Ragam Kinerja 2025 Bank Jumbo RI dari BBCA hingga BRIS dan Prospek 2026

bisnis.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah bank yang masuk ke kategori top 10 dari sisi aset telah mengumumkan kinerja keuangan sepanjang 2025, seperti BCA, Bank Mandiri, hingga BTN.

Tak dipungkiri, kinerja perbankan nasional pada tahun lalu menghadapi sejumlah tantangan, seperti ketidakpastian global yang dipicu oleh kebijakan tarif AS, hingga pelemahan daya beli di dalam negeri. Sejumlah tantangan ini berisiko menekan kinerja perbankan.

Dari beberapa bank besar yang telah merilis kinerja keuangan sepanjang 2025, ada yang mengalami pertumbuhan, ada pula yang mencatatkan penurunan. Mayoritas bank masih membukukan pertumbuhan dari sisi laba, meskipun angkanya berada di kisaran single digit.

Baca Juga : Moody's Pangkas Outlook 5 Bank Jumbo RI

Berikut rangkuman kinerja bank besar dari BCA, Mandiri, hingga BTN sepanjang 2025:

BCA

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 4,9% menjadi Rp57,5 triliun sepanjang 2025.

Selain itu, BCA secara konsolidasian mencatat pertumbuhan kredit 7,7% secara year on year menjadi Rp993 triliun per Desember 2025. Secara rata-rata pertumbuhan kredit BCA mencapai 10,8% sepanjang 2025.

Penyeluruhan kredit BCA terdistribusi ke berbagai sektor seperti manufaktur, perdagangan, restoran, hotel dan rumah tangga. BCA juga menyampaikan giro dan CASA naik 13,1% year on year (yoy) hingga mencapai Rp1.045 triliun.

Sementara, konsensus Bloomberg memproyeksi laba bersih BCA pada 2025 sekitar Rp57,7 triliun, meningkat dibandingkan realisasi 2024 yang diperkirakan berada di kisaran Rp54,8 triliun. Dengan demikian, laba bersih BCA diperkirakan tumbuh sekitar 5% secara tahunan (year on year/yoy).

BNI

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) meraup laba bersih tahun berjalan sebesar Rp20,11 triliun hingga Desember 2025. Raihan tersebut menyusut 7,15% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp21,66 triliun.

Dikutip dari laporan kinerja perseroan yang dipublikasikan, bank dengan logo 46 itu membukukan pendapatan bunga sebesar Rp69,39 triliun, meningkat 4,22% YoY dari tahun sebelumnya Rp66,58 triliun. Pada saat yang sama, beban bunga juga naik 11,33% YoY menjadi Rp29,06 triliun.

Dengan realisasi tersebut, pendapatan bunga bersih yang diperoleh BNI sepanjang 2025 mencapai Rp40,33 triliun, turun tipis 0,36% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp40,48 triliun.

Adapun laba operasional menyusut 8,19% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp26,57 triliun menjadi Rp24,39 triliun sepanjang 2025. Di sisi lain, laba non operasional BNI mencapai Rp1,83 miliar, setelah sebelumnya membukukan rugi sebesar Rp3,79 miliar.

Dari sisi intermediasi, bank pelat merah ini membukukan pertumbuhan kredit sebesar Rp899,53 triliun, meningkat 15,94% YoY dibanding tahun lalu. Sepanjang 2024, BNI menyalurkan kredit senilai Rp775,87 triliun.

Kemudian dari sisi penghimpunan dana, BNI mencatatkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.040,83 triliun, meningkat 29,21% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp805,51 triliun.

Bank Mandiri

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik senilai Rp56,3 triliun secara konsolidasi pada 2025. Angka ini naik 0,93% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp55,78 triliun.

Pada periode yang sama, BMRI membukukan kredit senilai Rp1.895 triliun atau naik 13,4% YoY. Pada sisi himpunan dana pihak ketiga (DPK) tercatat senilai Rp2.106 triliun atau naik 23,9% YoY dengan pertumbuhan dana murah sebesar 12,6% YoY senilai Rp1.431 triliun.

Realisasi kredit tersebut ditopang oleh pertumbuhan yang merata di seluruh segmen bisnis. Kredit UMKM Bank Mandiri tumbuh 4,88% YoY sepanjang 2025, di saat pertumbuhan secara industri melambat.

Pendapatan bunga bersih Bank Mandiri tercatat senilai Rp106 triliun atau naik 4,38% YoY dengan pendapatan non-bunga senilai Rp48,5 triliun atau naik 14,5% YoY.

Dari sisi rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tercatat sebesar 0,96% secara bank only dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 20,4%. Aset perseroan ikut tumbuh sebesar 16,6% YoY dari Rp2.427,22 triliun menjadi Rp2.829,95 triliun.

Angka margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) tercatat sebesar 4,89%. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan realisasi akhir 2024 yang sebesar 5,15%.

BSI

Berdasarkan paparan kinerja 2025, laba bersih BSI tumbuh sebesar 8,02% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp7,56 triliun. Realisasi itu meningkat dibandingkan 2024 yang hanya sebesar Rp7,00 triliun.

