau kacang disco yang rasanya sudah akrab di lidah siapa saja.
Namun, jika mencari untuk teman-teman yang suka tren dan hobi foto, atau sekadar ingin memberi hadiah untuk diri sendiri, Cokelat Falala atau merek lokal lainnya adalah pilihan paling cocok.
Sementara itu, untuk para pencinta kuliner atau teman yang hobi masak, membawa pulang kopi Kintamani Bali yang harum atau garam Amed yang berkualitas akan terasa jauh lebih berkesan dan spesial.
Menghargai Masa Lalu, Merayakan Masa DepanOleh-oleh Bali membuktikan bahwa pulau indah ini terus bergerak. Tidak perlu meninggalkan yang lama—pie susu dan kacang klasik tetap memiliki tempat di hati. Produk modern dan estetik memberikan warna baru bagi pariwisata Bali dan kadang bikin koper lebih berat karena sulit memilih yang mana dulu dicoba.
Jadi, mau yang klasik atau kekinian, yang terpenting adalah cerita yang dibawa pulang dari Pulau Dewata dan sedikit kebanggaan karena bisa difoto di Instagram.





