Racun dari Dapur? Profesor Kesehatan Bagikan Strategi Memilih Peralatan Masak yang Lebih Aman

erabaru.net
7 jam lalu
Cover Berita

Perubahan kecil dalam cara memasak serta apa yang kita makan dapat memberikan manfaat kesehatan yang berarti dalam jangka panjang.

Peralatan masak yang kita gunakan, piring tempat kita makan, dan makanan yang kita konsumsi setiap hari mungkin terlihat sepele, tetapi semuanya bisa menjadi sumber racun kronis yang signifikan.

Han Bocheng, profesor kehormatan kesehatan masyarakat di Taipei Medical University, yang telah hidup dengan kondisi baik selama lebih dari satu dekade setelah didiagnosis kanker hati stadium lanjut, membagikan sarannya tentang cara memilih peralatan masak dan makanan yang tepat untuk mengurangi paparan racun. Ia menyampaikannya dalam program “Health 1+1” di NTD Television, media saudara The Epoch Times.

Ancaman Wajan Antilengket

Han telah hidup lebih dari satu dekade sejak diagnosis kanker hati stadium lanjutnya, termasuk kekambuhan pada 2012. Meski dua pertiga hatinya telah diangkat, ia mengatakan kesehatannya justru terasa semakin baik seiring waktu.

Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan gaya hidup rendah racun, dan menekankan bahwa penggunaan peralatan masak bebas racun adalah kunci penting.

Wajan antilengket telah lama menjadi perlengkapan dapur favorit, namun kenyamanan itu memiliki potensi risiko. Secara historis, lapisan antilengket dibuat menggunakan perfluorooctanoic acid (PFOA) dan perfluorooctane sulfonic acid (PFOS)—keduanya termasuk kelompok PFAS (perfluoroalkyl and polyfluoroalkyl substances), yang dikenal sebagai “bahan kimia abadi”.

American Cancer Society mencatat bahwa paparan PFOA yang meningkat dapat dikaitkan dengan risiko kanker testis dan ginjal. PFOS diklasifikasikan sebagai “kemungkinan bersifat karsinogenik bagi manusia” (Kelompok 2B) oleh International Agency for Research on Cancer.

Han membagikan dua kasus:

Seorang pengusaha yang lama beraktivitas di luar negeri kembali ke Taiwan untuk berobat kanker ginjal dan kandung kemih. Pemeriksaan menunjukkan kadar PFOS dalam tubuhnya jauh di atas normal. Dokter menelusuri sumbernya ke penggunaan jangka panjang wajan antilengket dengan lapisan yang rusak.

Dalam kasus lain, seorang perempuan penderita kanker hati yang memasak menggunakan wajan antilengket tergores menunjukkan kadar PFAS yang sangat tinggi. Ketika lapisan yang rusak dipanaskan, zat berbahaya dapat terlepas dan meresap ke dalam makanan, meningkatkan risiko kanker hati dan penyakit kronis lainnya.

Meski Amerika Serikat telah menghentikan penggunaan PFOA dan PFOS, produk dari negara lain mungkin masih mengandungnya. Paparan juga dapat terjadi melalui barang impor atau residu lingkungan.

Saat ini, wajan antilengket umumnya menggunakan lapisan polytetrafluoroethylene (PTFE) dengan PFOA digantikan oleh bahan kimia lain. Namun, sejumlah studi menunjukkan bahwa bahan pengganti tersebut mungkin membawa risiko serupa.

Jebakan Suhu

Wajan berlapis PTFE tidak boleh digunakan pada suhu tinggi. Ketika suhu memasak melebihi 500°F (sekitar 260°C)—yang mudah tercapai jika wajan dipanaskan kosong selama beberapa menit—PTFE mulai melepaskan gas berbahaya. Di atas 662°F (sekitar 350°C), lapisan mulai terurai dan mengeluarkan gas yang menimbulkan risiko kesehatan serius.

Jika terpaksa menggunakan wajan antilengket, Han menyarankan langkah-langkah berikut:

Alternatif yang Lebih Unggul

Han mengatakan ia utama menggunakan peralatan masak stainless steel. Bahan ini sangat tahan lama dan tidak memiliki lapisan. Peralatan stainless steel miliknya telah digunakan dengan andal selama lebih dari 20 tahun.

Namun, tidak semua stainless steel sama. Han menyarankan memperhatikan kelas (grade):

Memilih Porselen dan Peralatan Makan yang Aman

Saat memilih wadah porselen seperti mangkuk dan piring, Han mengikuti aturan sederhana: “Pilih sebanyak mungkin area berwarna putih.” Ia menyarankan permukaan yang bersentuhan langsung dengan makanan berwarna polos, karena cat atau glasir dekoratif bisa mengandung residu logam berat.

Jika digunakan untuk makanan panas atau asam, bahan beracun lebih mudah larut. Buang segera mangkuk atau piring yang tergores, terkelupas, atau retak untuk mengurangi risiko pelindian zat berbahaya serta pertumbuhan bakteri atau jamur.

