Bulan Ramadan tahun ini segera tiba. Umat muslim selalu menanti hadirnya. Karena di bulan penuh berkah ini, Allah SWT melimpahkan begitu banyak rahmat kepada umat-Nya. Kemudahan mendapatkan pahala diberikan. Ampunan dosa juga dimudahkan.
Maka tidak salah bila masjid begitu makmur oleh muslim yang beribadah. Anak yatim dan panti asuhan begitu diperhatikan. Fakir miskin dirajakan dengan beragam santunan. Bahkan jam kerja dikurangi demi mengakodasi ibadah keagamaan.
Silaturahmi juga kian terjaga. Melalui jemaah rutin yang dijalankan. Pada kajian agama yang tak henti-hentinya dilaksanakan. Riuh rendah tawa dan ayat suci senantiasa terlantunkan. Sesekali juga tampak pemburu Princess Kompleks ikut tarawih mengincar sasaran.
Ramadan yang mewajibkan muslim berpuasa penuh selama satu bulan, tidak hanya sebatas perintah. Dari sisi kesehatan, puasa di Bulan Ramadan juga memiliki berbagai manfaat yang ditunjang oleh beberapa penelitian. Selain membantu detoksifikasi tubuh dan penurunan berat badan, puasa Ramadan dilaporkan memiliki pengaruh positif terhadap kesejahteraan mental, pengurangan stres, serta peningkatan fungsi psikologis pada banyak studi ilmiah. Sebagian penelitian menunjukkan bahwa puasa Ramadan dapat membantu mengurangi gejala depresi dan kecemasan serta meningkatkan kualitas hidup psikologis, meskipun efek terhadap kualitas tidur bisa bervariasi antar individu (Ahmed et al, 2026)
Tidak hanya itu, hadirnya Ramadan adalah pengungkit perputaran ekonomi. Data Mandiri Spending Index (MSI) pada Ramadan 2024 menunjukkan bahwa belanja masyarakat pada tiga minggu pertama naik sebesar 6,5 % dibanding sebelum Ramadan, dengan peningkatan terbesar terjadi pada kebutuhan fashion dan barang konsumtif lainnya (Elena (2024), pada Bisnis.com).
Memasuki Ramadan 2025 tahun lalu pun menunjukkan dinamika yang menarik. Dari laporan Bank Mandiri (2025), belanja masyarakat sempat tertahan di dua minggu pertama Ramadan. Namun pada minggu ketiga dan keempat konsumsi meningkat signifikan. Ini menjadi indikasi bahwa Ramadan tetap menjadi momen penting dalam perputaran ekonomi domestik.
Mengutip Untari (2023) pada ekonomi.bisnis.com, survei juga menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia mengakui bahwa pengeluaran mereka cenderung lebih besar saat Ramadan. Pengeluaran ini termasuk untuk zakat, sedekah, kebutuhan buka puasa, maupun belanja pakaian dan perlengkapan ibadah.
Secara kasat mata, penjual takjil dan resto yang selalu ramai menjelang buka buka puasa bisa menjadi gambaran peningkatan transaksi. Ramainya department store juga menjadi bukti. Kendaraan yang macet di jalanan karena mudik bisa menjadi saksi.
Selain dari sisi demand yang meningkat, dari sisi supply memang mendukung. Kucuran bonus dan tunjangan hari raya (THR) bagi pekerja, serta peningkatan cuan para pengusaha menjadi penopang berlarinya ekonomi.
Melihat begitu banyaknya manfaat Ramadan, muncul pertanyaan. Bagaimana kalau tiap bulan adalah Ramadan? Kalau itu terjadi, mungkin masjid akan selalu makmur, seluruh fakir miskin dan anak yatim dapat penuh perhatian, ekonomi berputar kencang dan berujung kesejahteraan.
Saya tidak pernah tahu apa yang Allah SWT rencanakan, hingga hanya menciptakan Ramadan hanya sekali dalam satu tahun. Dengan keterbatasan saya, mungkin Allah SWT berharap kesempatan ketemu Ramadan akan terus terucap dalam doa umat-Nya. Sehingga Ramadan akan terus dirindukan.
Selamat mempersiapkan diri menyambut ibadah di bulan Ramadan.





