Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (10/2/2026). Diprediksi pada perdagangan hari ini mata uang Indonesia akan ditutup menguat di tengah sentimen global dan domestik yang menyertai pasar.
Melansir Bloomberg pukul 9.08 WIB, rupiah terapresiasi 0,04% atau 7 poin ke Rp16.798 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS juga menguat 0,11% ke 96,91.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah hari ini akan ditutup menguat di rentang Rp16.760 sampai Rp16.800 per dolar AS. Kemarin, Senin (9/2), rupiah ditutup menguat 71 poin ke Rp16.805 per dolar AS.
Ibrahim menjelaskan sejumlah sentimen yang mempengaruhi gerak rupiah di pasar uang. Dari global, pasar akan tertuju pada perkembangan konflik geopolitik Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
"Kekhawatiran akan konflik telah membuat para pedagang memberikan premi risiko yang lebih besar pada minyak, dengan Trump juga mengancam tindakan militer terhadap Teheran. Namun, kemungkinan perang habis-habisan di Timur Tengah sekarang tampak lebih kecil, meskipun Teheran memberi sinyal bahwa mereka akan tetap melanjutkan program pengayaan nuklirnya," kata Ibrahim, Selasa (10/2/2026).
Sentimen berikutnya datang dari data perekonomian global. Ibrahim mengatakan fokus minggu ini juga pada sejumlah data ekonomi penting dari konsumen minyak terbesar di dunia. Di AS, data penggajian non-pertanian untuk Januari akan dirilis pada hari Rabu (11/2), sementara data indeks CPI akan dirilis pada hari Jumat (13/2).
Ibrahim mengatakan data-data tersebut akan dipantau secara cermat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai suku bunga, sementara pasar juga masih mengukur prospek kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Warsh.
Pelaku pasar juga mencermati perkembangan ekonomi regional. Di China, kata Ibrahim, data CPI bulan Januari akan dirilis pada hari Jumat. Data ini sangat ditunggu mengingat China merupakan importir minyak terbesar di dunia.
"Data tersebut dirilis tepat sebelum China memasuki liburan Tahun Baru Imlek selama seminggu, sebuah peristiwa yang diperkirakan akan mendorong peningkatan permintaan bahan bakar di negara tersebut," tandasnya.
Sementara untuk sentimen domestik, sejumlah data ekonomi dan proyeksi target penerimaan pajak negara menjadi fokus perhatian pasar. Menteri Keuangan sendiri memperkirakan penerimaan pajak 2026 bisa melampaui target yang ditetapkan pada APBN yakni Rp2.357,7 triliun. Di sisi lain, Ibrahim melihat basis pertumbuhan penerimaan pajak tahun lalu cenderung rendah sehingga turut menjadi sorotan lembaga pemeringkat asing.
Dalam APBN 2026, target penerimaan pajak tahun ini sebesar Rp2.357,7 triliun atau tumbuh 7,69% YoY dari target APBN 2025 sebesar Rp2.189,3 triliun. Masalahnya, realisasi penerimaan pajak tahun lalu hanya Rp1.917,6 triliun sehingga terjadi shortfall sebesar Rp271,7 triliun. Artinya, basis pertumbuhan dari realisasi tahun lalu untuk mengejar target tahun ini menjadi lebih tinggi yakni 22,9% YoY.
"Dengan kata lain, pemerintah harus mengejar tambahan setoran Rp440,1 triliun untuk mencapai target 2026 dari basis realisasi 2025," ujarnya.
Sementara itu, data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru menunjukkan kenaikan 3,5 poin, dari 123,5 pada Desember 2025 menjadi 127 pada Januari 2026. Level IKK ini menjadi yang tertinggi dalam setahun terakhir atau sejak Januari 2025, yaitu 127,2.





