Jakarta: Fenomena gerhana matahari cincin atau annular solar eclipse dipastikan terjadi pada 17 Februari 2026. Peristiwa ini ramai dibahas karena menampilkan efek visual khas berupa cincin cahaya Matahari yang mengelilingi Bulan.
Fenomena tersebut populer disebut sebagai cincin api. Dikutip dari Media Indonesia, laporan astronomi NASA menyebut gerhana ini tergolong langka, meski tidak dapat disaksikan secara merata di seluruh dunia.
Gerhana matahari cincin terjadi ketika bulan berada tepat di antara bumi dan matahari, tetapi posisinya sedang berada di titik terjauh dari bumi.
Akibatnya, ukuran bulan tampak lebih kecil sehingga tidak mampu menutup seluruh piringan matahari. Bagian tepi Matahari yang tersisa inilah yang menciptakan efek cahaya menyerupai cincin terang di langit.
Baca Juga :
Pramono: Program MBG Adalah Investasi Jangka PanjangJalur Gerhana Terbatas, Tidak Semua Wilayah Bisa Melihat
Berdasarkan pemantauan astronom, jalur utama cincin api kali ini melintasi wilayah Antartika dan sebagian samudra di belahan selatan Bumi. NASA menyebut hanya area tertentu yang bisa menyaksikan fase cincin api secara utuh. Sementara itu, sebagian wilayah lain di dunia hanya akan melihat gerhana matahari sebagian, bahkan ada yang sama sekali tidak terdampak.
Indonesia sendiri tidak termasuk dalam jalur cincin api. Artinya, jika pun terlihat, fenomena ini hanya muncul sebagai gerhana parsial dengan intensitas terbatas. Meski begitu, para astronom tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak menatap matahari secara langsung tanpa pelindung khusus, karena radiasi sinar Matahari tetap berbahaya bagi mata.
Kenapa Fenomena Ini Penting bagi Sains?
Dilansir dari Forbes, gerhana matahari cincin menjadi momen penting untuk penelitian atmosfer matahari dan pengamatan dinamika orbit Bulan. Peristiwa ini juga merupakan bagian dari rangkaian siklus gerhana yang terjadi secara periodik, namun jarang melintasi wilayah berpenghuni. Karena itu, setiap kejadian tetap dicatat dan dianalisis oleh komunitas astronom global.
Fenomena ini menegaskan bahwa gerhana bukan sekadar tontonan langit, tetapi bagian dari sistem kosmik yang dapat diprediksi secara presisi melalui ilmu astronomi modern.
Ilustrasi. Foto: Freepik.com.
Niat dan Panduan Salat Gerhana Matahari
Dalam ajaran Islam, gerhana matahari dikenal sebagai gerhana kusuf dan dianjurkan untuk disikapi dengan salat gerhana matahari (Salat Kusuf). Ibadah ini dilakukan sebagai bentuk refleksi dan pengingat atas kebesaran Tuhan, bukan karena mitos atau pertanda tertentu.
Niat salat gerhana dilakukan di dalam hati, sebagaimana salat sunnah lainnya. Salat kusuf dilaksanakan dua rakaat, namun dengan tata cara khusus, yaitu bacaan Al-Fatihah dan surat yang lebih panjang, serta ruku dan sujud yang diperpanjang. Tidak ada azan maupun iqamah sebelum pelaksanaan salat.
Setelah salat, umat dianjurkan untuk memperbanyak doa, zikir, dan istigfar hingga gerhana berakhir. Praktik ini merujuk pada hadis sahih yang juga banyak dikutip dalam literatur Islam.
Fenomena cincin api pekan depan menjadi pengingat bahwa sains dan refleksi spiritual bisa berjalan beriringan, tanpa perlu dibumbui klaim berlebihan atau narasi sensasional.




