Penulis: Paino
TVRINews, Lingga
Kemarau berkepanjangan sejak Desember 2025 hingga Februari 2026 menyebabkan warga Desa Limbung, Kecamatan Lingga Utara, Kabupaten Lingga, mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Kekeringan yang melanda selama tiga bulan terakhir membuat warga Dusun Dua Senempek terpaksa memanfaatkan sumber air sumur yang berada di tengah hutan dekat kebun sagu. Meski air tersebut tampak keruh akibat limbah sagu, warga tetap menggunakannya untuk keperluan mandi.
Sementara itu, bak penampungan yang menjadi sumber utama air baku mengalami penyusutan, sehingga tidak lagi mampu mengalirkan air ke permukiman. Untuk memenuhi kebutuhan air minum dan air bersih, warga terpaksa membeli air atau mengambil dari sumber air terdekat.
Salah seorang warga Dusun Dua Senempek, Ata, mengatakan hujan sudah tidak turun selama tiga bulan terakhir di kampung mereka. Akibatnya, warga hanya mengandalkan air sumur yang kondisinya kurang layak digunakan.
“Sampai sekarang hujan belum turun. Kami hanya bisa memakai air sumur yang ada, meski kondisinya tidak begitu layak,” kata Ata kepada tvrinews.com, Selasa, 10 Februari 2026.
Kepala Dusun Dua Senempek, Firmansyah, menjelaskan sulitnya air bersih di wilayah tersebut disebabkan menyusutnya sumber air, serta rusaknya sejumlah pipa akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi beberapa waktu lalu di sekitar bak penampungan.
“Kondisi semakin sulit karena banyak pipa yang rusak akibat kebakaran hutan dan lahan, sehingga distribusi air ke warga terhambat,” jelasnya.
Keterbatasan stok air di sumur serta jaraknya yang cukup jauh dari permukiman membuat warga harus berebut mendapatkan air. Dengan menggunakan jerigen berukuran besar, warga berupaya memenuhi kebutuhan mandi, mencuci pakaian, serta peralatan makan sehari-hari.
Editor: Redaksi TVRINews





