Bukan Mengekang, Aturan Gawai pada Remaja Bertujuan Latih Kontrol Diri

mediaindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita

PEMBATASAN dan aturan penggunaan gawai pada remaja usia SMA sering kali dianggap sebagai bentuk pengekangan. Namun, Psikolog Klinis Virginia Hanny, M.Psi., menegaskan bahwa langkah tersebut sebenarnya bertujuan untuk membantu remaja belajar mengatur kebiasaan digital secara sehat.

Menurut Virginia, pendekatan yang paling tepat bagi remaja bukanlah pelarangan total, melainkan pendampingan yang seimbang. 

"Yang dibutuhkan bukan larangan total melainkan pendampingan dan pengaturan yang seimbang," ujar Virginia, dikutip Selasa (10/2).

Baca juga : Pendekatan Berbasis Fungsi: Kunci Mengatur Waktu Layar Remaja

Alasan Biologis di Balik Pendampingan

Meskipun remaja SMA mulai menunjukkan kemandirian, pendampingan dalam penggunaan ponsel tetap krusial. 

Secara biologis, perkembangan otak remaja masih membutuhkan arahan orang dewasa untuk melatih kemampuan mengatur diri, menahan keinginan, dan mengambil keputusan yang matang.

Virginia memperingatkan bahwa larangan total justru membawa risiko negatif. Anak yang dilarang menggunakan gawai sepenuhnya berpotensi tertinggal informasi, sulit beradaptasi dalam pergaulan, hingga kurang memiliki keterampilan digital yang dibutuhkan di masa depan.

Baca juga : Pendekatan Edukatif: Kunci Keberhasilan Pembatasan Gawai di Sekolah

Kunci Pembatasan Efektif: Kolaborasi

Agar aturan dapat berjalan efektif, orangtua perlu menerapkan pola asuh yang masuk akal dan kolaboratif. 

Virginia menyarankan agar orang tua menetapkan waktu bebas ponsel, seperti saat makan bersama atau sebelum tidur. Selain itu, penting untuk membedakan durasi penggunaan ponsel untuk keperluan pendidikan dan hiburan.

Poin utamanya adalah melibatkan anak dalam pembentukan aturan tersebut. 

"Pendekatan seperti ini dapat membuat remaja lebih kooperatif dan lebih mau mematuhi aturan, daripada peraturan itu hanya datang dari kita sendiri dan kita hanya menginstruksikan anak untuk mengikutinya tanpa penjelasan," jelasnya.

Komunikasi yang sehat harus mengedepankan transparansi dan rasa saling menghargai. Orangtua diharapkan memberikan alasan logis di balik setiap aturan dan membangun kepercayaan tanpa sikap posesif, seperti menghindari kebiasaan memeriksa ponsel anak tanpa izin. 

Penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang hangat namun tegas akan membentuk remaja yang lebih terbuka, sehat secara emosional, dan bertanggung jawab.

Peran Lingkungan Sekolah

Tidak hanya di rumah, pembatasan ponsel di sekolah juga dinilai efektif meningkatkan fokus dan interaksi sosial jika diterapkan secara adil. Virginia menekankan bahwa aturan di sekolah sebaiknya tidak diposisikan sebagai hukuman.

Sebagai contoh, ponsel dapat disimpan selama jam pelajaran berlangsung, namun siswa tetap diizinkan mengaksesnya saat istirahat untuk kebutuhan mendesak. 

Di sisi lain, sekolah juga perlu menyediakan aktivitas alternatif yang menarik agar siswa tidak merasa jenuh.

Dengan menciptakan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata, proses belajar siswa diharapkan dapat berjalan lebih lancar sekaligus mendukung kesejahteraan emosional mereka di masa transisi menuju dewasa. (Ant/Z-1)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Diet Mediterania Pangkas Risiko Stroke pada Perempuan hingga 25 Persen
• 7 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Tiga Bintang Sabuk Orion Lebih Terang dari Matahari hingga 200 Ribu Kali
• 8 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Kompetisi Futsal RI Kerja Sama dengan Palma, Naikkan Standar Liga
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Wajah Baru Bursa Capres 2029: Selain Sjafrie & Purbaya, Ada Sherly Tjoanda
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Misteri Kematian PPPK RSPAU Halim: 6 Fakta yang Terungkap Sejauh Ini
• 28 menit lalusuara.com
Berhasil disimpan.