Wajah Baru Bursa Capres 2029: Selain Sjafrie & Purbaya, Ada Sherly Tjoanda

jpnn.com
9 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - Lembaga survei Indonesian Public Institute (IPI) dalam riset terbarunya menunjukkan sejumlah wajah baru yang masuk dalam bursa bakal calon presiden (capres) 2029.

Beberapa wajah baru yang muncul, antara lain Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, hingga beberapa kepala daerah.

BACA JUGA: Wahai Sjafrie Sjamsoeddin, Anda Berpotensi Mengganggu Stabilitas BUMN

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos (kanan), Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem (kiri), memberi keterangan kepada media usai bertemu Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Kementerian Keuangan Jakarta, Selasa (7/10/2025). ANTARA/Harianto

Peneliti IPI Abdan Sakura menjelaskan munculnya wajah-wajah baru tersebut tidak terlepas dari sejumlah faktor yang memengaruhi elektabilitas mereka, seperti kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, publikasi media, integritas, visi-misi dan program kerja.

BACA JUGA: Koalisi Masyarakat Sipil Desak DPR Tolak Rancangan Perpres Pelibatan TNI Mengatasi Terorisme

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (10/2/2026), Abdan mencontohkan empat indikator yang memperkuat elektabilitas Sjafrie, yakni kepemimpinan dan ketokohannya pada angka 44 persen, rekam jejak kepemimpinan 17 persen, rekomendasi lingkungan dan media 12 persen, serta integritas 10 persen.

Hal serupa juga terekam pada sejumlah kepala daerah, antara lain Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

BACA JUGA: Adies Kadir Dilaporkan ke MKMK, Anggota DPR Ini Membela

"Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Sjafrie tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral," ujar Abdan.

Celah itu menurutnya yang membuka ruang bagi dinamika politik baru, terutama jika terjadi krisis, perubahan peta koalisi, atau absennya "pemain utama".

Abdan menyebutkan rendahnya elektabilitas sejumlah tokoh populer menegaskan popularitas semata tidak lagi cukup di tengah pemilih yang semakin rasional dan kontekstual.

Dia membeberkan para gubernur yang masuk dalam bursa bakal capres 2029 dalam hasil survei, seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, serta Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda.

"Wajah-wajah baru tersebut masuk dalam 10 besar tokoh untuk menjadi bakal capres 2029. Sjafrie berada di urutan ke-7 dengan tingkat elektabilitas di angka 7,5 persen, disusul Purbaya 4,9 persen dan Sherly Tjoanda 3,8 persen," tuturnya.

Dia menuturkan elektabilitas Sjafrie bersaing ketat dengan sejumlah tokoh kepala daerah, seperti mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang berada di urutan ke-4 dengan elektabilitas 8,5 persen, lalu Dedi Mulyadi urutan ke-5 dengan elektabilitas 7,9 persen, serta Pramono Anung di urutan ke-6 dengan elektabilitas 7,8 persen.

Lebih lanjut, Abdan mengatakan di puncak elektabilitas dikuasai Presiden Prabowo Subianto dengan angka 22,3 persen, yang jauh melampaui tokoh lainnya.

Sementara, elektabilitas Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berada di urutan kedua dengan angka elektabilitas 12,2 persen dan mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di angka 9 persen.

Dengan demikian, katanya, berbagai nama besar masih mendominasi persepsi publik, baik dalam penilaian kelayakan maupun elektabilitas, yang menunjukkan kuatnya pengaruh kekuasaan, kontinuitas elite, dan eksposur media dalam imajinasi pemilih.

"Namun, jarak antara tingkat kelayakan yang tinggi dan elektabilitas yang relatif moderat mengindikasikan satu hal penting, publik mengenal dan menilai, tetapi belum sepenuhnya menjatuhkan pilihan," ucap Abdan.

Survei Indonesian Public Institute digelar 30 Januari 2026 hingga 5 Februari 2026 terhadap 1.241 responden yang merupakan masyarakat berusia 17-65 tahun dan berasal dari 35 provinsi di Indonesia.

Teknik sampel yang digunakan pada riset ini adalah sampel acak bertingkat atau multistage random sampling. Metode tersebut merupakan teknik di mana pemilihan sampel dilakukan dalam beberapa tahap dari unit besar ke unit yang lebih kecil, dan setiap tahap dilakukan secara acak.

Berdasarkan teknik itu, sampel berasal dari 35 provinsi di Indonesia yang terdistribusi secara proporsional. Sementara tingkat kesalahan alias margin of error dari ukuran sampel tersebut sebesar 2,78 persen pada tingkat kepercayaan ± 95 persen.(ant/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Nia Ramadhani Buka Suara Soal Isu Cerai dengan Ardi Bakrie yang Viral di Media Sosial
• 20 jam laluintipseleb.com
thumb
BI DKI: Lebih dari 36 Persen Transaksi QRIS Nasional Berasal dari Jakarta, Didominasi UMKM
• 14 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Seskab Teddy Ungkap Arahan Prabowo untuk TNI-Polri: Jaga SDA dan Tegakkan Hukum Seadil-adilnya
• 20 jam laluliputan6.com
thumb
Pesan Prabowo-Purbaya Buat Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Menkes: BPJS-PBI Penyakit Katastropik Otomatis Aktif Tiga Bulan
• 28 menit lalukompas.id
Berhasil disimpan.