Kisah Peringatan: Keracunan Timbal dari Peralatan Keramik

Canadian Medical Association Journal melaporkan kasus keracunan timbal pada seorang perempuan 55 tahun yang dirawat akibat nyeri perut hebat disertai mual, muntah, dan kelelahan. Kadar timbal dalam darahnya 36 kali di atas batas normal. Putranya yang tinggal bersamanya juga menunjukkan kadar timbal tinggi.

Setelah penelusuran, dokter menemukan bahwa mereka menggunakan panci dan cangkir keramik dari Meksiko untuk merebus air, memasak, dan minum teh. Meski bahan keramiknya tidak mengandung timbal, glasir di bagian dalam dan luar mengandung 17 persen timbal berdasarkan berat.

Dokter menyarankan segera menghentikan penggunaan peralatan tersebut. Setelah tiga bulan, anemia, nyeri perut, nyeri sendi, dan kelelahan pasien berangsur membaik. Laporan itu mencatat bahwa peralatan keramik berlapis timbal dari Meksiko, Tiongkok, dan beberapa negara Eropa merupakan sumber umum keracunan timbal dalam praktik klinis.

Belanja Cerdas dan Prinsip Pola Makan

Selain memilih peralatan masak dan makan dengan cermat, Han membagikan tips berikut untuk bahan makanan sehari-hari:

1. Belanja di Pasar Tradisional
Tidak harus selalu berbelanja di toko organik. Han sering membeli bahan utuh di pasar tradisional, di mana buah dan sayur cenderung lebih segar dan tahan lebih lama. Supermarket besar juga memiliki proses pemeriksaan yang andal.

2. Terapkan “9 Warna”
Konsumsi buah dan sayur segar dengan spektrum warna luas: merah, oranye, kuning, hijau, biru, nila, ungu, hitam, dan putih. Variasi ini memberi beragam nutrisi yang meningkatkan kapasitas antioksidan dan antiinflamasi tubuh.

3. Jaga Pola Makan Seimbang
Gaya hidup rendah racun Han menekankan keseimbangan, bukan mengejar “ketepatan ilmiah” berlebihan yang justru menambah stres. Sesekali makan makanan kurang sehat masih dapat diterima, selama tubuh diberi kesempatan kembali seimbang di waktu lain—misalnya, setelah makan daging berat, pilih menu ringan kaya buah dan sayur keesokan harinya.

Filosofi Gaya Hidup Rendah Racun

Inti dari gaya hidup rendah racun Han adalah mengurangi paparan polusi kimia dan residu beracun dari produk dan makanan sehari-hari, sambil berinvestasi pada pilihan yang lebih sehat—sebuah pendekatan preventif untuk melindungi kesehatan jangka panjang.

1. Berinvestasi pada Peralatan Masak Berkualitas
Berbeda dengan wajan antilengket yang perlu sering diganti (sering kali lebih dari USD 100 per tahun), Han menyarankan investasi pada peralatan berkualitas. Panci stainless steel miliknya yang dibeli sekitar USD 600 telah bertahan lebih dari 20 tahun, terbukti hemat dan lebih aman.

2. Pilih Peralatan Makan Sederhana
Pilih porselen polos ketimbang yang berwarna cerah atau dicat. Meski tampak sederhana, risikonya terhadap logam berat lebih rendah.

3. Kurangi Makanan Olahan
Teh susu krimer, kue, keripik, es krim, minuman bersoda, dan mayones mengandung banyak aditif. Menguranginya menurunkan beban kimia yang tidak perlu pada tubuh.

Memperkuat Sistem Detoks Alami Tubuh

Racun ada di mana-mana di lingkungan modern dan sulit dihindari sepenuhnya. Karena itu, memperkuat sistem detoks alami tubuh menjadi strategi penting.

Han menjelaskan bahwa buang air besar, buang air kecil, berkeringat, dan bernapas adalah proses yang membantu metabolisme dan pembuangan limbah. Mengonsumsi sayur, buah, dan biji-bijian utuh yang kaya nutrisi serta serat efektif mendukung metabolisme dan detoksifikasi.

“Mulailah dari makanan yang baik, air yang baik, peralatan masak yang baik, dan suasana hati yang baik,” kata Han.
“Bahkan perubahan 5 persen pun bisa membawa dampak besar—menciptakan efek kupu-kupu.”


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jadwal Pertandingan Tanjung Verde Sebelum Berlaga di Piala Dunia 2026: Ada Timnas Indonesia?
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Thomas Djiwandono Dilantik, Cek Susunan Terbaru Dewan Gubernur BI
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
PBI-JKN Nonaktif, Keluarga Pasien Talasemia di Lampung Khawatir Pengobatan Terputus
• 23 jam lalukompas.id
thumb
Perbankan China Diminta Kurangi Eksposur terhadap Treasury AS
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Percepat Pemulihan Pascabencana Sumatera, Mendagri–BPS Bahas Data Tunggal
• 19 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.