Direktur Keuangan dan Strategi BSI Ade Cahyo Nugroho menyampaikan, capaian positif ini tidak lepas dari pertumbuhan sejumlah komponen, salah satunya fee based income. Tercatat fee based income BSI tumbuh 25,06% YoY menjadi Rp6,89 triliun dari tahun lalu Rp5,51 triliun.

“Peningkatan fee-based income ini memang secara lebih detail dikontribusi oleh produk-produk baru kita, terutama yang berkaitan dengan emas,” kata Cahyo dalam Konferensi Pers Kinerja Tahun 2025 BSI secara daring, Jumat (6/2/2026).

Di sisi lain, peningkatan profitability juga didorong oleh penurunan cost of fund. Penurunan cost of fund secara tahunan ini, kata dia, salah satunya didorong oleh pertumbuhan tabungan haji.

Seiring dengan penurunan cost of fund, Cahyo mengatakan bahwa dana pihak ketiga (DPK) perseroan tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pembiayaan.

Dalam paparannya, DPK perseroan tumbuh 16,20% YoY menjadi Rp380,48 triliun dari tahun lalu sebesar Rp327,45 triliun. Di sisi lain, pembiayaan mencapai Rp318,84 triliun, tumbuh 14,49% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp278,48 triliun.

BTN

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) membukukan laba bersih konsolidasian senilai Rp3,5 triliun dengan aset mencapai Rp527,79 triliun, tumbuh 12,4% secara tahunan (year on year/YoY).

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyampaikan kinerja yang positif ini merupakan hasil kerja keras atas penerapan strategi bisnis yang cermat serta pengelolaan keuangan yang sehat dan disiplin.

Nixon menuturkan, pencapaian laba bersih perseroan ditopang oleh pendapatan bunga yang naik 23% YoY menjadi Rp36,33 triliun hingga akhir 2025, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp29,55 triliun. Pada saat yang sama, beban bunga naik tipis yaitu 0,4% YoY menjadi Rp17,91 triliun per akhir 2025 dari tahun sebelumnya yakni Rp17,84 triliun.

Dari pencapaian itu, BTN membukukan pendapatan bunga bersih yang naik 57,5% menjadi Rp18,42 triliun pada akhir 2025 dibandingkan Rp11,7 triliun pada tahun 2024.

Dari sisi intermediasi, BTN membukukan penyaluran kredit dan pembiayaan sebesar Rp400,57 triliun atau tumbuh sebesar 11,9% YoY. Nixon menjelaskan, mayoritas kredit BTN disalurkan ke sektor perumahan, dengan penyaluran kreditnya mencapai Rp328,4 triliun hingga Desember 2025, tumbuh 7,5% YoY dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp305,5 triliun.

Kemudian dari sisi penghimpunan dana, total dana pihak ketiga (DPK) konsolidasian tumbuh 14,6% YoY menjadi Rp437,39 triliun pada akhir tahun lalu, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp381,66 triliun.

OCBC NISP

PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) membukukan laba bersih setelah pajak senilai Rp5,1 triliun sepanjang 2025, meningkat 4% secara tahunan (year on year/YoY) dari periode yang sama tahun lalu Rp4,9 triliun.

Capaian positif itu utamanya ditopang oleh kenaikan pendapatan operasional sebesar 10% menjadi Rp13,1 triliun hingga Desember 2025.

Dari sisi intermediasi, OCBC NISP tercatat menyalurkan kredit sebesar Rp173,4 triliun. Realisasi itu meningkat 2% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kualitas kredit OCBC NISP tetap terjaga baik. Hal tersebut tercermin dari rasio NPL Gross yang terkendali di level 1,9%. Rasio pencadangan NPL juga memadai sebesar 226,0%.

Sementara itu, kondisi likuiditas bank juga tetap berada pada posisi yang baik. Pada 2025, Liquidity Coverage Ratio (LCR) tercatat sebesar 240,9%. Dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun perseroan tumbuh 18% YoY menjadi Rp243,5 triliun, dari tahun lalu Rp205,9 triliun.

Pertumbuhan DPK sepanjang 2025 ini utamanya ditopang oleh pertumbuhan giro dan tabungan (Current Account Saving Account/CASA) sebesar 24% YoY menjadi Rp141,1 triliun. Peningkatan tersebut mendorong rasio CASA naik menjadi 58,0% dibandingkan 55,3% pada tahun sebelumnya.

Dari sisi permodalan, tingkat kecukupan modal bank (Capital Adequacy Ratio/CAR) juga meningkat menjadi 24,5% dari 23,6% pada tahun sebelumnya, memberikan ruang yang memadai untuk mendukung pertumbuhan usaha ke depan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bek Muda Bali United, Rahmat Arjuna Minta Maaf kepada Suporter, Bertekad Bangkit Saat Jamu Persija
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Biorefinery Cilacap Olah Jelantah Jadi Bioavtur untuk Langit Biru Indonesia
• 20 jam lalukatadata.co.id
thumb
Bekuk Wakil Brasil, Janice Tjen Jumpa Ranking 2 Dunia di Babak Kedua Qatar Open 2026
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Komisi I DPR Setujui RI Terima Hibah 1,9 M Yen, Setara 4 Kapal Patroli
• 4 jam laludetik.com
thumb
Dipicu Cekcok dengan Suami, Istri di Buton Nekat Bakar Rumah Sendiri | BERUT
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.