Industri Pengolahan Moncer, Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33% pada 2025

bisnis.com
14 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SURABAYA — Ekonomi Jatim tumbuh 5,33% pada 2025 dengan motor penggerak industri pengolahan, perdagangan, serta akomodasi makan dan minuman.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur Ibrahim mengatakan BI memproyeksikan ekonomi Jatim akan terus terakselerasi pada 2026 dengan rentang pertumbuhan sebesar 4,9% hingga 5,7% secara tahunan (year-on-year/yoy).

“Optimisme ini didorong oleh realisasi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sepanjang tahun 2025 yang mencapai 5,33%, melampaui rata-rata pertumbuhan nasional dan wilayah Jawa. Pada triwulan IV/2025 saja, ekonomi Jatim melesat 5,85% yoy,” ujarnya pada Media Briefing di Surabaya, Senin (9/2/2026).

Dia menilai, struktur ekonomi wilayah ini masih sangat strategis, dengan kontribusi terhadap ekonomi nasional mencapai 14,5% dan lebih dari 25% terhadap ekonomi di Pulau Jawa.

"Ekonomi Jawa Timur untuk 2026 kami yakini masih kondusif dan terakselerasi dalam kisaran 4,9% hingga 5,7%. Hal ini akan sangat bergantung pada respons kebijakan serta indikator sentimen pusat maupun daerah," jelasnya.

Dari sisi lapangan usaha, kata dia, sektor industri pengolahan tetap menjadi motor utama dengan pangsa pasar mencapai 31% dan tumbuh solid di angka 6,28%. Sektor perdagangan serta akomodasi makan dan minum juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 8,96%.

Baca Juga

  • Bank Jatim Targetkan Laba 2026 Tumbuh
  • Indal Aluminium (INAI) Menjelaskan Kondisi Perusahaan Terkini
  • Harga Emas Fluktuatif, Ekonom UNAIR Sarankan Alihkan Investasi ke Instrumen Lain

Sementara dari sisi permintaan, dia mengatakan konsumsi rumah tangga yang memegang porsi lebih dari 60% ekonomi Jatim tetap kuat. Pada triwulan IV/2025, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,15%. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga tetap berada di zona optimis.

Mengenai inflasi, dia menegaskan, Bank Indonesia mencatat inflasi Jawa Timur pada Januari 2026 berada di angka 3,29% yoy, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,55%. 

Meskipun angka ini sedikit di atas target sasaran 2,5% ± 1%, kata dia, BI menegaskan hal tersebut lebih disebabkan oleh base effect subsidi listrik tahun lalu.

"Kenaikan ini cenderung bersifat masalah statistik karena adanya base effect. Kami meyakini pada Maret 2026 inflasi akan kembali masuk ke dalam kisaran sasaran 2,5% ± 1%," jelasnya.

Sementara itu di sektor sistem pembayaran, dia melanjutkan, Jawa Timur mencatatkan lonjakan transaksi non-tunai. Penggunaan QRIS kini mendominasi dengan pangsa pasar 55,1%, melampaui Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) yang berada di angka 29,4%.

Meski optimistis, menurutnya, sebagai otoritas moneter tetap mewaspadai dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian (slower for longer).

Tantangan utama berasal dari fragmentasi ekonomi dunia, kebijakan resiprocal tariff Amerika Serikat, serta divergensi pertumbuhan antara negara maju dan berkembang.

"Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diperkirakan melambat ke angka 3,3%. Dalam kondisi volatilitas global yang tinggi, penguatan ekonomi secara domestik menjadi sangat krusial bagi ketahanan ekonomi Jawa Timur," ucapnya. 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
BMKG Prakirakan Hujan Merata di Jakarta pada Selasa
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
KRL Keluarkan Asap di Stasiun Universitas Pancasila Jaksel, Penumpang Panik
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
DLH Kota Tangerang Pantau Langsung Dugaan Pestisida Cemari Sungai Cisadane
• 4 jam laluliputan6.com
thumb
Kasus DJKA, KPK Telusuri Dugaan Fee Proyek yang Diterima Sudewo
• 14 menit laluokezone.com
thumb
Buruh Bisa WFA pada Lebaran 2026, Upah Tetap Dibayar dan Tak Potong Cuti
• 5 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.